Ekonomi & Bisnis

Emas dan Perak Meroket, Harga Mencapai Rekor Tertinggi di Tengah Ketegangan Timur Tengah

Harga emas melewati $5.200 per ounce dan perak naik 4,3% setelah serangan AS‑Israel ke Iran, memicu arus beli safe‑haven di pasar global.

N

Nusa Daily

Emas dan Perak Meroket, Harga Mencapai Rekor Tertinggi di Tengah Ketegangan Timur Tengah
Emas dan Perak Meroket, Harga Mencapai Rekor Tertinggi di Tengah Ketegangan Timur Tengah

Jakarta, NusaDaily.ID — Harga emas dan perak melonjak tajam pada Senin, 1 Maret 2026, setelah serangan militer gabungan Amerika Serikat dan Israel menargetkan instalasi strategis di Iran. Peristiwa tersebut menambah ketegangan geopolitik di Timur Tengah, memicu pergerakan besar‑besar di pasar logam mulia. Emas menembus level $5.200 per ounce, sementara perak mencatat kenaikan 4,3% menjadi $67,30 per ounce, menurut data Bloomberg yang dirilis pada pukul 08.30 WIB.

Latar Belakang Konflik dan Dampaknya pada Pasar

Serangan tersebut terjadi setelah Presiden Amerika Serikat Joe Biden menegaskan dukungan penuh kepada Israel dalam menanggapi ancaman Iran yang dianggap mengintensifkan program nuklirnya. Pada hari sebelumnya, Ayatollah Ali Khamenei, pemimpin tertinggi Iran, dilaporkan tewas dalam serangan balasan yang menewaskan sejumlah pejabat tinggi. Konflik ini, yang kini melibatkan unsur militer dan intelijen kedua negara, menambah kekhawatiran akan eskalasi menjadi perang terbuka di kawasan Teluk Persia.

Pasar komoditas secara historis merespons gejolak geopolitik dengan pergerakan harga yang signifikan. Logam mulia, terutama emas, dianggap sebagai aset safe‑haven yang mampu menyerap aliran dana saat risiko politik meningkat. Sejumlah analis dari Goldman Sachs menilai bahwa “ketegangan yang baru saja terjadi telah mempercepat proses penyesuaian harga emas yang sebelumnya sudah berada pada level over‑bought.” (Dilansir dari Bloomberg)

Harga Emas dan Perak Mencapai Puncak Tertinggi

Menurut data harga spot yang dihimpun oleh layanan Reuters pada pukul 07.00 WIB, emas terdaftar pada $5.219 per ounce, naik 1,6% dibandingkan penutupan hari Jumat. Perak, yang biasanya lebih volatil, mencatat kenaikan 4,3% menjadi $67,30 per ounce. Kenaikan ini menandai pencapaian tertinggi tahun 2026 untuk kedua logam tersebut. Harga komoditas lain, seperti minyak mentah Brent, juga naik 2,8% menjadi $84,50 per barrel, menambah tekanan inflasi global.

Tanggal Emas (USD/ounce) Perak (USD/ounce) Minyak Brent (USD/barrel)
1 Mar 2026 5.219 67,30 84,50
28 Feb 2026 5.040 64,80 81,20
22 Feb 2026 4.980 62,10 78,90

Data historis ini menunjukkan tren kenaikan yang konsisten sejak pertengahan Februari, ketika spekulasi awal tentang kemungkinan serangan Iran mulai memengaruhi sentimen pasar.

Reaksi Investor dan Sentimen Risiko

Investor institusional di Asia, terutama di Jepang dan Korea Selatan, meningkatkan alokasi portofolio mereka ke kontrak emas berjangka melalui bursa CME. Menurut laporan dari JP Morgan, aliran masuk dana ke ETF emas global melonjak 12,5% dalam 48 jam terakhir, menandakan pergeseran aset ke instrumen yang dianggap lebih stabil.

“Kenaikan tajam ini mencerminkan efek gabungan antara ekspektasi inflasi yang lebih tinggi akibat harga minyak naik dan ketidakpastian geopolitik yang memaksa pelaku pasar mencari perlindungan,” kata Maria Santoso, analis senior di PT Danareksa Sekuritas.

Di pasar domestik, Bank Indonesia (BI) belum mengubah kebijakan suku bunga acuan, namun mencatat bahwa pergerakan harga komoditas dapat memengaruhi inflasi inti. Komoditas logam mulia yang diperdagangkan di Bursa Berjangka Jakarta (BBJ) mengalami volume perdagangan harian meningkat 35% dibandingkan rata‑rata minggu sebelumnya.

Proyeksi Harga ke Depan

Berbagai lembaga riset memberikan proyeksi yang berbeda-beda. Fitch Ratings memperkirakan emas dapat menembus $5.500 per ounce dalam tiga bulan ke depan jika konflik tidak segera mereda. Sementara itu, analis dari Citi menilai risiko “over‑extension” dan memperkirakan koreksi ringan sebesar 5–7% setelah puncak volatilitas berkurang.

Untuk perak, analis dari UBS memperkirakan kenaikan lebih lanjut hingga $72 per ounce, didorong oleh permintaan industri elektronik yang tetap kuat meskipun geopolitik bergejolak. Namun, mereka memperingatkan bahwa penurunan produksi tambang di wilayah Amerika Selatan akibat kebijakan proteksionis dapat menambah volatilitas.

Langkah Pemerintah dan Bank Sentral Indonesia

Menanggapi gejolak pasar global, Kementerian Keuangan Indonesia melalui Direktur Jenderal Pajak, Budi Santoso, menegaskan bahwa tidak ada perubahan kebijakan pajak impor logam mulia dalam waktu dekat. “Kita terus memantau situasi internasional, namun prioritas utama tetap pada stabilitas nilai tukar rupiah dan kontrol inflasi,” ujarnya dalam konferensi pers di Jakarta, 1 Maret 2026.

Bank Indonesia, dalam rapat kebijakan moneter pekan lalu, menyatakan kesiapan untuk menyesuaikan likuiditas bila tekanan inflasi akibat kenaikan harga komoditas mengancam target inflasi 2,5%–3,5% untuk tahun 2026. BI menambahkan bahwa kebijakan suku bunga tetap pada 5,75% dan akan terus memantau dinamika pasar valuta asing, khususnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.

Secara keseluruhan, kombinasi faktor geopolitik, ekspektasi inflasi, serta aliran dana ke aset safe‑haven menciptakan lingkungan pasar yang sangat dinamis. Investor diharapkan tetap berhati‑hati dan memperhatikan sinyal-sinyal kebijakan moneter serta perkembangan diplomatik di Timur Tengah sebelum mengambil keputusan alokasi aset jangka menengah.

Bagikan Artikel

Artikel Terkait