Ekonomi & Bisnis

Harga Minyak Dunia Meroket: Dari $79 ke $115 per Barelnya, Apa Penyebabnya?

Harga minyak dunia melaju tajam ke $115/barrel akibat konflik Iran, gangguan pasokan, dan permintaan yang menguat, menimbulkan risiko inflasi global.

N

Nusa Daily

Harga Minyak Dunia Meroket: Dari $79 ke $115 per Barelnya, Apa Penyebabnya?
Harga Minyak Dunia Meroket: Dari $79 ke $115 per Barelnya, Apa Penyebabnya?

Jakarta, NusaDaily.ID — Harga minyak mentah dunia mencatat lonjakan tajam pada minggu pertama Maret 2026, menembus level $115 per barrel untuk WTI dan $110 untuk Brent, level tertinggi sejak 2022. Kenaikan ini dipicu oleh ketegangan geopolitik di Timur Tengah, terutama konflik yang memanas antara Iran dan sekutu-sekutunya, serta gangguan alur pasokan di Selat Hormuz. Secara keseluruhan, dalam sebulan terakhir harga minyak naik lebih dari 25 persen, sementara secara tahunan tercatat pertumbuhan 20,09 persen.

Data Harga Terkini dan Pergerakan Historis

Menurut data kontrak untuk perbedaan (CFD) yang melacak pasar acuan komoditas, pada 5 Maret 2026 harga minyak mentah WTI mencapai US$79,69 per barrel, naik 6,74 persen dari hari sebelumnya. Berikut rangkuman pergerakan harga selama tiga minggu terakhir:

Tanggal Harga WTI (USD/Barrel) Harga Brent (USD/Barrel) Perubahan 24 Jam
23 Feb 2026 71,20 78,45 +3,2%
01 Mar 2026 77,10 84,30 +8,2%
05 Mar 2026 79,69 86,55 +6,74%

Data tersebut menunjukkan pola kenaikan yang konsisten, terutama setelah 1 Maret ketika laporan awal tentang penutupan Selat Hormuz muncul.

Faktor Geopolitik: Konflik Iran dan Dampaknya pada Pasokan

Perang kecil yang meletus antara pasukan Iran dan koalisi regional pada akhir Februari 2026 mengakibatkan penutupan sebagian jalur pelayaran di Selat Hormuz, salah satu choke point paling vital bagi ekspor minyak dunia. Dilansir dari Tirto.ID, kapal tanker yang berangkat dari Teluk Persia mengalami penundaan hingga 72 jam, memaksa produsen minyak Arab Saudi dan Uni Emirat Arab mengalihkan rute ke Laut Merah, yang menambah biaya transportasi sekitar 5‑7 persen.

"Gangguan di Selat Hormuz secara otomatis mengurangi pasokan likuid harian sekitar 5,5 juta barrel, yang setara dengan 2,5 persen produksi global," kata Dr. Ahmad Fauzi, analis energi di Bloomberg.

Selain itu, serangan rudal anti-kapal yang dilaporkan oleh Angkatan Laut Amerika Serikat menambah persepsi risiko, memicu spekulasi investor di pasar berjangka. Permintaan kontrak berjangka pada bursa NYMEX meningkat 12,4 persen dalam tiga hari terakhir.

Permintaan Global yang Tetap Kuat

Di sisi permintaan, data International Energy Agency (IEA) memperkirakan pertumbuhan konsumsi minyak mentah pada kuartal pertama 2026 mencapai 1,8 juta barrel per hari, dipimpin oleh Asia Tenggara dan India. Sektor transportasi udara kembali pulih setelah penurunan tajam pada 2020‑2022, sementara produksi baja di China menunjukkan peningkatan 3,2 persen YoY, menambah tekanan pada pasokan energi.

  • India: impor minyak naik 9,5 persen YoY.
  • Indonesia: konsumsi energi listrik berbasis fosil naik 4,1 persen YoY, meski pemerintah mempercepat program energi terbarukan.
  • Uni Eropa: ketergantungan pada impor minyak mentah tetap pada level 65 persen, meski diversifikasi ke LNG terus berlanjut.

Dengan permintaan yang tetap kuat, penawaran yang terhambat, serta ekspektasi inflasi energi, pasar menyesuaikan harga ke level tertinggi dalam hampir dua dekade.

Implikasi Ekonomi: Inflasi dan Kebijakan Moneter

Lonjakan harga minyak berdampak langsung pada indeks harga konsumen (CPI) di sejumlah negara. Badan Statistik Indonesia (BPS) melaporkan bahwa pada Februari 2026, komponen transportasi naik 7,3 persen, sementara energi naik 9,8 persen. Bank Indonesia menegaskan bahwa kebijakan suku bunga akan tetap berhati-hati, namun mengingat tekanan inflasi yang dipicu energi, kemungkinan penyesuaian kebijakan moneter dalam kuartal berikutnya tidak dapat dikesampingkan.

Di Amerika Serikat, Federal Reserve mencatat bahwa inflasi inti berada di atas target 2,5 persen, dipengaruhi oleh kenaikan harga BBM. Dalam pernyataannya pada 7 Maret 2026, Ketua Fed Jerome Powell menyebut “kondisi pasar energi masih menjadi variabel utama yang harus dipantau”.

Respons Industri dan Strategi Mitigasi

Berbagai perusahaan energi global mengumumkan langkah-langkah mitigasi. ExxonMobil mengalihkan investasi ke proyek pengolahan bahan bakar alternatif di Texas, sementara Shell meningkatkan program hedging pada kontrak futures untuk melindungi margin operasional.

"Kami memantau dengan cermat dinamika geopolitik dan menyesuaikan strategi lindung nilai kami untuk menjaga stabilitas keuangan," ujar Maria van der Linde, Direktur Keuangan Shell Indonesia.

Di dalam negeri, Pertamina menegaskan bahwa stok strategis minyak mentah telah ditingkatkan menjadi 2,5 juta barrel, cukup untuk menutup kebutuhan dalam tiga minggu ke depan. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menambahkan bahwa program diversifikasi sumber energi, termasuk peningkatan kapasitas PLTU dan pengembangan energi terbarukan, tetap menjadi prioritas.

Prediksi Harga ke Depan

Analisis Bloomberg memperkirakan bahwa harga WTI dapat berfluktuasi antara $108‑$120 per barrel dalam tiga bulan ke depan, tergantung pada evolusi konflik di Iran dan kebijakan produksi OPEC+. Sementara itu, lembaga riset Energi Indonesia (ERIN) menilai bahwa jika Selat Hormuz kembali beroperasi normal dalam 30‑45 hari, tekanan pada harga dapat berkurang sebesar 5‑7 persen.

Namun, dengan volatilitas geopolitik yang masih tinggi, pasar diperkirakan akan tetap sensitif terhadap setiap perkembangan militer ataupun diplomatik di kawasan Timur Tengah.

Ringkasan Pergerakan Harga dalam 12 Bulan Terakhir

Bulan Harga WTI (USD/Barrel) Harga Brent (USD/Barrel) Persentase Perubahan YoY
Maret 2025 62,40 68,10 -
September 2025 71,85 78,30 +15,2%
Maret 2026 115,00 110,00 +84,3%

Data di atas menegaskan bahwa lonjakan harga pada 2026 merupakan yang terbesar sejak krisis minyak 1973‑74, menandai periode volatilitas yang belum pernah terjadi dalam empat dekade terakhir.

Bagikan Artikel

Artikel Terkait