Jakarta, NusaDaily.ID — Pada Senin, 9 Maret 2026, harga perak di Indonesia menampilkan perbedaan signifikan antara harga spot dunia, harga resmi PT Aneka Tambang (Antam), dan tarif ritel yang dipasarkan di toko-toko perhiasan serta platform daring. Data yang dirilis oleh beberapa lembaga, termasuk Logammulia.com, GoldRate, dan sumber pasar komoditas, memberi gambaran lengkap mengenai dinamika harga perak hari ini.
Spot Global: Penanda Harga Internasional
Menurut data Bullion Rates yang terbaru, harga perak spot di pasar dunia pada pukul 03.55 WIB tercatat pada level Rp56.907 per gram, atau setara dengan Rp1.770.006 per ons. Angka tersebut mencerminkan nilai tukar dolar AS terhadap rupiah pada hari yang sama serta permintaan industri elektronik dan energi yang terus menambah beban pada pasar logam mulia.
Spot price ini menjadi acuan utama bagi pedagang logam, bank, serta lembaga keuangan yang memperdagangkan kontrak berjangka. Fluktuasi harian biasanya dipengaruhi oleh laporan produksi tambang di Amerika Selatan, kebijakan moneter Federal Reserve, serta sentimen geopolitik yang memengaruhi nilai safe‑haven.
Harga Antam: Harga Resmi Pemerintah untuk Perak Murni
PT Aneka Tambang (Persero) Tbk, selaku BUMN yang mengelola produksi logam di Indonesia, mencatat harga perak murni pada hari Senin, 9 Maret 2026 sebesar Rp51.100 per gram. Angka ini turun Rp2.000 dibandingkan harga pada Sabtu, 7 Maret 2026 yang tercatat Rp53.100 per gram. Penurunan tersebut dilaporkan oleh Logammulia.com dan diikuti oleh rilis resmi Antam pada portalnya.
Harga Antam biasanya dipublikasikan dua kali seminggu dan menjadi patokan bagi pembeli institusi serta pedagang e‑commerce yang menawarkan produk perak fisik. Penurunan Rp2.000 diperkirakan berhubungan dengan penyesuaian nilai tukar rupiah serta koreksi harga setelah lonjakan tajam pada akhir pekan sebelumnya.
Harga Retail: Beragam Tarif di Pasar Domestik
Berbeda dengan harga spot dan Antam, tarif ritel perak di Indonesia menunjukkan variasi yang lebih luas. GoldRate menginformasikan tiga standar kemurnian logam: perak 900 (41.507,48 IDR/gram), perak 925 (42.660,47 IDR/gram), dan perak 999 (46.119,42 IDR/gram). Kedua tarif tersebut mencerminkan harga jual kepada konsumen akhir, termasuk margin retailer, biaya cetak, dan premium desain.
Sementara itu, platform Salim Silver mencatat harga perak murni yang lebih tinggi, yakni sekitar Rp64.000 per gram. Perbedaan ini biasanya muncul karena penjual menambahkan biaya pengiriman, asuransi, serta markup khusus untuk produk investasi seperti koin atau batangan.
Data lain yang dirilis pada pukul 03.55 WIB oleh sumber tidak disebutkan (namanya tidak tersedia) menuliskan harga perak pada level Rp45.423 per gram. Angka tersebut berada di antara harga Antam dan tarif retail standar, menandakan adanya penawaran khusus atau penyesuaian pasar sekunder.
Ringkasan Harga Perak pada 9 Maret 2026
| Sumber | Harga (IDR/gram) | Keterangan |
|---|---|---|
| Spot Global (Bullion Rates) | 56.907 | Harga referensi internasional |
| Antam (Logammulia.com) | 51.100 | Harga resmi BUMN, turun Rp2.000 |
| GoldRate – 900 | 41.507,48 | Retail, kemurnian 90% |
| GoldRate – 925 | 42.660,47 | Retail, kemurnian 92,5% |
| GoldRate – 999 | 46.119,42 | Retail, kemurnian 99,9% |
| Salim Silver | 64.000 | Retail premium, termasuk biaya tambahan |
| Data tak teridentifikasi (03:55 WIB) | 45.423 | Harga antara Antam dan retail standar |
Penyebab Fluktuasi Harga Perak pada Hari Ini
Berbagai faktor menyumbang perbedaan harga yang tampak kontras antara satu sumber dengan sumber lainnya. Pertama, nilai tukar USD/IDR yang bergerak dalam kisaran 14.800‑15.200 pada minggu pertama Maret 2026 memengaruhi semua harga yang dihitung dalam rupiah. Kedua, permintaan industri elektronik, khususnya produksi rangkaian sirkuit cetak (PCB), meningkatkan permintaan perak sebagai konduktor.
Ketiga, kebijakan moneter global, terutama keputusan suku bunga Federal Reserve yang pada 7 Maret 2026 menurunkan suku bunga acuan sebesar 0,25 %, menurunkan daya tarik logam mulia sebagai safe‑haven sementara meningkatkan likuiditas di pasar komoditas. Keempat, penyesuaian produksi tambang di negara produsen utama seperti Meksiko, Peru, dan China, yang melaporkan penurunan output pada kuartal pertama 2026.
Kelima, faktor lokal seperti penyesuaian harga Antam yang dipengaruhi oleh kebijakan harga pemerintah serta margin penjual ritel yang menyesuaikan dengan biaya logistik dan pajak penjualan. Semua variabel tersebut berinteraksi secara simultan, menghasilkan perbedaan harga yang signifikan dalam satu hari perdagangan.
Dampak pada Investor, Pedagang, dan Industri
Investor ritel yang mengincar perak sebagai aset diversifikasi harus memperhatikan perbedaan antara harga spot, harga Antam, dan harga ritel. Membeli perak melalui Antam biasanya memberikan harga yang lebih kompetitif dibandingkan toko perhiasan, namun tetap lebih tinggi dari harga spot karena adanya biaya produksi, transportasi, dan margin BUMN.
Pedagang e‑commerce yang menawarkan batangan atau koin perak biasanya menambahkan premium sekitar 10‑15 % di atas harga Antam untuk menutupi biaya penyimpanan dan asuransi. Hal ini menjelaskan mengapa platform seperti Salim Silver mencantumkan harga Rp64.000 per gram, jauh di atas harga Antam dan spot.
Industri manufaktur, terutama sektor elektronik dan energi terbarukan, cenderung merujuk pada harga spot global untuk perencanaan biaya bahan baku. Perubahan harga spot sebesar ±5 % dalam seminggu dapat memengaruhi margin produksi dan keputusan investasi pada lini produk yang menggunakan perak secara intensif.
Secara keseluruhan, perbedaan harga pada 9 Maret 2026 mencerminkan kecermatan pasar dalam menyeimbangkan faktor internasional dan domestik. Bagi pelaku pasar, pemahaman yang mendalam terhadap sumber harga menjadi kunci dalam membuat keputusan pembelian atau penjualan yang tepat.
