Jakarta, NusaDaily.ID — Dua kapal tanker milik Pertamina yang saat ini berada di Teluk Persia masih menunggu sinyal all‑clear untuk melintasi Selat Hormuz. Penutupan selat oleh Pasukan Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) sejak awal minggu ini menghambat lebih dari dua ratus kapal tanker, termasuk kedua armada milik perusahaan energi nasional Indonesia itu.
Latarnya Konflik di Timur Tengah
Ketegangan antara Amerika Serikat‑Israel dan Iran memuncak pada 3 Maret 2026 setelah serangan udara balasan dari kedua negara terhadap fasilitas militer Iran di wilayah Teluk. IRGC kemudian mengumumkan penutupan Selat Hormuz hanya untuk kapal milik Amerika Serikat, Israel, serta sekutu‑sekutu Barat mereka. Kebijakan itu menambah beban pada jalur transportasi minyak global, mengingat sekitar satu per lima pasokan minyak dunia melintasi selat tersebut setiap harinya.
Situasi Dua Tanker Pertamina
Kedua kapal tanker milik Pertamina, masing‑masing berkapasitas Very Large Crude Carrier (VLCC) sekitar 300 ribuan ton, berada di pelabuhan berlabuh di wilayah selatan Teluk Persia. Menurut pernyataan resmi Pertamina yang dirilis pada 10 Maret 2026, kapal‑kapal tersebut sedang menunggu persetujuan resmi dari otoritas Iran serta konfirmasi keamanan dari pihak maritim internasional sebelum dapat melanjutkan pelayaran ke pelabuhan tujuan di Asia Tenggara.
“Kami terus memantau situasi keamanan dan berkoordinasi dengan otoritas terkait, termasuk IRGC dan otoritas maritim internasional, untuk memastikan kapal kami dapat melanjutkan perjalanan dengan aman,” ujar Juru Bicara Pertamina, Budi Santoso, dalam konferensi pers virtual.
Dampak Penutupan Selat Hormuz pada Pasokan Global
Penutupan Selat Hormuz menimbulkan kegelisahan pasar energi dunia. Harga minyak mentah Brent sempat melonjak hingga US$119 per barel pada 8 Maret, level tertinggi sejak 2022, sebelum kembali turun di bawah US$90 setelah Presiden Amerika Serikat mengumumkan kemungkinan penyelesaian konflik dalam waktu dekat.
Menurut data Lloyd’s List, lebih dari 200 kapal tanker compliant (memenuhi standar keamanan internasional) kini terdampar di Teluk Persia. Di antara mereka, armada Korea Selatan Sinokor menjadi yang paling terpengaruh karena sebagian besar kapal mereka berstatus ‘VLCC’. Penutupan ini memperparah ketidakpastian di pasar spot dan futures, memaksa pedagang minyak mencari alternatif rute lewat Laut Merah atau Laut Tengah, yang memakan waktu dan biaya tambahan.
Suara Para Awak Kapal dan Analisis Militer
Seorang awak kapal tanker yang mengaku ingin tetap anonim mengungkapkan kondisi menegangkan di atas kapal. "Kami mendengar ledakan di langit dan suara tembakan, namun tidak ada perintah untuk meninggalkan pelabuhan karena risiko serangan langsung," kata sang awak dalam wawancara dengan The Guardian.
US Intelligence menilai bahwa Iran lebih cenderung menggunakan ranjau atau serangan rudal terhadap kapal asing daripada menambang jalur pelayaran secara langsung. Senator Chris Murphy menuliskan di media sosial, “Iran belum menemukan cara yang aman untuk membuka kembali Selat Hormuz, sehingga risiko serangan langsung tetap tinggi.”
Langkah-Langkah Pemerintah dan Industri
Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) telah mengirim delegasi ke Tehran untuk membahas pembukaan selat bagi kapal-kapal dagang non‑militer. Menteri ESDM, Arifin Tasrif, menegaskan, “Kami berupaya mengamankan jalur transportasi minyak Indonesia, termasuk tanker milik Pertamina, melalui diplomasi serta koordinasi dengan pihak internasional.”
Sementara itu, perusahaan asuransi maritim global menawarkan paket reinsurance khusus untuk kapal yang bersedia melintasi Selat Hormuz dengan eskort militer. Pada 2024, mantan Presiden AS Donald Trump pernah mengusulkan bantuan asuransi US$20 miliar untuk mengembalikan aliran tanker, sebuah usulan yang kini diangkat kembali oleh beberapa analis sebagai opsi darurat.
Proyeksi Jangka Pendek dan Dampak pada Harga Minyak Nasional
Jika penutupan berlanjut lebih dari satu minggu, para analis menilai bahwa Indonesia dapat mengalami penurunan pasokan minyak mentah impor sebesar 5‑7 % per hari, mengingat dua tanker Pertamina menyumbang sekitar 600 ribuan ton minyak mentah. Kenaikan harga BBM domestik diprediksi akan menggerus daya beli konsumen, terutama di wilayah Jawa Barat dan Sumatra yang sensitif terhadap fluktuasi harga energi.
Namun, beberapa skenario alternatif muncul. Menurut Bloomberg, jika kapal‑kapal tersebut memilih menonaktifkan AIS (Automatic Identification System) dan melintasi selat secara “gelap”, risiko tertangkap atau diserang akan meningkat secara signifikan. Pilihan ini belum diambil oleh Pertamina karena kebijakan keselamatan dan regulasi internasional yang ketat.
Kesimpulan Sementara
Sejauh ini, belum ada sinyal resmi dari IRGC atau otoritas maritim internasional yang memberikan izin penuh bagi kapal‑kapal tanker, termasuk dua milik Pertamina, untuk meninggalkan Teluk Persia. Semua pihak menunggu perkembangan situasi geopolitik di kawasan, sambil menyiapkan langkah mitigasi baik dari sisi pemerintah, industri, maupun asuransi.
| Kapal | Kapitas (ton) | Status |
|---|---|---|
| Tanker Pertamina 1 | 300.000 | Terperangkap di Teluk Persia |
| Tanker Pertamina 2 | 300.000 | Terperangkap di Teluk Persia |
| Lainnya (200+ kapal) | Beragam | Terdampar karena penutupan |
