Gelap di Pangean Atas: Menanti Terang di Ujung Tanjung

Posted on

BUNGO, NUSADAILY.ID – Indonesia merayakan 80 tahun kemerdekaan dengan gegap gempita. Di kota-kota besar, langit dipenuhi kembang api, jalanan dihiasi bendera, dan masyarakat larut dalam parade penuh warna. Namun, di sebuah dusun kecil di Kabupaten Bungo, Jambi, suasana berbeda terasa begitu kuat, Senin (18/08/2025).

Di Kampung Pangean Atas, Dusun Ujung Tanjung, Kecamatan Jujuhan, sekitar 50 kepala keluarga hidup dalam kegelapan. Sejak bertahun-tahun lalu, mereka menanti aliran listrik yang tak kunjung datang, meski tiang-tiang PLN sudah lama berdiri di tepi jalan kampung.

Menurut salah satu Tokoh Masyarakat di Ujung Tanjung, Abu Yazid menegaskan keadaan tersebut, bahkan warga menyebutkan; berbagai upaya dan pengajuan telah dilakukan sejak lama. Pemasangan tiang listrik sempat dilakukan beberapa tahun silam, tetapi hingga kini jaringan listrik belum tersambung. Warga pun terpaksa bertahan dengan penerangan seadanya, menggunakan pelita, lampu minyak, atau genset pinjaman.

Merah Putih di Tiang Mati

Kekecewaan itu akhirnya diwujudkan dalam sebuah simbol sederhana, namun penuh makna. Menjelang peringatan Hari Ulang Tahun Republik Indonesia ke-80, warga mengibarkan bendera merah putih di salah satu tiang PLN.

“Itu warga kami yang pasang bendera merah putih di salah satu tiang PLN,” kata Muhammad Saleh, warga Kampung Pangean Atas.

Bendera itu berkibar, bukan hanya sebagai tanda kebanggaan nasional, melainkan juga sebagai bentuk protes halus. Di saat bangsa merayakan kemerdekaan, warga desa ini justru merasa belum merdeka dari kegelapan.

“Sampai sekarang belum juga teraliri listrik. Sudah lama kami usulkan, tapi sampai hari ini tidak ada tindak lanjut. Baru tiang-tiangnya saja yang berdiri,” cetus sumber.

Usaha yang Belum Berbuah

Pemerintah setempat menyadari keresahan warga. Camat Jujuhan, Iwan Kurniawan, saat dimintai tanggapan, mengatakan bahwa pihaknya telah melakukan berbagai usaha dan menggelar pertemuan di tingkat kabupaten untuk meminta penuntasan persoalan tersebut.

“Kami sudah melakukan berbagai usaha, sejak tahun 2023 dan 2024, 2025 dan sudah dilaksanakan beberapa pertemuan di tingkat kabupaten melalui asisten 2 dan Kabag SDA Setda Bungo,” ujar Iwan Kurniawan, Senin (18/8/2025).

Pernyataan ini menunjukkan bahwa koordinasi sudah lama dilakukan, tetapi hasil yang ditunggu warga belum juga terlihat.

Janji Tahun 2025

Terpisah, Kabag SDA Setda Bungo, Dasmardi, menyampaikan bahwa pemasangan jaringan listrik di Kampung Pangean Atas dijanjikan oleh pihak PLN akan direalisasikan pada tahun 2025. Namun hingga kini, janji itu masih sebatas rencana.

Dasmardi menjelaskan, Pemkab Bungo sebelumnya telah melakukan rapat koordinasi dengan instansi terkait seperti Dinas ESDM Provinsi Jambi, PLN UP2K Jambi, dan berkoordinasi dengan Kementerian ESDM RI.

“Anggaran untuk pembangunan jaringan listrik di Kampung Pangean Atas tersebut sudah diusulkan ke PLN Pusat maupun Kementerian ESDM RI oleh PLN UP2K Jambi. Dan informasi dari PLN UP2K Jambi akan direalisasikan pembangunan jaringan listrik tersebut pada Tahun 2025 ini,” tukasnya.

Kehidupan dalam Gelap

Bagi warga, listrik bukan sekadar penerangan, melainkan kebutuhan mendasar. Tanpa listrik, anak-anak belajar dengan cahaya redup yang melelahkan mata. Aktivitas ekonomi desa pun terbatas karena usaha kecil yang membutuhkan daya listrik tidak bisa berjalan.

“Kalau malam gelap sekali, anak-anak belajar pakai pelita. Kasihan, kadang mereka cepat lelah,” ujar seorang ibu rumah tangga.

Kondisi ini menjadi ironi di tengah klaim pemerintah tentang rasio elektrifikasi yang hampir 100 persen. Di atas kertas, hampir semua warga Indonesia disebut sudah menikmati listrik. Namun realitas di Pangean Atas menunjukkan celah nyata antara data dan kehidupan di lapangan.

Kemerdekaan yang Belum Sempurna

Kisah Pangean Atas adalah potret kecil dari persoalan besar: masih ada warga negara yang belum merasakan hak dasar meski delapan dekade sudah merdeka. Bendera merah putih di tiang mati itu bukan sekadar simbol protes, melainkan seruan agar negara hadir lebih nyata.

Bagi mereka, janji PLN tentang tahun 2025 adalah harapan yang disambut dengan hati-hati. Sudah terlalu sering janji terdengar tanpa realisasi. “Mudah-mudahan kali ini benar-benar terlaksana,” ucap seorang warga dengan nada ragu.

Di tengah euforia perayaan kemerdekaan, kisah ini menjadi pengingat bahwa makna kemerdekaan sejati bukan hanya pesta dan parade. Kemerdekaan adalah ketika seluruh rakyat, dari pusat kota hingga pelosok desa, bisa hidup dengan terang yang sama.

Jurnalis: ASAD/Bintang34/*

Sumber: www.jambiupdate.co
Disusun oleh: Redaksi / nudadaily.id

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *