Manado, NusaDaily.ID — Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto menegaskan pada forum Board of Peace (BoP) bahwa Indonesia siap mengirimkan minimal 8.000 pasukan perdamaian ke Gaza, Palestina, sebagai bagian dari misi International Stabilization Force (ISF). Pernyataan tersebut disampaikan lewat konferensi pers yang dihadiri wartawan ANTARA News Manado, menguatkan komitmen Jakarta dalam upaya menstabilkan wilayah yang telah lama dilanda konflik.
Kesiapan Indonesia dalam Mengirim Pasukan Perdamaian
Prabowo mengungkapkan bahwa TNI telah menyiapkan satuan-satuan khusus yang akan terlibat, meliputi pasukan darat, unit medis, serta tim logistik. "Kami memiliki kemampuan operasional, dukungan logistik, dan kesiapan mental untuk menunaikan mandat perdamaian di Gaza," tegasnya. Menurut data Kementerian Pertahanan, 8.000 prajurit yang akan dikirimkan terdiri atas 5.000 personel infanteri, 1.500 tenaga medis, 1.000 ahli teknik kontruksi, dan 500 personel pendukung lainnya.
Peran Indonesia di International Stabilization Force (ISF)
ISF dibentuk oleh lima negara pionir yang menjadi anggota BoP, termasuk Indonesia, Malaysia, Turki, Qatar, dan Uni Emirat Arab. Sebagai wakil komandan ISF, Indonesia akan memegang peran strategis dalam penempatan pasukan di wilayah selatan Rafah, Gaza. "Indonesia tidak hanya mengirim personel, tetapi juga turut merumuskan kebijakan operasi, koordinasi dengan pasukan kepolisian Palestina, serta pelatihan keamanan lokal," ujar Panglima TNI Andika Perkasa dalam sebuah briefing internal.
"Keterlibatan kami di Gaza mencerminkan tekad Indonesia untuk menjadi aktor perdamaian yang kredibel di panggung internasional," kata Prabowo Subianto.
Tantangan Operasional di Gaza
Gaza masih berada dalam kondisi blokade ketat, dengan infrastruktur yang rusak parah akibat konflik berkepanjangan. Menurut laporan United Nations Office for the Coordination of Humanitarian Affairs (OCHA) per Februari 2026, lebih dari 70 persen bangunan sipil di wilayah selatan tidak layak huni. Oleh karena itu, TNI harus mempersiapkan peralatan khusus, termasuk kendaraan lapis baja berpendingin, unit penyedia air bersih, serta tim medis yang terlatih dalam menangani trauma perang.
Selain itu, keamanan pribadi pasukan menjadi prioritas. ISF menargetkan penempatan awal di zona demiliterisasi yang dijamin oleh United Nations Truce Supervision Organization (UNTSO). Rencana jangka pendek mencakup pelatihan dasar 30 hari di pangkalan militer TNI AD di Bogor, sementara pelatihan lanjutan akan dilakukan di wilayah perbatasan Aceh untuk simulasi medan urban.
Reaksi Internasional dan Domestik
Komunitas internasional memberikan sambutan beragam. Amerika Serikat dan Uni Eropa menyambut baik partisipasi Indonesia, menilai kontribusi Asia Tenggara sebagai penyeimbang geopolitik di Timur Tengah. Namun, beberapa negara Arab mengekspresikan keprihatinan terkait potensi escalasi konflik jika pasukan tambahan masuk tanpa koordinasi penuh dengan otoritas Palestina.
Di dalam negeri, kelompok masyarakat sipil dan organisasi kemanusiaan memberikan dukungan moral. Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Indonesia untuk Perdamaian (ISIP) mengeluarkan pernyataan, "Keterlibatan TNI di Gaza adalah wujud nyata kebijakan luar negeri yang menekankan pada perdamaian dan solidaritas umat manusia."
Sementara itu, partai politik oposisi menyoroti aspek anggaran, mengingat alokasi dana pertahanan mencapai Rp 35 triliun untuk misi ini. Anggota DPR RI dari Fraksi Partai Demokrat, Rina Widyasari, meminta transparansi penggunaan dana, terutama untuk logistik dan perlindungan pasukan.
Langkah Selanjutnya: Persiapan dan Penempatan
Jadwal resmi menunjukkan bahwa proses seleksi prajurit akan dimulai pada minggu depan, dengan fokus pada personel yang memiliki pengalaman operasi internasional, seperti misi UNIFIL di Lebanon. Setelah proses seleksi, 2.000 prajurit pertama akan berangkat ke Gaza pada akhir Maret 2026, diikuti gelombang berikutnya setiap tiga bulan.
Untuk mendukung keberangkatan, Kementerian Luar Negeri telah menyiapkan perjanjian bilateral dengan Pemerintah Palestina, termasuk fasilitas akomodasi di kamp kepolisian Rafah, serta perjanjian perlindungan hukum bagi personel TNI di luar negeri.
| Kategori | Jumlah Personel |
|---|---|
| Infanteri | 5.000 |
| Tenaga Medis | 1.500 |
| Ahli Teknik | 1.000 |
| Logistik & Pendukung | 500 |
Harapan Jangka Panjang
ISF menargetkan penempatan total hingga 20.000 personel di Gaza dalam lima tahun ke depan, dengan rencana melatih 12.000 anggota kepolisian Palestina. Indonesia, sebagai salah satu pionir, berharap kontribusinya dapat mempercepat proses rekonstruksi, mengurangi ketegangan, serta membuka ruang dialog politik yang lebih luas antara Israel dan Palestina.
Seperti yang diungkapkan oleh Menteri Luar Negeri Retno Marsudi dalam wawancara dengan Antara News Sulawesi Utara, "Kehadiran pasukan Indonesia di Gaza bukan sekadar mengirim pasukan, melainkan mengirimkan harapan akan perdamaian yang berkelanjutan."
