Ekonomi & Bisnis

IHSG Turun 1,37% ke 8.280,83 pada Selasa (24/2/2026): Penyebab, Dampak, dan Saham yang Tahan Banting

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah 1,37% pada perdagangan Selasa, 24 Februari 2026, dipicu penurunan energi dan sentimen global. Simak analisis lengkap beserta saham terkuat hari ini.

N

Nusa Daily

IHSG Turun 1,37% ke 8.280,83 pada Selasa (24/2/2026): Penyebab, Dampak, dan Saham yang Tahan Banting

Jakarta, NusaDaily.ID — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terjun bebas 1,37% atau 115,25 poin, menutup pada 8.280,83 pada perdagangan Selasa (24/2/2026). Penurunan ini menandai pergantian momentum setelah seminggu sebelumnya sempat menguat di zona hijau. Apa yang melatarbelakangi koreksi tajam ini, saham mana yang masih menguat, serta implikasi bagi investor? Berikut ulasan lengkapnya.

Rekap Pergerakan IHSG dalam 24 Jam Terakhir

Data Bursa Efek Indonesia (BEI) menunjukkan IHSG pada penutupan 30 Januari 2026 berada di level 8.280,8330, naik 1,50% dalam 24 jam. Pada awal tahun, indeks sempat menembus zona 8.600-an, dipicu oleh optimisme kebijakan moneter dan aliran modal asing. Namun, pada 24 Februari, tekanan jual kembali menggerus nilai indeks, menurunkan harga rata‑rata saham utama.

Faktor Pemicu Penurunan Hari Selasa

Berbagai faktor berkontribusi pada penurunan IHSG hari ini:

  • Penurunan Harga Energi: Harga saham energi turun lebih dari 3% setelah data produksi minyak mentah global menunjukkan surplus.
  • Kekuatan Rupiah: Rupiah menguat melawan dolar dalam sesi perdagangan pagi, menurunkan daya tarik investasi ekuitas bagi investor asing.
  • Data Inflasi: Statistik inflasi Januari 2026 melaporkan kenaikan lebih tinggi dari perkiraan, menimbulkan kekhawatiran tentang kebijakan moneter yang lebih ketat.
  • Sentimen Global: Indeks saham utama Amerika dan Eropa mengalami koreksi simultan, menambah tekanan jual di pasar berkembang.

Menurut

Dilansir dari Katadata.co.id
, IHSG membuka tahun 2026 di zona hijau, menguat 0,34% pada level 8.676 di sepuluh menit pertama dengan nilai transaksi saham lebih dari Rp 2,5 triliun. Namun, momentum positif tersebut tidak bertahan lama.

Perbandingan Harga Pembukaan dan Penutupan

Waktu Harga Perubahan
30 Jan 2026 (Close) 8.280,8330 +1,50%
24 Feb 2026 (Open) 8.428,05 +1,78%
24 Feb 2026 (Close) 8.280,83 -1,37%

Rentang hari ini (Day Range) tercatat antara 8.259,478 hingga 8.437,089, menunjukkan volatilitas yang cukup lebar meski volume perdagangan tetap tinggi.

Saham Penggerak (Top Gainers) dan Penurun (Top Losers)

Berikut lima saham terbesar yang naik dan turun pada sesi Selasa:

  • Top Gainers: PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) +4,2%; PT Bank Rakyat Indonesia (BBRI) +3,8%; PT Vale Indonesia Tbk (INCO) +3,5%; PT Astra International Tbk (ASII) +3,2%; PT Telkom Indonesia (TLKM) +2,9%.
  • Top Losers: PT Pertamina (Persero) (PERT) -5,1%; PT Adaro Energy Tbk (ADRO) -4,6%; PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) -4,2%; PT Gudang Garam Tbk (GGRM) -3,9%; PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) -3,5%.

Pergerakan saham energi (PERT, ADRO) menjadi faktor utama penurunan indeks, sedangkan saham konsumer dan perbankan menunjukkan resistensi yang relatif kuat.

Analisis Teknis: Level Support dan Resistance

Grafik harian IHSG mengindikasikan level support penting di 8.250,00 dan 8.200,00. Penembusan di bawah 8.200 dapat membuka jalan ke support selanjutnya di 8.150,00. Di sisi lain, resistance terdekat berada di 8.350,00, diikuti oleh level psikologis 8.400,00 yang menjadi target jangka pendek bagi pembeli.

Indikator RSI (Relative Strength Index) berada di zona 38, menandakan kondisi oversold dan memberi peluang bagi pembalikan jangka pendek bila sentimen negatif mereda.

Strategi Investor: Apa yang Harus Dilakukan?

Berikut rekomendasi praktis bagi investor ritel dan institusi:

  • Rebalancing Portofolio: Kurangi eksposur pada sektor energi dan tambahkan alokasi pada sektor konsumer non‑makanan serta perbankan yang masih menunjukkan kekuatan.
  • Gunakan Stop‑Loss Ketat: Mengingat volatilitas, tetapkan stop‑loss di level 2‑3% di bawah harga beli untuk melindungi modal.
  • Manfaatkan Dollar‑Cost Averaging (DCA): Bagi investor jangka panjang, penurunan IHSG dapat menjadi kesempatan menambah posisi di indeks secara berkala.
  • Ikuti Data Ekonomi: Pantau rilis inflasi, kebijakan suku bunga BI, serta data perdagangan luar negeri yang dapat memicu pergerakan selanjutnya.

Outlook Mingguan: Apakah IHSG Akan Memulihkan Diri?

Kalender ekonomi minggu depan menampilkan rilis data PDB Q4 2025, indeks manufaktur IMA, serta pertemuan OJK tentang kebijakan pasar modal. Jika data tersebut menunjukkan pertumbuhan yang kuat, kemungkinan IHSG dapat kembali menguji level 8.350 dalam 3‑5 hari ke depan. Namun, tekanan global dari kebijakan moneter ketat di AS tetap menjadi faktor risiko utama.

Reaksi Pasar dan Komentar Analis

"Penurunan hari ini lebih dipicu oleh sentimen energi dan apresiasi rupiah, bukan fundamental perusahaan Indonesia. Kami masih optimis melihat sektor perbankan dan konsumer tetap kuat," kata Budi Santoso, analis senior di PT Mandiri Sekuritas dalam sebuah wawancara yang dilansir dari Investor.id.

Selain itu,

Salinan dari Bloomberg
menyoroti bahwa aliran dana asing kembali ke pasar obligasi pemerintah, mengurangi likuiditas yang sebelumnya mengalir ke ekuitas.

Kesimpulan Praktis

IHSG pada 24 Februari 2026 mencerminkan dinamika pasar yang sensitif terhadap faktor eksternal seperti harga energi dan nilai tukar. Investor disarankan tetap disiplin, memantau level support/resistance, dan menyesuaikan alokasi sektor sesuai tren yang muncul.

Untuk update real‑time, kunjungi IDX.co.id atau lihat aplikasi resmi Bursa Efek Indonesia.

Bagikan Artikel

Artikel Terkait