BUNGO, NUSADAILY.ID – Menjelang azan Magrib pada Jumat sore (06/03/2026), belasan mahasiswa dari Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Islam Yasni Bungo berdiri di tepi jalan utama kota. Di tangan mereka bukan poster demonstrasi atau spanduk tuntutan, melainkan kantong-kantong takjil yang dibagikan kepada pengendara dan warga yang melintas di Jl. H. Hoesin Saad, Bungo Barat, Pasar Muara Bungo.
Aksi sederhana itu merupakan bagian dari kegiatan berbagi takjil dan buka puasa bersama yang diselenggarakan oleh BEM Universitas Islam Yasni Bungo, organisasi mahasiswa yang sebelumnya dikenal sebagai Dewan Mahasiswa Institut Agama Islam Yasni.
Namun, di balik pembagian makanan ringan untuk berbuka puasa itu tersimpan pesan yang lebih luas; tentang peran mahasiswa sebagai kekuatan moral dan sosial di tengah masyarakat.
Kegiatan tersebut, menurut pengurus BEM, merupakan bentuk kepedulian sosial mahasiswa sekaligus upaya menyemarakkan bulan suci Ramadan melalui aksi nyata yang langsung menyentuh masyarakat.
“Kegiatan ini merupakan bentuk kepedulian sosial dan semangat kebersamaan mahasiswa dalam menyemarakkan bulan suci Ramadan. Melalui kegiatan berbagi takjil ini, kami berharap dapat menumbuhkan rasa solidaritas, mempererat tali silaturahmi, serta menghadirkan manfaat bagi masyarakat sekitar,” ujar Andi, Presiden BEM Universitas Islam Yasni Bungo.
Bagi mahasiswa, kegiatan semacam ini bukan sekadar agenda seremonial. Ia merupakan bagian dari tradisi panjang gerakan mahasiswa yang menempatkan kampus sebagai ruang pembentukan kesadaran sosial.
Sejak munculnya Manifesto de Córdoba pada tahun 1918 di Argentina, sebuah deklarasi yang menuntut reformasi pendidikan tinggi dan otonomi universitas mahasiswa di berbagai belahan dunia mulai dipandang sebagai agen perubahan sosial.
Gerakan yang lahir di kota Córdoba itu menegaskan beberapa prinsip penting; demokratisasi kampus, kebebasan akademik, partisipasi mahasiswa dalam tata kelola universitas, serta tanggung jawab moral intelektual terhadap masyarakat. Manifesto tersebut kemudian menyebar ke berbagai negara di Amerika Latin, Eropa, hingga Asia, membentuk tradisi panjang aktivisme mahasiswa.
Di Indonesia, warisan gagasan itu berkembang dalam bentuk yang lebih luas. Mahasiswa tidak hanya berperan sebagai kelompok akademik, tetapi juga sebagai kekuatan moral yang mengawasi kekuasaan, mengadvokasi kepentingan rakyat, sekaligus menggerakkan kegiatan sosial.
Sejak masa pergerakan nasional, era reformasi 1998, hingga masa kini, peran mahasiswa kerap dirangkum dalam tiga fungsi utama Peran Mahasiswa:
Agent of Change: mahasiswa sebagai agen perubahan sosial yang mendorong perbaikan dalam masyarakat.
Social Control: mahasiswa sebagai pengawas moral terhadap kebijakan publik dan jalannya pemerintahan.
Iron Stock : mahasiswa sebagai cadangan kepemimpinan masa depan yang dipersiapkan melalui proses intelektual dan pengalaman organisasi.
Dalam konteks tersebut, kegiatan berbagi takjil yang dilakukan oleh mahasiswa Yasni Bungo menjadi bagian dari ekspresi konkret dari peran sosial tersebut, bahwa mahasiswa tidak hanya hadir dalam ruang diskusi atau mimbar kritik, tetapi juga dalam aksi solidaritas yang sederhana.
Selepas membagikan takjil kepada warga, para mahasiswa kemudian melanjutkan kegiatan dengan buka puasa bersama. Di tengah suasana Ramadan yang hangat, pertemuan itu menjadi ruang mempererat kebersamaan antar mahasiswa sekaligus memperkuat komitmen organisasi dalam menjalankan kegiatan sosial ke depan.
Bagi sebagian orang, sekantong takjil mungkin terlihat kecil. Namun bagi mahasiswa yang memegang tradisi panjang gerakan intelektual sejak Córdoba hingga kampus-kampus hari ini, aksi kecil di jalanan kota Bungo itu adalah cara sederhana untuk menjaga satu gagasan lama tetap hidup; bahwa ilmu pengetahuan harus selalu berpihak kepada masyarakat.
Redaksi nusadaily.id/*
