Denpasar, NusaDaily.ID — Gempa bumi berkekuatan magnitudo 4,8 mengguncang wilayah Kuta Selatan, Bali, pada Minggu 1 Maret 2026 pukul 11:52:16 WITA, mengakibatkan getaran terasa hingga Denpasar, Kuta, Lombok, dan Sumbawa.
Data Teknis Gempa dan Lokasi Epicenter
Menurut Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), pusat gempa berada pada koordinat 9,26° lintang selatan dan 115,52° bujur timur, tepatnya sekitar 60 kilometer tenggara Kuta Selatan. Kedalaman gempa tercatat 56 kilometer di bawah permukaan laut, menandakan tipe gempa intermediat yang biasanya menghasilkan getaran luas namun tidak terlalu kuat pada permukaan.
Waktu gempa tercatat 11:52:16 WITA (02:52:16 UTC). BMKG mengklasifikasikan intensitas gempa pada skala Modified Mercalli Intensity (MMI) sebesar III‑IV di daerah perkotaan Denpasar dan Kuta, serta II‑III di pulau-pulau tetangga seperti Lombok dan Sumbawa.
Daerah yang Merasakan Guncangan
| Daerah | Intensitas MMI | Keterangan |
|---|---|---|
| Kuta Selatan (Bali) | IV | Getaran kuat, beberapa kaca retak |
| Denpasar | III‑IV | Getaran terasa, tidak ada kerusakan signifikan |
| Kuta Utara | III | Getaran ringan, terdengar suara gemuruh |
| Mataram (Lombok) | II‑III | Getaran ringan, tidak mengganggu aktivitas |
| Sumbawa Besar | II | Getaran sangat lemah, hampir tidak terasa |
Respon BMKM dan Pemerintah Daerah
Setelah gempa terjadi, pusat operasi gempa BMKG langsung mengeluarkan pernyataan resmi melalui kanal media sosialnya. Seorang juru bicara BMKG, Dr. Iwan Setiawan, memberikan keterangan berikut:
"Gempa magnitude 4,8 ini berada pada kedalaman 56 km dan tidak menimbulkan potensi tsunami. Kami terus memantau aktivitas seismik di wilayah ini selama 24 jam ke depan," ujar Dr. Iwan dalam konferensi pers singkat.
Gubernur Bali, Made Mangku Pastika, menegaskan kesiapsiagaan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bali. "Tim kami telah menyiapkan posko darurat di Kuta Selatan dan Denpasar, serta menyiapkan jalur evakuasi bila diperlukan. Saat ini tidak ada laporan korban jiwa atau cedera berat," tuturnya.
Dampak pada Pariwisata dan Infrastruktur
Wilayah Kuta Selatan merupakan salah satu zona wisata paling padat di Bali, dengan ribuan hotel, villa, dan restoran. Menurut data dari Dinas Pariwisata Bali, pada hari gempa tidak ada laporan kerusakan struktural pada bangunan tinggi. Namun, beberapa hotel kecil melaporkan kaca jendela retak akibat getaran, dan satu restoran di Jalan Pantai Kuta menutup operasional selama dua jam untuk pemeriksaan keamanan.
Transportasi publik, termasuk bus Trans Sarbagita, mengalami keterlambatan singkat karena alarm gempa otomatis di beberapa terminal. Layanan bandara Ngurah Rai tetap beroperasi normal, dengan penerbangan internasional tidak terdampak.
Sejarah Gempa di Bali dan Analisis Risiko
Bali terletak di zona subduksi antara Lempeng Indo-Australia dan Lempeng Eurasia. Sejak tahun 2000, pulau ini mencatat lebih dari 100 gempa berkekuatan mag. 4,0 ke atas, meskipun sebagian besar berada di kedalaman menengah hingga dalam. Gempa magnitude 5,6 pada November 2018 di wilayah Nusa Penida menjadi yang terbesar dalam satu dekade terakhir, namun tidak menimbulkan tsunami.
Para ahli seismologi dari Institut Teknologi Bandung (ITB) menilai bahwa gempa magnitude 4,8 pada kedalaman 56 km tidak mengubah pola stress utama di zona subduksi. "Kita masih berada dalam rentang normal aktivitas tektonik Bali. Namun, masyarakat tetap harus waspada dan mematuhi prosedur evakuasi yang telah disosialisasikan," kata Prof. Rina Kurnia, pakar geofisika ITB.
Langkah Edukasi dan Kesiapsiagaan Masyarakat
- BMKG terus mengirimkan notifikasi gempa lewat aplikasi resmi JagaGempa.
- BPBD Bali menggelar simulasi evakuasi di sekolah-sekolah Kuta Selatan pada akhir pekan ini.
- Hotel dan penginapan diwajibkan menampilkan peta titik kumpul darurat di lobi utama.
- Warga diminta untuk memeriksa kondisi bangunan, terutama plafon dan dinding, serta melaporkan kerusakan kepada otoritas setempat.
Kesimpulan Sementara dan Penutup
Gempa magnitude 4,8 yang mengguncang Kuta Selatan pada 1 Maret 2026 menimbulkan getaran luas namun tidak mengakibatkan kerusakan besar atau potensi tsunami. Respon cepat BMKG, pemerintah daerah, dan pihak keamanan memastikan situasi tetap terkendali. Masyarakat dan pelaku pariwisata diimbau terus mengikuti arahan resmi dan meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi potensi gempa selanjutnya.
