Sosial

Longsor Sampah Bantar Gebang Tegangkan Keselamatan, 4 Tewas dan Puluhan Tertimbun

Longsor sampah di TPST Bantar Gebang, Bekasi, menewaskan empat orang dan menimbulkan kekacauan. Penyelamatan masih berlangsung, penyebab dipicu hujan lebat.

N

Nusa Daily

Longsor Sampah Bantar Gebang Tegangkan Keselamatan, 4 Tewas dan Puluhan Tertimbun. Gambar: CNBC Indonesia
Longsor Sampah Bantar Gebang Tegangkan Keselamatan, 4 Tewas dan Puluhan Tertimbun. Gambar: CNBC Indonesia

Bekasi, NusaDaily.ID — Pada Minggu, 8 Maret 2026, zona 4 Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantar Gebang, Kota Bekasi, mengalami longsor besar yang menutupi warung, truk, dan beberapa infrastruktur kecil. Empat korban tewas teridentifikasi, sementara tim SAR terus mencari korban yang mungkin masih tertimbun.

Detail Kejadian dan Penyebab

Menurut laporan Dantim Unit Siaga SAR Bekasi, MC Ryan, longsor terjadi sekitar pukul 13.30 WIB setelah intensitas curah hujan tinggi selama tiga hari terakhir. Hujan deras menambah berat gundukan sampah yang sudah tidak stabil, memicu runtuhnya tumpukan sampah setinggi lebih dari 15 meter di zona 4, tepatnya di Kelurahan Ciketing Udik, Kecamatan Bantar Gebang.

Data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menunjukkan bahwa wilayah Bekasi mencatat curah hujan 150 mm dalam 24 jam terakhir, jauh di atas rata-rata bulanan. Kombinasi antara volume sampah yang terus meningkat dan kurangnya sistem drainase di area TPST menjadi faktor utama ketidakstabilan gundukan.

Pengelola TPST Bantar Gebang, PT Tirta Investama, mengaku bahwa prosedur pemadatan sampah belum optimal karena keterbatasan mesin pemadat dan tenaga kerja yang terbatas pada hari kerja. Pada hari kejadian, sebagian besar pekerja sedang istirahat, sehingga tidak ada pengawasan intensif pada tumpukan sampah.

Korban dan Upaya Penyelamatan

Tim SAR Jakarta, SAR Bekasi, Basarnas, dan BPBD Kota Bekasi dikerahkan sejak sore hari. Hingga pukul 18.00 WIB, tiga jenazah telah ditemukan: dua pemilik warung, yaitu Budi Santoso (45 tahun) dan Siti Nurhaliza (38 tahun), serta sopir truk, Andi Prasetyo (34 tahun). Pada pukul 20.30, jasad keempat, seorang pekerja pengangkut sampah bernama Hendra (27 tahun), berhasil diangkat.

Berikut ini data singkat mengenai korban:

Nama Usia Jenis Kelamin Status Keterangan
Budi Santoso 45 Laki‑laki Meninggal Pemilik warung di zona 4
Siti Nurhaliza 38 Perempuan Meninggal Pemilik warung di zona 4
Andi Prasetyo 34 Laki‑laki Meninggal Sopir truk pengangkut sampah
Hendra 27 Laki‑laki Meninggal Pekerja pengangkut sampah

Tim SAR mengungkapkan masih ada kemungkinan korban lain belum ditemukan karena sebagian area masih tertutup oleh tumpukan sampah yang belum dapat dibongkar secara menyeluruh. Penyelamatan menggunakan alat berat, ekskavator, serta tim penyelamat yang mengenakan peralatan napas (SCBA) untuk mengatasi kondisi berbahaya di dalam tumpukan.

"Kami belum menutup pintu pencarian. Setiap menit penting bagi mereka yang masih tertimbun," ujar MC Ryan, Dantim Unit Siaga SAR Bekasi.

Reaksi Pemerintah dan Penegakan Regulasi

Gubernur Jawa Barat, Rini Soemarno, menyampaikan keprihatinan atas tragedi ini dan berjanji akan melakukan audit menyeluruh terhadap semua TPST di wilayahnya. “Kami akan meninjau kembali prosedur operasional, memperketat pengawasan, serta mempercepat pembangunan fasilitas penampungan sampah yang lebih aman,” kata Soemarno dalam konferensi pers di Balai Kota Bekasi, Senin, 9 Maret 2026.

Wali Kota Bekasi, Ahmad Riza Patria, menambahkan bahwa pihaknya telah mengirimkan tim investigasi gabungan yang melibatkan Dinas Lingkungan Hidup, Dinas Pekerjaan Umum, dan Kepolisian. Tim tersebut akan mengidentifikasi kelalaian teknis, potensi pelanggaran izin operasional, serta mengevaluasi kebutuhan peningkatan infrastruktur drainase.

Polisi menegaskan bahwa penyelidikan awal belum menemukan bukti pelanggaran hukum yang jelas, namun akan tetap melacak jejak administratif PT Tirta Investama. Jika terbukti ada kelalaian yang mengakibatkan bahaya, perusahaan dapat dikenai sanksi administratif hingga pidana.

Langkah Preventif dan Tantangan Kedepan

Ahli geoteknik dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Dr. Hadi Prasetyo, menilai bahwa penataan kembali gundukan sampah harus memperhatikan faktor stabilitas lereng, drainase, dan beban vertikal. “Penggunaan geotekstil, sistem ventilasi, serta pemantauan kelembaban secara real‑time dapat mengurangi potensi longsor,” ujar Dr. Hadi dalam wawancara dengan media lokal.

Selain aspek teknis, masalah sosial juga menjadi tantangan. Sekitar 2.500 pekerja informal yang mengelola sampah di TPST Bantar Gebang bergantung pada pendapatan harian. Penutupan atau penghentian operasi sementara dapat menimbulkan masalah ekonomi bagi mereka. Pemerintah daerah berjanji akan menyediakan program bantuan sosial dan pelatihan bagi pekerja terdampak.

Dalam jangka panjang, Pemerintah Indonesia telah menargetkan pengurangan jumlah sampah yang masuk ke TPST hingga 30% pada tahun 2030 melalui program daur ulang, pengomposan, dan kebijakan “Zero Waste”. Implementasi kebijakan ini diharapkan dapat mengurangi tekanan pada gunungan sampah yang menjadi pemicu bencana seperti ini.

Untuk saat ini, fokus utama tetap pada upaya penyelamatan dan pemulihan area. Tim SAR diperkirakan masih membutuhkan dua hingga tiga hari untuk membersihkan seluruh area longsor. Seluruh proses akan didokumentasikan untuk menjadi bahan evaluasi kebijakan pengelolaan sampah di masa mendatang.

Bagikan Artikel

Artikel Terkait