Ekonomi & Bisnis

Dua Tanker Pertamina Lepas Kendala di Selat Hormuz, Empat Kapal Tetap Diantisipasi

Setelah berbulan-bulan terperangkap, tanker PIS Rinjani dan PIS Paragon berhasil keluar dari zona konflik Hormuz. Empat kapal lainnya masih menunggu jalur aman.

N

Nusa Daily

Dua Tanker Pertamina Lepas Kendala di Selat Hormuz, Empat Kapal Tetap Diantisipasi
Dua Tanker Pertamina Lepas Kendala di Selat Hormuz, Empat Kapal Tetap Diantisipasi

Jakarta, NusaDaily.ID — Dua kapal tanker milik PT Pertamina International Shipping (PIS), Rinjani dan Paragon, berhasil menembus Selat Hormuz pada Senin (10/3/2026) setelah terjebak sejak akhir Februari. Keberangkatan mereka menandai langkah pertama dalam rangka mengamankan armada minyak Indonesia di tengah ketegangan Timur Tengah.

Latihan Awal: Penutupan Selat Hormuz oleh Iran

Pada 25 Februari 2026, Iran menutup akses Selat Hormuz sebagai tanggapan atas serangkaian sanksi internasional. Penutupan itu langsung memengaruhi rute laut utama bagi pengiriman minyak mentah. Dua tanker Pertamina, Rinjani (kapasitas 70.000 DWT) dan Paragon (kapasitas 65.000 DWT), yang sedang melintasi perairan tersebut, terpaksa berlabuh di Teluk Arab bersama tiga kapal lainnya.

Menurut pernyataan resmi PT Pertamina International Shipping, kru kedua kapal berada dalam kondisi aman dan perusahaan terus memantau perkembangan lewat koordinasi dengan otoritas maritim Indonesia serta perwakilan Indonesia di Tehran.

Upaya Diplomasi dan Koordinasi Internasional

Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Tehran mengonfirmasi bahwa mereka tengah melakukan diplomasi intensif dengan otoritas Iran. Duta Besar RI untuk Iran, Agus Sartono, menyatakan, "Kami terus berhubungan dengan pihak Iran untuk menjamin keselamatan armada Indonesia serta menjaga kelancaran aliran energi global."

"Kami menunggu sinyal aman dari otoritas Iran dan memastikan semua prosedur keamanan terpenuhi sebelum kapal berlayar kembali," ujar Duta Besar.

Selain KBRI, Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI melalui juru bicara, Deni Prasetyo, menegaskan bahwa pemerintah Indonesia terus menekan pihak terkait agar selat dibuka seluas-luasnya. "Selat Hormuz adalah jalur strategis yang tidak boleh dijadikan arena politik," tambahnya.

Klarifikasi PIS: Hoaks vs. Realitas

Setelah muncul video yang mengklaim kedua tanker sudah melewati Selat Hormuz, PIS mengeluarkan klarifikasi resmi. Corporate Secretary PIS, Vega Pita, melalui konferensi pers daring pada 2 Maret 2026, menyatakan, "Video tersebut tidak mencerminkan fakta. Pada saat itu kedua kapal masih berada di zona merah dan tidak diperbolehkan melintas."

Namun, pada 10 Maret 2026, PIS kembali mengumumkan bahwa Rinjani dan Paragon telah menerima izin navigasi dari otoritas Iran dan berhasil melintasi selat pada pukul 04:30 WIB. Kedua kapal kini berada di perairan internasional, menuju pelabuhan tujuan masing-masing di India dan Korea Selatan.

Status Empat Kapal Lainnya

Selain Rinjani dan Paragon, tiga kapal lain milik Pertamina masih berada di Teluk Arab, menunggu kondisi yang lebih aman. Dua di antaranya adalah VLCC Pertamina Pride (kapasitas 320.000 DWT) dan Gamsunoro (kapasitas 200.000 DWT). Kapal ketiga, MV Bunga Raya, diperkirakan akan kembali ke pelabuhan asal pada akhir pekan depan setelah memperoleh izin dari otoritas Iran.

Kapal Kapasitas (DWT) Status Terakhir Tujuan
PIS Rinjani 70.000 Sudah lewat Selat Hormuz (10/3/2026) Ke Pelabuhan Mumbai, India
PIS Paragon 65.000 Sudah lewat Selat Hormuz (10/3/2026) Ke Pelabuhan Busan, Korea Selatan
Pertamina Pride 320.000 Masih di Teluk Arab, menunggu izin Ke Pelabuhan Rotterdam, Belanda
Gamsunoro 200.000 Masih di Teluk Arab, menunggu izin Ke Pelabuhan Osaka, Jepang
MV Bunga Raya 55.000 Diperkirakan keluar akhir pekan ini Ke Pelabuhan Singapore

Dampak Ekonomi dan Logistik Nasional

Selat Hormuz menyumbang lebih dari 30% perdagangan minyak dunia. Penutupan sementara menimbulkan kekhawatiran tentang pasokan energi domestik. Menurut Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BP Migas), penundaan pengiriman dari empat tanker tersebut dapat menambah tekanan pada cadangan strategis nasional sebesar 1,2 juta barel per hari.

"Kami telah mengoptimalkan stok cadangan strategis serta mengaktifkan jalur alternatif melalui Laut Merah," kata Direktur Utama Pertamina, Rini Setiawan, dalam pernyataan resmi pada 11 Maret 2026. Ia menambahkan bahwa perusahaan sedang menyiapkan penyesuaian jadwal produksi di kilang Balikpapan dan Cilacap untuk mengantisipasi fluktuasi pasokan.

Reaksi Industri dan Analisis Pakar

Para analis energi di Bloomberg dan Reuters menilai bahwa keberhasilan dua tanker membuka peluang bagi kapal lainnya untuk melanjutkan perjalanan. Namun, mereka memperingatkan bahwa situasi geopolitik masih rawan, terutama mengingat adanya ancaman serangan drone di perairan selatan Iran.

Prof. Ahmad Faisal, pakar hubungan internasional Universitas Indonesia, menilai, "Kepentingan strategis Iran dalam mengendalikan Hormuz adalah bagian dari permainan tawar-menawar energi global. Indonesia harus terus memperkuat diplomasi maritim serta diversifikasi jalur impor bahan bakar."

Langkah Ke Depan: Penguatan Keamanan Maritim

Menanggapi insiden ini, Kementerian Koordinator Bidang Maritim dan Investasi (Kemenko Maritim) mengumumkan peningkatan patroli TNI Angkatan Laut di Selat Malaka dan Selat Sunda. Menteri Koordinator Maritim dan Investasi, Luhut B. Pandjaitan, menekankan, "Keamanan jalur laut adalah prasyarat bagi stabilitas ekonomi nasional. Kami akan memastikan armada Indonesia dapat beroperasi tanpa hambatan."

Secara keseluruhan, keberangkatan Rinjani dan Paragon menjadi sinyal positif bagi industri migas Indonesia. Sementara empat kapal lainnya masih menunggu izin, pemerintah dan perusahaan terus berkoordinasi untuk mengamankan pasokan energi nasional di tengah dinamika geopolitik yang kompleks.

Bagikan Artikel

Artikel Terkait