Saya mencemaskan, kerusakan ini akan semakin meluas di Sungai lainnya dan berimbas buruk terhadap kehidupan hari ini dan seterusnya. Maka harusnya, Menjaga DAS bukan pilihan, melainkan keharusan jika kita ingin meninggalkan warisan hidup yang layak bagi generasi berikutnya
BUNGO, NUSADAILY.ID – Ketua Yayasan Pendidikan Mandiri Muara Bungo, Andriansyah, S.E., M.Si., mengungkapkan keprihatinan mendalam atas kondisi ekosistem Daerah Aliran Sungai (DAS) di Kabupaten Bungo yang terus mengalami degradasi. Ia menegaskan bahwa persoalan ini tidak hanya soal lingkungan, tetapi juga menyangkut masa depan sosial-ekonomi masyarakat.
“Ekosistem DAS di Bungo membutuhkan perhatian serius dan tindakan segera. Jika dibiarkan tanpa intervensi, kerusakan akan semakin parah dan berdampak langsung pada kehidupan masyarakat, apa lagi airnya tercemar dan air tercemar ini di gunakan sebagai bahan baku PDAM yang di alirkan di Bungo” ujar Andriansyah, Sabtu (16/08/2025).
Sebagai Ketua Yayasan yang menaungi Universitas Muara Bungo, Andriansyah menyoroti minimnya kesadaran kolektif dan lemahnya penegakan regulasi terhadap aktivitas yang mengancam keberlanjutan DAS, mulai dari alih fungsi lahan hingga praktik pertambangan ilegal. Ia menekankan bahwa pemerintah daerah dan masyarakat harus duduk bersama mencari solusi konkret, baik melalui kebijakan berbasis data, program konservasi, maupun penguatan pengawasan.
Temuan lapangan memperkuat kekhawatiran ini. Penelitian Hertati dkk. (2017–2024) mencatat bahwa kualitas Sungai Batang Bungo, yang merupakan tulang punggung ekosistem DAS setempat, kian tertekan akibat penambangan emas tanpa izin (PETI) dan pencemaran merkuri. Dari 15 hingga 18 spesies ikan yang diidentifikasi, sejumlah jenis endemik seperti juaro, tilan, dan tapah kero telah sulit ditemukan. Bahkan, kadar merkuri di beberapa titik tercatat mencapai 0,092 ppm, jauh di atas ambang batas aman 0,001 ppm.
Penelitian yang sama juga menggarisbawahi peran penting lubuk larangan, kawasan konservasi adat yang terbukti menjaga keanekaragaman ikan meski terdesak oleh aktivitas manusia. Di Lubuk Manik, misalnya, masih terdata hingga 18 spesies ikan dari 8 famili, dengan dominasi Cyprinidae seperti lampam, tenggalan, dan sebarau.
Kondisi DAS Bungo, menurut Andriansyah, kini berada di titik rawan. “Setiap kerusakan yang terjadi di DAS bukan hanya mengganggu keseimbangan ekologi, tetapi juga menekan ketahanan pangan, ketersediaan air bersih, hingga menambah risiko bencana banjir dan longsor,” tambahnya.
Pesan Andriansyah sejalan dengan tren global di mana lembaga akademik dan komunitas sipil semakin vokal mendesak peran pemerintah dalam menghadapi krisis ekologis. Ia menutup pernyataannya dengan ajakan kolaborasi lintas sektor:
“Saya mencemaskan, kerusakan ini akan semakin meluas di Sungai lainnya dan berimbas buruk terhadap kehidupan hari ini dan seterusnya. Maka harusnya, Menjaga DAS bukan pilihan, melainkan keharusan jika kita ingin meninggalkan warisan hidup yang layak bagi generasi berikutnya.”
Jurnalis: Ang/Bintang34/*
Narasumber: Andriansyah
Referensi:
Patri. Hertati. Djunaidi 2019. Studi kualitas Air dan keanekaragaman jenis ikan di suaka perikanan (Reservat) lubuk manik rantau pandan kabupaten Bungo. Semah jurnal pengelolaan sumber daya perairan vol. 3 No. 1
Oktawan. Hertati. Budiyono. 2017. Identifikasi dan keanekaragaman jenis ikan yang tertangkap di Sungai Batang Bungo Kabupaten Bungo Provinsi Jambi. Semah Jurnal Pengelolaan Sumberdaya Perairan vol. 1 No. 2
Hilangnya beberapa jenis ikan di Sungai Batang Bungo di Duga karena Aktifitas masyarakat di sepanjang aliran Sungai salah satunya adanya kegiatan Tambang galian B (PETI).
Hasil uji kualitas air bagian hilir Sungai Batang Bungo di Dusun Tebat di dapatkan untuk nilai Hg (logam berat/ merkuri) 0.092 ppm jika dibandingkan dengan baku mutu air PP No 82 tahun 2001 dan PP No. 22 tahun 2021, kelas 1 dan 3. Maka dikategorikan tercemar Barat.