Bandar Lampung, NusaDaily.ID — Pemerintah Iran mengumumkan penutupan sementara Selat Horm, yang merupakan jalur vital minyak global, sebagai bagian dari latihan militer yang digelar di tengah perundingan nuklir dengan Amerika Serikat. Tindakan ini memicu kekhawatiran besar di kalangan negara-negara yang bergantung pada impor minyak melalui jalur tersebut. Selat Hormuz, yang terletak antara Iran dan Oman, memiliki lebar sekitar 50 km, dengan titik tersempit sekitar 40 km, menjadi titik hambat utama minyak dunia.
Titik Hambat Minyak Dunia yang Membahayakan Global
Menurut data firma Kpler, sekitar 13 juta barel minyak mentah melintasi Selat Hormuz per hari sepanjang 2025. Selat ini memisahkan Teluk Persia di sebelah barat dengan Teluk Oman dan Laut Arab di sebelah timur. Jika terjadi gangguan di sini, dampaknya akan sangat luas, karena sekitar 20 persen lalu lintas perdagangan minyak global melewati jalur ini.
Iran Gelar Latihan Militer, Tantang AS di Tengah Perundingan Nuklir
Latihan militer Iran di Selat Hormuz dilakukan sebagai unjuk kekuatan di tengah perundingan nuklir dengan AS di Jenewa, Swiss. Pernyataan ini menunjukkan bahwa Iran tidak gentar menghadapi tekanan AS, terutama dalam isu nuklir. Dalam latihan ini, Iran menutup sebagian Selat Hormuz untuk simulasi pertahanan terhadap kemungkinan gempuran militer AS.
Keamanan Energi Dunia Terancam, Hukum Internasional Berlaku
Menurut konvensi PBB tentang hukum laut UNCLOS, Selat Hormuz dianggap sebagai jalur internasional yang dapat dilalui oleh kapal asing tanpa penghalangan selama pelayaran damai. Namun, tindakan penutupan sementara oleh Iran memicu kekhawatiran bahwa hukum internasional bisa diabaikan dalam situasi krisis. Meski demikian, secara hukum, semua kapal asing tetap berhak melewati jalur ini.
Konteks Diplomasi dan Tantangan Global
Penutupan Selat Hormuz oleh Iran terjadi di tengah negosiasi nuklir yang sedang berlangsung. AS dan Iran berusaha mencapai kesepakatan yang seimbang, tetapi ketegangan masih tinggi. Dengan menutup jalur vital minyak ini, Iran mencoba menunjukkan sikap keras terhadap AS, sementara dunia khawatir akan dampak ekonomi global jika terjadi gangguan signifikan.
