Kesehatan

20 Anak Meninggal Akibat Campak di Sumenep: Data Kumulatif, Penyebab, dan Upaya Pemerintah

Sejak Februari hingga Agustus 2025, 20 anak di Kabupaten Sumenep, Madura, meninggal dunia karena campak. Mayoritas belum divaksin, pemerintah daerah gencarkan imunisasi massal.

N

Nusa Daily

20 Anak Meninggal Akibat Campak di Sumenep: Data Kumulatif, Penyebab, dan Upaya Pemerintah. Foto: Parents
20 Anak Meninggal Akibat Campak di Sumenep: Data Kumulatif, Penyebab, dan Upaya Pemerintah. Foto: Parents

Sumenep, NusaDaily.ID — Kabupaten Sumenep, Madura, mencatat 20 anak meninggal dunia akibat wabah campak sejak awal tahun 2025. Data kumulatif ini dirilis oleh Dinas Kesehatan Kabupaten Sumenep pada 29 Agustus 2025, mencakup periode Februari hingga Agustus. Jumlah kasus terkonfirmasi mencapai 2.268, dengan mayoritas korban merupakan anak di bawah lima tahun yang belum menerima imunisasi dasar lengkap.

Statistik Kematian dan Penyebaran Kasus

Menurut laporan resmi Dinas Kesehatan P2KB Sumenep, 20 anak meninggal akibat komplikasi campak, termasuk pneumonia, ensefalitis, dan diare berat. Dari total 2.268 kasus, 1.932 (85,3%) berusia di bawah lima tahun. Tingkat kematian (case fatality rate) mencapai 0,88%, jauh di atas rata-rata nasional yang berada pada kisaran 0,2%–0,3% dalam beberapa tahun terakhir.

Penyebab Utama Tingginya Angka Kematian

Para ahli kesehatan menyoroti dua faktor utama yang memperparah situasi. Pertama, rendahnya tingkat cakupan vaksinasi MMR (Measles‑Mumps‑Rubella) di wilayah pedesaan Sumenep. Data Dinkes menunjukkan hanya 62% anak usia 12‑23 bulan yang menerima dosis pertama, sementara cakupan dosis kedua berada di bawah 45%.

Kedua, akses layanan kesehatan yang terbatas. Beberapa desa di kecamatan Pegantenan dan Bluto masih mengandalkan puskesmas yang beroperasi dengan tenaga medis terbatas, sehingga deteksi dini dan penanganan komplikasi menjadi terhambat.

Reaksi Pemerintah Pusat dan Daerah

Menanggapi peningkatan angka kematian, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menyatakan,

"Pemerintah tidak akan tinggal diam. Kami akan melakukan pendanaan tambahan untuk program imunisasi di wilayah‑wilayah yang terdampak, termasuk Sumenep. Prioritas utama adalah menutup kesenjangan cakupan vaksinasi dan memperkuat sistem rujukan medis."
Pemerintah Provinsi Jawa Timur melalui Dinas Kesehatan Provinsi menyiapkan tim rapid response yang akan melakukan penyuluhan intensif, penyediaan vaksin MMR gratis, serta mobilisasi tenaga medis ke puskesmas terpencil.

Di tingkat kabupaten, Bupati Sumenep, Dr. H. Abdul Kadir, M.Si, menandatangani Surat Keputusan (SK) tentang operasi darurat vaksinasi massal yang akan dilaksanakan selama dua minggu ke depan, dimulai 2 September 2025. SK tersebut mencakup alokasi anggaran sebesar Rp 12 miliar untuk pembelian vaksin, transportasi, serta kampanye edukasi.

Langkah-Langkah Konkret yang Dilakukan

  • Penambahan 15 tim imunisasi keliling yang dilengkapi cold chain portable.
  • Pengadaan 150.000 dosis vaksin MMR dari BPOM melalui jalur cepat.
  • Kolaborasi dengan lembaga swadaya masyarakat (LSM) seperti Yayasan Kesehatan Anak Madura untuk penyuluhan di desa‑desa.
  • Penguatan fasilitas rujukan: peningkatan kapasitas ruang perawatan intensif (ICU) di RSUD Sumenep dan penambahan ventilator.
  • Penyebaran informasi melalui media sosial, radio lokal, dan masjid untuk mengatasi misinformasi seputar vaksin.

Reaksi Masyarakat dan Tantangan Kedepan

Warga Sumenep menunjukkan keprihatinan yang mendalam. Ibu Siti Nurhaliza, 32 tahun, kehilangan dua anaknya dalam dua bulan terakhir. "Kami dulu tidak menganggap campak sebagai penyakit mematikan. Sekarang, kami takut menunggu sampai anak kami sakit," ujarnya dalam wawancara yang dilansir dari Kompas.com.

Selain keengganan vaksinasi karena kepercayaan tradisional, terdapat kendala geografis. Pulau-pulau kecil di daerah pesisir Sumenep, seperti Pulau Giligenting, masih sulit dijangkau oleh layanan kesehatan reguler. Pemerintah menyiapkan kapal medis khusus untuk menjangkau wilayah tersebut.

Proyeksi dan Harapan Kedepan

Jika capaian imunisasi dapat mencapai 90% pada akhir 2025, para ahli memperkirakan penurunan kasus hingga 70% dalam enam bulan berikutnya. Namun, keberhasilan sangat bergantung pada sinergi antar lembaga, kepatuhan masyarakat, serta ketersediaan dana.

Kesimpulannya, tragedi 20 anak meninggal akibat campak di Sumenep menegaskan pentingnya program imunisasi yang menyeluruh, terutama di daerah terpencil. Pemerintah pusat dan daerah telah menyiapkan langkah konkrit, namun pelaksanaan yang cepat dan dukungan penuh masyarakat menjadi kunci utama untuk menghentikan penyebaran dan mengurangi angka kematian di masa mendatang.

Bagikan Artikel

Artikel Terkait