Trisula Elektoral PSI Jambi, Jokowi, Gibran, dan Romi Haryanto; Sebuah Kajian Teori

Posted on

Oleh : Bram Aprianto

JAMBI, NUSADAILY.ID – Dalam peta politik pasca-Pemilu 2024, Partai Solidaritas Indonesia (PSI) tidak lagi semata bergerak sebagai partai ideologis berbasis aktivisme, melainkan mulai mempraktikkan strategi political marketing yang lebih sistematis dan berlapis. Di Provinsi Jambi, strategi tersebut termanifestasi dalam apa yang dapat disebut sebagai trisula elektoral, figur Joko Widodo (Jokowi), Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, dan Romi Haryanto selaku Ketua DPW PSI Provinsi Jambi. Ketiganya merepresentasikan diferensiasi produk politik PSI pada tiga level pasar pemilih yang berbeda.

Dalam teori political marketing sebagaimana dikemukakan oleh Jennifer Lees-Marshment, partai modern cenderung bergeser ke model market-oriented party, yakni partai yang membaca kebutuhan pemilih, menyesuaikan pesan, dan membangun citra berdasarkan preferensi publik. PSI di Jambi menunjukkan gejala kuat ke arah ini dengan memosisikan Jokowi sebagai brand legacy, Gibran sebagai brand extension, dan Romi Haryanto sebagai local brand ambassador. Jokowi berfungsi sebagai core brand dalam bauran pemasaran politik PSI.

Dalam perspektif brand equity (Keller), Jokowi memiliki tingkat brand awareness dan brand trust yang sangat tinggi, bahkan setelah tidak lagi menjabat presiden. Di Jambi, persepsi publik terhadap Jokowi masih identik dengan kerja nyata, stabilitas ekonomi, dan keberpihakan pada kelompok bawah. PSI memanfaatkan ekuitas merek ini sebagai halo effect, di mana kepercayaan terhadap figur Jokowi ditransfer ke partai. Strategi ini lazim dalam marketing politik, terutama pada partai yang sedang membangun atau memperluas basis elektoral.

Mata trisula kedua, Gibran Rakabuming Raka, dapat dipahami melalui konsep political repositioning dan segmented marketing. Gibran mengisi ceruk pemilih muda, pemilih pemula, dan kelas menengah urban yang cenderung skeptis terhadap elite lama. Dalam teori segmentasi–targeting–positioning (STP), Gibran adalah instrumen positioning PSI sebagai partai yang relevan dengan masa depan, teknologi, dan gaya kepemimpinan baru. Ia berfungsi sebagai brand extension yang memperluas pasar PSI tanpa harus meninggalkan asosiasi positif yang telah dibangun oleh Jokowi.

Sementara itu, Romi Haryanto memainkan peran kunci dalam tahap political distribution dan grassroots marketing. Teori marketing politik menekankan bahwa produk dan pesan yang kuat tidak akan efektif tanpa saluran distribusi yang tepat. Dalam konteks Jambi, distribusi pesan politik sangat bergantung pada jaringan lokal, kedekatan sosial, dan kredibilitas personal. Romi Haryanto bertindak sebagai local opinion leader yang menghubungkan pesan nasional PSI dengan realitas sosial-ekonomi daerah.

Perannya sejalan dengan konsep two-step flow of communication, di mana pengaruh politik tidak langsung diterima dari pusat, tetapi dimediasi oleh tokoh lokal yang dipercaya.

Secara keseluruhan, trisula elektoral PSI di Jambi mencerminkan integrasi tiga elemen utama marketing politik: produk (figur dan gagasan), promosi (narasi Jokowi dan Gibran), serta distribusi (struktur dan jejaring Romi Haryanto). Strategi ini memungkinkan PSI membangun emotional bonding sekaligus rational appeal kepada pemilih, dua aspek yang menurut Newman dan Sheth menjadi kunci keberhasilan kampanye politik modern.

Namun, sebagaimana ditegaskan dalam teori relationship marketing, keberlanjutan dukungan politik tidak cukup ditopang oleh citra dan figur. PSI dituntut untuk mengonversi ekuitas merek Jokowi, daya tarik generasional Gibran, dan kekuatan lokal Romi Haryanto ke dalam kinerja organisasi, advokasi kebijakan, dan kehadiran nyata di tengah masyarakat Jambi. Tanpa itu, trisula elektoral berisiko menjadi sekadar strategi komunikasi jangka pendek.

Dengan demikian, trisula elektoral PSI di Jambi bukan hanya konfigurasi figur, melainkan sebuah desain marketing politik yang relatif lengkap. Pertanyaannya ke depan bukan lagi apakah strategi ini efektif secara elektoral, melainkan apakah PSI mampu menginstitusionalisasikan marketing politik tersebut menjadi fondasi partai yang berkelanjutan dan berakar kuat di daerah.

Redaksi nusadaily.id/*

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *