Jakarta, NusaDaily.ID — Beijing mengeluarkan pernyataan resmi pada Selasa (4 Maret 2026) mengecam penggunaan kekuatan militer Amerika Serikat terhadap Iran, menyatakan bahwa penyelesaian sengketa harus melalui dialog dan diplomasi. Reaksi ini menambah kumpulan sikap China yang tetap berhati‑hati dalam konflik Timur Tengah, sekaligus menegaskan kepentingan strategisnya di kawasan.
Reaksi resmi Kementerian Luar Negeri China
Wang Yi, Menteri Luar Negeri China, dalam konferensi pers virtual menyatakan, "Kami menyesalkan setiap tindakan militer yang meningkatkan ketegangan di wilayah Timur Tengah. Semua pihak harus menahan diri, menghindari eskalasi, dan kembali ke meja perundingan." Pernyataan tersebut disiarkan melalui saluran resmi Kementerian Luar Negeri dan kemudian dilansir oleh Reuters.
"Kami menekankan pentingnya menegakkan prinsip tidak campur tangan, dan menolak segala bentuk agresi yang dapat membahayakan keamanan regional," ujar Wang Yi.
Motif energi: Mengamankan pasokan minyak dan gas
Iran adalah salah satu pemasok utama minyak dunia, khususnya bagi China yang mengimpor lebih dari 10 juta barel per hari. Serangan AS berpotensi mengganggu produksi dan transportasi minyak Iran, yang pada gilirannya dapat memicu fluktuasi harga energi global. Analis energi di Beijing Review menilai bahwa China mengutamakan stabilitas pasar energi di atas pertimbangan geopolitik lainnya.
- China mengimpor sekitar 13% minyak mentah dunia dari Iran.
- Pasokan gas alam cair (LNG) Iran diperkirakan menyumbang 5% kebutuhan China pada 2026.
- Ketidakstabilan harga minyak dapat menambah beban inflasi domestik China.
Hubungan US‑China: Menjaga keseimbangan di tengah kompetisi strategis
Serangan AS ke Iran terjadi pada saat ketegangan dagang dan teknologi antara Washington dan Beijing kembali memuncak. Meskipun kedua negara bersaing di arena global, Washington tetap menjadi mitra dagang terbesar China. Oleh karena itu, Beijing memilih jalur diplomatik yang tidak menyinggung kepentingan ekonomi AS secara langsung.
Seorang pejabat senior di Kementerian Perdagangan China mengatakan kepada media lokal bahwa "kita tidak ingin memperburuk hubungan dengan Amerika Serikat saat banyak isu penting, seperti chip semikonduktor dan perubahan iklim, masih memerlukan kerja sama."
Strategi geopolitik: Menjaga posisi netral di Timur Tengah
China telah meningkatkan investasi infrastruktur melalui inisiatif Belt and Road di negara‑negara Timur Tengah, termasuk Iran, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab. Sikap netral memungkinkan Beijing untuk terus menegosiasikan proyek‑proyek energi dan transportasi tanpa harus memilih sisi dalam konflik regional.
Di sebuah konferensi ekonomi di Shanghai pada Januari 2026, CEO perusahaan energi state‑owned China National Petroleum Corporation (CNPC) menegaskan, "Kami terus berkomitmen pada proyek‑proyek jangka panjang di Iran, terlepas dari dinamika politik yang sedang berlangsung. Stabilitas regional adalah kunci bagi kami untuk melanjutkan investasi."
Banding dengan reaksi China pada konflik sebelumnya
Respons Beijing kali ini serupa dengan sikapnya pada serangan AS terhadap Suriah pada 2022 dan Ukraina pada 2023, di mana China mengutuk penggunaan kekuatan militer tetapi tidak mengambil langkah konkret seperti sanksi atau intervensi militer. Pola ini menegaskan konsistensi kebijakan luar negeri yang menekankan “prinsip perdamaian, pembangunan, dan tidak campur tangan”.
Sejarawan hubungan internasional di Universitas Tsinghua, Li Meng, mencatat, "China mengadopsi pendekatan yang disebut ‘strategic hedging’, yaitu menjaga jarak dari konflik sambil melindungi kepentingan ekonominya. Ini menjadi ciri khas kebijakan luar negeri Beijing pada dekade terakhir."
Implikasi bagi Iran dan dinamika regional
Iran menanggapi serangan AS dengan menegaskan haknya untuk membela kedaulatan. Dalam sebuah pernyataan resmi di Teheran, Menteri Luar Negeri Iran, Hossein Amir-Abdollahian, menyebut dukungan China sebagai “pembuktian solidaritas anti‑imperialisme”. Namun, Iran tetap bergantung pada dukungan teknis dan ekonomi dari negara‑negara Barat, sehingga tidak sepenuhnya dapat mengandalkan China.
Para pengamat geopolitik menilai bahwa posisi China yang bersikap kritis namun tidak konfrontatif dapat menjadi faktor penyeimbang dalam negosiasi multilateral yang melibatkan PBB, Uni Eropa, dan negara‑negara Teluk.
Kesimpulan sementara: Kebijakan luar negeri China dalam konteks realitas global
Reaksi China terhadap serangan AS ke Iran menegaskan tiga pilar utama kebijakan luar negerinya: menjaga stabilitas energi, menyeimbangkan hubungan dengan Amerika Serikat, dan mempertahankan netralitas di Timur Tengah. Dengan mengedepankan diplomasi dan menghindari tindakan militer, Beijing berusaha melindungi kepentingan ekonominya sambil tetap menjadi pemain utama dalam tata kelola keamanan internasional.
