Jakarta, NusaDaily.ID — Iran resmi menutup Selat Hormuz pada Rabu, 27 Februari 2026, tak lama setelah serangan udara gabungan Amerika Serikat dan Israel menargetkan instalasi militer di wilayah Teluk Persia. Penutupan yang diumumkan oleh Garda Revolusi Iran menimbulkan kepanikan di pasar energi dunia, mengingat selat tersebut menyumbang sekitar 20 persen volume perdagangan minyak mentah global setiap harinya.
Detik‑detik Penutupan: Apa yang Terjadi?
Menurut siaran resmi Komando Garda Revolusi Iran, perintah penutupan diberlakukan mulai pukul 02.00 waktu setempat, dengan ancaman penggunaan rudal anti‑kapal terhadap setiap kapal yang melanggar larangan. "Kami menolak segala bentuk agresi terhadap kedaulatan Iran. Selat Hormuz akan tetap ditutup sampai ancaman selesai," ujar Brigadir Jenderal Mohammad Reza Falah, komandan Armada Laut Iran, dalam konferensi pers di Bandar Abbas.
Penutupan tersebut diikuti oleh laporan kapal tanker minyak yang menghindari rute tradisional. Sebuah armada berjumlah tujuh kapal tanker, masing‑masing berkapasitas 300.000 barrel, memutar arah ke Laut Arab melalui Selat Bab al‑Mandab, mengindikasikan perubahan strategi logistik yang cepat.
Reaksi Internasional: Dari Washington hingga Doha
Departemen Luar Negeri Amerika Serikat menanggapi dengan menyatakan penutupan itu "tidak dapat diterima" dan menegaskan kesiapan untuk menegakkan kebebasan navigasi di selat tersebut. "Kami akan berkoordinasi dengan sekutu untuk memastikan jalur perdagangan minyak tidak terganggu," kata Duta Besar AS untuk Uni Emirat Arab, Linda G. Thompson, dalam pernyataan resmi kepada media.
Di sisi lain, Kementerian Luar Negeri Iran menolak tuduhan bahwa penutupan merupakan reaksi langsung terhadap serangan. "Penutupan adalah tindakan preventif yang sudah dipersiapkan sejak lama, mengingat adanya ancaman pemboman kapal-kapal asing di wilayah kami," ujar pejabat senior, Haji Ahmad Rezaei, dalam wawancara yang dilansir oleh Al‑Jazeera.
Negara‑negara produsen minyak GCC (Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Kuwait, Qatar, dan Bahrain) mengadakan pertemuan darurat di Doha pada hari yang sama. Menteri Energi Qatar, Saad al‑Thani, menegaskan bahwa negara‑negara tersebut siap meningkatkan produksi untuk menutup kesenjangan pasokan, sambil menunggu keputusan PBB terkait keamanan pelayaran.
Dampak Ekonomi: Harga Minyak Melonjak dan Risiko Resesi
Pasar komoditas merespon penutupan dengan cepat. Harga Brent Futures naik 7,2 persen menjadi US$ 111 per barrel dalam tiga jam pertama, sedangkan harga WTI melonjak 6,8 persen menjadi US$ 106 per barrel. Analis Bloomberg, Karen Liu, memperingatkan bahwa gangguan berkelanjutan dapat menurunkan pertumbuhan ekonomi global sebesar 0,3 poin PDB pada kuartal berikutnya.
Bank Sentral Eropa (ECB) dan Federal Reserve AS memantau situasi dengan cermat, mengingat volatilitas energi dapat memicu inflasi lebih tinggi dari perkiraan. "Kenaikan harga energi akan menambah tekanan pada konsumen, khususnya di negara‑negara berkembang," ungkap pejabat ECB dalam briefing yang dilansir dari Reuters.
Berikut rangkuman perubahan harga minyak sejak penutupan Selat Hormuz:
| Waktu (GMT) | Brent (USD/barrel) | WTI (USD/barrel) |
|---|---|---|
| 02:00 | 103,50 | 98,20 |
| 04:00 | 108,70 | 102,40 |
| 06:00 | 111,00 | 106,00 |
Strategi Logistik Alternatif: Rute Baru dan Risiko Tambahan
Dengan Selat Hormuz tak dapat dilewati, kapal tanker kini beralih ke Selat Bab al‑Mandab, mengarahkan lalu lintas melalui Laut Merah dan terusan Suez. Rute ini menambah jarak tempuh rata‑rata 1.300 mil laut, meningkatkan biaya bahan bakar sekitar 15‑20 persen.
Selain itu, kapalnya harus melewati zona konflik di Laut Merah, yang masih dipengaruhi oleh milisi Houthi di Yaman. Pada bulan Januari 2026, kapal tanker berkapasitas 250.000 barrel dilaporkan menjadi target serangan roket Houthi, meski tidak ada kerusakan signifikan.
Pengiriman gas cair (LNG) juga terpengaruh. Pihak operator LNG Qatar, QatarEnergy, mengumumkan penyesuaian jadwal pengiriman ke Jepang dan Korea Selatan, mengingat peningkatan waktu transit dan biaya asuransi yang naik dua kali lipat.
Langkah Diplomatik: PBB, IMO, dan Upaya De‑eskalasi
Majelis Umum Perserikatan Bangsa‑Bangsa (UN) menggelar sesi darurat pada hari Selasa, 26 Februari 2026, untuk membahas keamanan pelayaran di Selat Hormuz. Sekretaris Jenderal Antonio Guterres menyerukan semua pihak untuk "menjaga kebebasan navigasi" dan menolak penggunaan kekuatan militer sebagai alat politik.
"Penutupan selat merupakan ancaman langsung terhadap stabilitas energi global. Kami mendesak Iran dan sekutunya untuk menghentikan tindakan sepihak," kata Guterres dalam pidato di New York.
International Maritime Organization (IMO) juga mengeluarkan panduan darurat, mengingatkan kapal untuk melaporkan posisi secara real‑time dan menyiapkan protokol evakuasi jika terjadi serangan. "Kepatuhan terhadap konvensi internasional adalah satu‑satunya cara mengurangi risiko korban jiwa," ujar Direktur IMO, Kitack Lim.
Analisis Jangka Panjang: Apakah Penutupan Akan Berlanjut?
Para pengamat geopolitik berpendapat bahwa penutupan Selat Hormuz bisa menjadi langkah taktis Iran untuk menegosiasikan kembali posisi tawar dalam konflik regional. Dr. Farhad Mahdavi, pakar hubungan internasional di Universitas Tehran, menilai bahwa "Iran ingin menunjukkan kemampuan kontrol atas jalur energi utama, sekaligus memberi sinyal kepada Amerika bahwa setiap aksi militer akan dikenai balasan ekonomi yang signifikan."
Namun, risiko eskalasi militer tetap tinggi. Jika Amerika Serikat memutuskan untuk melancarkan serangan balasan udara di pangkalan militer Iran, kemungkinan penutupan akan diperpanjang atau bahkan diperluas ke wilayah perairan lain di Teluk Persia.
Di sisi lain, negara‑negara produsen minyak non‑Iran, khususnya Amerika Serikat dan Arab Saudi, siap meningkatkan output untuk menstabilkan pasar. Menurut data Energy Information Administration (EIA), produksi minyak mentah AS diproyeksikan naik 0,8 juta barrel per hari pada kuartal berikutnya, sementara Arab Saudi menyiapkan cadangan 1,2 juta barrel per hari.
Kesimpulan Sementara: Ketidakpastian yang Membayangi Pasar Global
Penutupan Selat Hormuz oleh Iran menandai titik kritis dalam ketegangan geopolitik Timur Tengah. Dampaknya langsung terasa pada harga minyak, rantai pasokan energi, dan kebijakan moneter dunia. Sementara diplomasi internasional berupaya meredam konflik, ketidakpastian masih menyelimuti pasar, menuntut perhatian khusus dari pelaku industri dan pemerintah di seluruh dunia.
