Jakarta, NusaDaily.ID — Harga minyak mentah dunia menguat drastis pada Selasa (3/3/2026) setelah ketegangan militer antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran memuncak di Selat Hormuz. Brent terangkat 4,1% menjadi US$80,89 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) naik 4,7% menembus US$77,15. Lonjakan ini menandai level tertinggi sejak Januari 2025 dan menimbulkan kekhawatiran atas pasokan energi global, termasuk impor minyak mentah Indonesia yang masih mengandalkan arus lewat Selat Hormuz.
Lonjakan Harga Minyak Dunia
Data Bloomberg dan Reuters mencatat bahwa pada pukul 14:30 WIB, indeks Brent tercatat US$80,89, naik US$3,28 dibandingkan penutupan sebelumnya. WTI, yang biasanya diperdagangkan lebih rendah, berakhir pada US$77,15, menambah US$3,45 dari sesi sebelumnya. Kenaikan ini dipicu oleh laporan intelijen bahwa Iran menutup selat strategis itu setelah serangan udara yang dilancarkan oleh pasukan koalisi AS‑Israel pada Senin malam. Selat Hormuz menyumbang sekitar 20% aliran minyak dunia, sehingga gangguan di sana langsung memengaruhi harga pasar spot.
Penyebab Utama: Ketegangan di Selat Hormuz
Insiden bermula pada 22 Februari 2026, ketika pesawat tempur Iran menembak jatuh sebuah drone militer Amerika yang dilaporkan melanggar ruang udara internasional di atas Selat Hormuz. Amerika Serikat merespons dengan melancarkan serangan balasan ke pangkalan militer Iran di Bandar Abbas. Israel sekaligus mengirimkan unit khusus laut untuk mengamankan jalur pelayaran di kawasan tersebut. Dalam waktu singkat, Iran mengumumkan penutupan sepihak Selat Hormuz untuk semua kapal tanker, termasuk yang membawa minyak mentah dan produk olahan.
Langkah itu menimbulkan reaksi berantai. Negara-negara produsen OPEC‑plus, termasuk Irak, mengumumkan pemotongan produksi masing‑masing sebesar 300 ribu barel per hari (bpd) untuk menstabilkan pasar. Namun, para analis menilai pemotongan tidak akan cukup menutup kekosongan pasokan yang diperkirakan mencapai 2,1 juta bpd jika Selat Hormuz tetap tertutup selama lebih dari seminggu.
Dampak pada Pasokan Minyak Indonesia
Indonesia masih mengimpor sekitar 20,1 juta barel minyak mentah per hari, dengan lebih dari setengahnya berasal dari Timur Tengah. Menteri Investasi/BKPM Bahlil Lahadalia menegaskan dalam konferensi pers di Jakarta, Rabu (4/3/2026), "Di mana 20,1 juta barel per day itu, termasuk di dalamnya adalah Indonesia melakukan impor crude dari Middle East yang melewati Selat Hormuz." Ia menambahkan bahwa pemerintah tengah memantau situasi secara real‑time dan menyiapkan langkah darurat untuk mengamankan pengiriman.
Di tingkat operasional, perusahaan pelayaran nasional seperti PT Pelni dan PT Samudera Indonesia telah memerintahkan kapal tanker mereka untuk menempuh rute alternatif melalui Laut Merah dan Terusan Suez, meski menambah biaya pengapalan hingga 15% per barel. Menurut data Kementerian Perhubungan, biaya pengapalan tanker berkapasitas 300.000 dwt melalui rute ini dapat naik dari US$4.500 menjadi US$5.200 per hari.
Respons Pemerintah dan Kebijakan BBM
Menko Koordinator Bidang Kemaritiman (Menko Kemenko Maritim) Luhut Binsar Pandjaitan memperingatkan pada Selasa (3/3/2026) bahwa "perang Israel‑Iran bisa memicu kenaikan harga BBM". Ia menambahkan bahwa pemerintah akan mengaktifkan Cadangan Minyak Strategis Nasional (CMSN) sebesar 200 ribu barel untuk menstabilkan pasar domestik selama tiga bulan pertama.
"Kami siap menurunkan subsidi BBM secara bertahap bila harga dunia terus naik. Prioritas utama tetap pada perlindungan konsumen dan menjaga inflasi tetap terkendali," ujar Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dalam sidang kabinet pada Kamis (5/3/2026).
Selain itu, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengumumkan program penambahan produksi bahan bakar minyak (BBM) di kilang dalam negeri sebesar 5% melalui optimalisasi proses distilasi. Pemerintah juga mempercepat proyek Kilang Pertamina di Bontang yang dijadwalkan selesai pada akhir 2026, dengan kapasitas tambahan 150.000 bpd.
Proyeksi Pasar Minyak ke Tengah Tahun 2026
Analisis Bloomberg menyebutkan bahwa jika Selat Hormuz tetap tertutup selama 10 hari, harga Brent dapat menembus US$95 per barel. Skenario paling optimis, dengan pembukaan kembali selat dalam seminggu, diperkirakan harga akan stabil di kisaran US$82‑85 per barel. OPEC‑plus diperkirakan akan menambah produksi sebanyak 1,2 juta bpd dalam tiga bulan ke depan untuk menyeimbangkan pasar, namun kemampuan produksi tambahan masih dipertanyakan mengingat pemeliharaan fasilitas di Irak dan Arab Saudi.
Untuk Indonesia, proyeksi Bappenas menunjukkan bahwa kenaikan harga minyak mentah dunia dapat menambah beban impor sebesar US$2,5‑3,0 miliar per kuartal jika nilai tukar rupiah tetap stabil. Pemerintah menargetkan penurunan ketergantungan impor minyak mentah menjadi 45% pada akhir 2026 melalui peningkatan produksi dalam negeri dan diversifikasi sumber energi, termasuk LNG dan biofuel.
| Parameter | Nilai | Keterangan |
|---|---|---|
| Harga Brent (3/3/2026) | US$80,89/bbl | Naik 4,1% dari penutupan sebelumnya |
| Harga WTI (3/3/2026) | US$77,15/bbl | Naik 4,7% |
| Impor Crude Indonesia | 20,1 Juta bbl/hari | 30% lewat Selat Hormuz |
| Cadangan Minyak Strategis Nasional | 200.000 bbl | Siap dilepas selama 3 bulan |
Dengan situasi yang terus berubah, para pelaku pasar, importir, dan regulator di Indonesia dipastikan akan terus memantau perkembangan di Timur Tengah. Keputusan kebijakan subsidi, penyesuaian tarif, serta langkah-langkah penambahan produksi dalam negeri menjadi kunci untuk menahan dampak inflasi energi yang dapat memengaruhi seluruh sektor ekonomi.
