BUNGO, NUSADAILY.ID – Di tengah perayaan 81 tahun kemerdekaan Indonesia, sebuah panggung teater di Bungo memilih cara yang tidak biasa untuk mengajak penonton melihat kembali sejarah: bukan melalui pidato, seremoni atau parade, melainkan melalui pergulatan manusia di tengah revolusi.
Teater Bhavana kembali memproduksi pertunjukan tunggal sebagai bagian dari refleksi kemerdekaan Republik Indonesia. Produksi kelima manajemen Teater Bhavana itu mengangkat naskah “Domba-domba Revolusi” karya B. Soelarto, sastrawan dan budayawan yang dikenal melalui karya-karya drama yang merekam persoalan manusia, masyarakat, sejarah serta pergulatan kehidupan pada zamannya.
Pertunjukan yang berlangsung selama tiga hari tersebut digelar dalam tiga kali pementasan. Sekitar 500 penonton dari berbagai kalangan hadir, mulai dari siswa, mahasiswa, komunitas budaya, pemuda, Bujang Gadis Bungo, hingga unsur eksekutif dan legislatif daerah.
Panggung itu pada akhirnya bukan hanya menjadi ruang bagi para aktor untuk memainkan karakter. Ia menjadi ruang perjumpaan antara seni, sejarah dan pertanyaan tentang manusia: bagaimana seseorang bersikap ketika hidup berada dalam situasi yang sulit, genting dan penuh pilihan?
Pertanyaan semacam itulah yang menjadi salah satu napas utama pertunjukan.
Pada pementasan kedua, hadir anggota legislatif Kabupaten Bungo, Ir. Rindang Sarmelin Siahaan dari Fraksi PDI Perjuangan. Ia memberikan apresiasi terhadap kerja kreatif Teater Bhavana sekaligus menyebut naskah “Domba-domba Revolusi” sebagai pertunjukan yang menarik.
“Saya sangat bangga dan sangat mengapresiasi kerja-kerja kreatif ini karena memang tidaklah mudah. Untuk itu, teruslah berkarya,” kata Rindang dalam sesi tanggapan seusai pertunjukan.
Bagi Rindang, teater tidak semata-mata perkara hiburan. Ada sesuatu yang lebih dalam yang hendak disentuh melalui panggung, kepekaan manusia dalam memahami pengalaman sejarah dan kehidupan orang lain.
“Lagi pula, perjuangan bangsa ini juga bermula dari para seniman,” ujarnya.
Pernyataan tersebut menempatkan seni bukan sebagai pelengkap dalam perjalanan kebangsaan, melainkan sebagai salah satu medium yang sejak lama ikut membentuk kesadaran masyarakat.
Dalam konteks itu, “Domba-domba Revolusi” menjadi relevan bukan hanya karena mengambil latar revolusi, tetapi karena menghadirkan manusia yang harus berhadapan dengan keadaan yang memaksanya memilih.
Teater Bhavana sendiri diisi oleh orang-orang yang telah lama berkecimpung secara profesional di dunia teater. Meski secara manajerial Bhavana baru hadir dalam beberapa tahun terakhir, para penggeraknya disebut telah memiliki pengalaman dan keahlian di bidang seni pertunjukan selama belasan tahun.
Produser Pertunjukan Tunggal Teater Bhavana, Ikhwan Fadhil, menyampaikan terima kasih kepada seluruh penonton dan pihak yang telah terlibat dalam produksi tersebut.
Ia menilai pertunjukan yang dipersiapkan bersama tim itu menjadi sebuah pengalaman penting sekaligus menunjukkan bahwa kerja kreatif membutuhkan keterlibatan banyak pihak.
Sementara itu, Manajer Produksi sekaligus Stage Manager Teater Bhavana, Angga Saputra, mengajak penonton tidak berhenti pada cerita yang disaksikan di atas panggung.
Ia mengajukan sebuah pertanyaan sederhana, tetapi mengandung persoalan yang panjang, “Jika kita hidup di tengah revolusi, kita akan menjadi siapa?”
Pertanyaan itu menjadi pintu masuk untuk memahami pertunjukan secara lebih luas.
Menurut Angga, “Domba-domba Revolusi” bukan sekadar pertunjukan teater dengan tema revolusi. Ia menghadirkan manusia yang berada dalam situasi sulit dan genting, ketika berbagai hal yang dianggap penting dalam kehidupan dapat dipertaruhkan jiwa, raga, cinta, kepercayaan, jabatan, bahkan kesetiaan.
Pada titik itulah revolusi tidak lagi hanya menjadi cerita tentang masa lalu. Ia berubah menjadi cermin.
Penonton diajak melihat bagaimana manusia bertindak ketika berada di bawah tekanan, bagaimana pilihan dibuat ketika tidak ada jalan yang sepenuhnya mudah, dan bagaimana batas antara keberanian, kepentingan, pengkhianatan serta kesetiaan dapat menjadi begitu tipis.
Bagi Teater Bhavana, pertunjukan tersebut sekaligus menjadi cara untuk merawat ingatan kemerdekaan melalui seni. Sebuah upaya untuk mengingat bahwa sejarah tidak hanya dibangun oleh tokoh-tokoh besar dan peristiwa yang tercatat dalam buku, tetapi juga oleh manusia biasa yang hidup di tengah zaman yang penuh pergulatan.
Dan di panggung “Domba-domba Revolusi”, pertanyaan tentang revolusi akhirnya kembali kepada manusia; ketika keadaan memaksa kita memilih, kita akan menjadi siapa?
Redaksi Nusadaily.id
