Politik

Israel dan AS Luncurkan Serangan Udara Besar-besaran ke Tehran: Dampak Langsung dan Respon Global

Israel bersama AS menyerang target militer Iran pada 28 Februari 2026, memicu status darurat, korban jiwa, dan ketegangan geopolitik di Timur Tengah.

N

Nusa Daily

Israel dan AS Luncurkan Serangan Udara Besar-besaran ke Tehran: Dampak Langsung dan Respon Global. Sumber: Vox

Jerusalem, NusaDaily.ID — Pagi hari 28 Februari 2026, Angkatan Darat Israel (IDF) mengumumkan peluncuran operasi udara pendahuluan ke wilayah Tehran, Iran, yang diklaim sebagai langkah preventif untuk menghilangkan ancaman balasan berskala besar. Serangan tersebut dilaksanakan secara terkoordinasi dengan Amerika Serikat, yang menempatkan armada pesawat tempur dan kapal perang di perairan Teluk Persia.

Serangan Pendahuluan yang Dikoordinasikan

Menurut laporan Jerusalem Post, operasi yang dinamai "Operasi Sentinel" dimulai sekitar pukul 09.30 waktu setempat. Pesawat F-35I Adir Israel menembakkan sejumlah misil presisi terhadap fasilitas militer Iran, termasuk pangkalan udara Imam Khomeini, pusat komando Rudal Balistik di wilayah Qom, serta instalasi penyimpanan bahan peledak di daerah Karaj.

Salinan dari Bloomberg menambahkan, "Amerika Serikat turut mengirimkan dua grup pesawat F-15EX dan F-35A, serta kapal perusak kelas Arleigh Burke, yang beroperasi di Selat Hormuz untuk mendukung penetrasi udara Israel dan memberikan perlindungan udara terhadap ancaman drone Iran."

"Kami menargetkan hanya instalasi militer yang jelas‑jelas mengancam keamanan Israel dan sekutu kami. Operasi ini telah direncanakan berbulan‑bulan dan dilakukan dengan koordinasi penuh dengan Amerika Serikat," ujar Brigadir Jenderal Efraim Halevi, juru bicara Angkatan Darat Israel, kepada wartawan di pangkalan militer Tel Nof.

Reaksi Pemerintah Iran dan Dampak di Lapangan

Dalam waktu satu jam setelah serangan, Kementerian Pertahanan Iran mengeluarkan pernyataan resmi yang menuduh Israel melakukan "serangan teroris" yang melanggar hukum internasional. Menurut Menteri Pertahanan Iran, Amir Hatami, serangan tersebut menewaskan setidaknya 37 personel militer dan menyebabkan kerusakan pada infrastruktur penting, termasuk menara radar di distrik Shahrak-e Gharb, Tehran.

Sumber Tribun Pekanbaru melaporkan bahwa warga sipil di kawasan Gisha, sebuah permukiman padat di selatan Tehran, menyaksikan ledakan besar yang mengakibatkan kerusakan pada rumah dan menimbulkan kepanikan massal. Tim SAR setempat melaporkan 12 korban jiwa sipil dan lebih dari 40 luka-luka.

  • Korban militer: 37 (termasuk 5 pilot)
  • Korban sipil: 12 meninggal, 40 luka-luka
  • Kerusakan infrastruktur: 3 pangkalan udara, 2 fasilitas penyimpanan rudal, 5 menara radar

Keterlibatan Amerika Serikat: Penempatan Armada dan Pernyataan Resmi

Pemerintah Amerika Serikat, melalui Departemen Pertahanan, mengonfirmasi kehadiran grup pesawat tempur di wilayah tersebut. Sekretaris Pertahanan Lloyd Austin menyatakan, "Kami mendukung Israel dalam melindungi keamanan regional, dan penempatan armada kami merupakan langkah preventif untuk menahan eskalasi lebih lanjut dari pihak Iran."

Menurut laporan BBC yang dilansir oleh Global News, AS juga mengirimkan kapal induk USS Gerald R. Ford ke Laut Arab untuk menambah kehadiran militer di kawasan. Komentar tersebut memicu protes keras dari pemerintah Tehran, yang menuduh AS memicu perang terbuka.

Implikasi Regional dan Respon Internasional

Negara‑negara sekutu Israel, seperti Arab Saudi dan Uni Emirat Arab, mengeluarkan pernyataan yang mendukung tindakan Israel, menekankan bahwa "ancaman program nuklir Iran harus dihadapi dengan tindakan tegas". Sebaliknya, negara‑negara lain, termasuk Prancis, Jerman, dan Turki, menyerukan penarikan kembali tindakan militer dan mengajak semua pihak kembali ke meja diplomasi.

Di Dewan Keamanan PBB, Rusia menolak resolusi yang mengutuk Israel, menyebutnya "intervensi tidak sah" dan menuntut agar Amerika Serikat menghentikan eskalasi. Sementara itu, Iran mengumumkan kesiapan meluncurkan serangan balasan menggunakan drone Shahed‑136 dan rudal balistik pada 2-3 hari ke depan.

Analisis Militer: Target, Taktik, dan Prospek Konflik

Para analis militer menilai bahwa serangan Israel menargetkan tiga kategori utama: (1) fasilitas peluncuran rudal balistik, (2) pangkalan udara yang menampung pesawat tempur Iran, dan (3) instalasi intelijen yang mengawasi pergerakan pasukan Israel. Penggunaan misil berpresisi seperti AGM‑158 JASSM dan Storm Shadow memungkinkan penyerang mengurangi dampak samping pada populasi sipil, meski laporan lapangan menunjukkan kerusakan signifikan pada area pemukiman.

Berikut adalah rangkaian taktik yang diidentifikasi:

  • Penetrasi udara rendah dengan F‑35I untuk menghindari radar Iran.
  • Penggunaan pesawat pengebom taktis A‑400M untuk menyerang target bergerak.
  • Koordinasi dengan kapal perang AS guna menyediakan penindakan udara (air‑cover) dan anti‑ship missile defense.

Jika Iran melancarkan serangan balasan dengan drone dan rudal, Israel diperkirakan akan mengaktifkan sistem pertahanan Iron Dome dan David’s Sling di wilayah selatan Iran, serta menyiapkan serangan balasan udara tambahan. Dampak ekonomi regional juga diproyeksikan mengalami penurunan tajam, terutama pada harga minyak mentah yang diperkirakan naik 5‑7% dalam 24 jam pertama setelah serangan.

ParameterData
Tanggal Serangan28 Februari 2026
Lokasi UtamaTehran, Qom, Karaj
Korban Militer37 jiwa
Korban Sipil12 jiwa (meninggal), 40 luka-luka
Armada AS2 grup F‑15EX, 2 grup F‑35A, Kapal induk USS Gerald R. Ford
Status Darurat IsraelYa (diumumkan pada 28 Februari 2026)

Situasi saat ini masih dalam tahap penilaian. Kedua belah pihak menyiapkan langkah selanjutnya, sementara komunitas internasional menekankan pentingnya menghindari eskalasi yang dapat berujung pada perang terbuka di wilayah yang kaya minyak ini.

Bagikan Artikel

Artikel Terkait