Politik

Inggris Pastikan Drone Penabrak Pangkalan Akrotiri Bukan Dari Iran

Pemerintah Inggris mengonfirmasi drone yang menghantam pangkalan RAF Akrotiri di Siprus pada 2 Maret 2026 bukan berasal dari Iran, menambah ketegangan regional.

N

Nusa Daily

Inggris Pastikan Drone Penabrak Pangkalan Akrotiri Bukan Dari Iran
Inggris Pastikan Drone Penabrak Pangkalan Akrotiri Bukan Dari Iran

Nikosia, NusaDaily.ID — Sebuah pesawat nirawak menabrak landasan pacu RAF Akrotiri, pangkalan militer Inggris di Siprus Selatan, pada Senin (2/3/2026). Menurut Kementerian Pertahanan Inggris, drone tersebut tidak berasal dari Iran. Penjelasan resmi itu muncul bersamaan dengan pernyataan dari Presiden Siprus Nikos Christodoulides yang mengonfirmasi kerusakan pada fasilitas dan menegaskan akan menindaklanjuti penyelidikan.

Serangan Drone di Akrotiri: Kronologi Kejadian

Pukul 07.45 waktu setempat, radar pertahanan udara pangkalan RAF Akrotiri mendeteksi objek tak berawak yang meluncur dengan kecepatan tinggi dari arah selatan. Tim respons cepat segera mengaktifkan sistem pertahanan, namun drone berhasil menembus zona pertahanan dan menabrak salah satu landasan pacu utama. Dampak tabrakan menimbulkan lubang berukuran sekitar tiga meter dan menyebabkan kebakaran kecil yang berhasil dipadamkan dalam waktu dua belas menit.

Menurut laporan CCTV yang dipublikasikan oleh CNBC Indonesia, tidak ada korban jiwa. Satu personel mengalami luka ringan akibat percikan bahan bakar. Tim medis pangkalan melaporkan semua korban telah stabil dan dipindahkan ke rumah sakit sipil di Larnaca.

Setelah insiden, pesawat Typhoon milik RAF yang berada di hangar dipindahkan ke tempat aman. Operasi penerbangan harian pangkalan yang biasanya mendukung misi patroli di wilayah Mediterania dan Timur Tengah sempat ditunda selama tiga jam.

Pernyataan Resmi Pemerintah Inggris

Kementerian Pertahanan (MoD) Inggris mengeluarkan pernyataan pada pukul 10.30 GMT, menegaskan bahwa analisis awal terhadap sisa-sisa drone menunjukkan komponen elektronik dan bahan bakar yang tidak sejalan dengan standar produksi Iran. "Berdasarkan data forensik awal, kami dapat memastikan bahwa drone tersebut tidak diproduksi atau dikendalikan oleh pihak Iran," kata Menteri Pertahanan, Grant Shapps dalam konferensi pers virtual.

"Kami menolak segala spekulasi yang belum didukung bukti. Fokus kami adalah mengamankan personel, memulihkan operasional pangkalan, dan memastikan penyelidikan berjalan transparan," tutup Shapps.

MoD menambahkan bahwa pihak keamanan sipil Siprus telah membantu proses identifikasi komponen, dan bahwa kerjasama dengan intelijen NATO serta negara sahabat lainnya sedang berlangsung.

Analisis Sumber dan Motif Drone

Penyelidikan awal melibatkan tim gabungan dari RAF, intelijen Inggris, serta unit khusus Pertahanan Siprus. Tim forensik menemukan bahwa struktur rangka drone terbuat dari aluminium alloy yang umum dipakai pada UAV buatan Turki dan Rusia, bukan pada varian yang biasanya diproduksi Iran.

Beberapa analis militer independen, termasuk yang dilaporkan oleh portal Feovle, berpendapat bahwa drone tersebut mungkin berasal dari kelompok milisi yang beroperasi di wilayah Levant, yang memiliki akses ke persediaan peralatan militer bekas Perang Suriah. Namun, belum ada konfirmasi resmi mengenai identitas kelompok tersebut.

Dalam upaya menyingkirkan dugaan keterlibatan Iran, pemerintah Inggris menyoroti bahwa pada hari yang sama, Iran meluncurkan satu rudal balistik yang kemudian berhasil ditembak jatuh oleh sistem pertahanan NATO di Turki, sebagaimana dilaporkan oleh jaringan berita internasional.

Reaksi Regional dan Dampak Keamanan

Presiden Siprus, Nikos Christodoulides, dalam pernyataan resmi di Istana Presiden, menegaskan bahwa pemerintah Siprus akan memberikan segala bantuan yang diperlukan kepada Inggris. "Kami menolak segala bentuk agresi terhadap kedaulatan sekutu kami. Penyelidikan akan dilakukan secara menyeluruh dan transparan," ujarnya.

Perancis dan Yunani, yang juga menempatkan aset militer di wilayah Mediterania, segera mengirimkan sistem pertahanan udara tambahan ke pangkalan mereka masing-masing. Menurut laporan Evening Up CNBC Indonesia, Pasukan Pertahanan Udara Prancis (Crotale) dan Sistem Pertahanan Aegis Yunani telah dikerahkan untuk meningkatkan kesiapsiagaan selama 48 jam ke depan.

Ketegangan di kawasan Timur Tengah, yang telah meningkat sejak Inggris menyetujui penggunaan pangkalan Akrotiri untuk operasi kontra-terorisme AS terhadap fasilitas rudal Iran, kini kembali menjadi sorotan. Kejadian ini menambah beban diplomatik bagi London, terutama menjelang keputusan Inggris untuk tidak ikut serta dalam koalisi Amerika Serikat dan Israel melawan Iran.

Langkah Selanjutnya dan Implikasi Politik

MoD mengumumkan bahwa operasi pemulihan akan memakan waktu hingga dua minggu, dengan prioritas utama adalah mengembalikan kemampuan tempur Typhoon. Selama periode ini, pangkalan akan beroperasi dengan dukungan darurat dari pangkalan RAF lainnya di Inggris.

Secara politik, pernyataan tegas Inggris mengenai asal-usul drone dipandang sebagai upaya menghindari eskalasi konflik dengan Tehran. Menteri Luar Negeri Inggris, James Cleverly, menegaskan bahwa Inggris tetap berkomitmen pada keamanan regional, namun tidak akan terlibat dalam perang proxy yang dapat memperburuk situasi.

Para pengamat keamanan di Universitas King’s College London menilai bahwa insiden ini dapat menjadi titik balik dalam hubungan Inggris‑Iran, terutama mengingat adanya perjanjian non-proliferasi yang sedang dinegosiasikan. "Jika Inggris berhasil membuktikan bahwa Iran tidak terlibat, maka ada peluang untuk membuka kanal diplomatik kembali," kata Dr. Michael Clarke, pakar keamanan internasional.

Di sisi lain, kelompok pro‑Iran di dalam negeri Inggris dan Amerika menilai pernyataan MoD sebagai upaya mengalihkan perhatian dari kebijakan luar negeri Inggris yang dianggap pro‑AS. Mereka menuntut transparansi penuh dalam investigasi dan menyiapkan aksi protes di London dan Manchester pada akhir pekan ini.

Untuk menutup, pihak keamanan Siprus menegaskan bahwa zona udara di sekitar Akrotiri akan tetap dalam status lockdown selama 48 jam ke depan, dengan patroli udara terus-menerus oleh helikopter Eurocopter dan pesawat tempur RAF. Penyidikan forensik diperkirakan memerlukan waktu tiga sampai empat minggu sebelum hasil akhir diumumkan.

Bagikan Artikel

Artikel Terkait