Beirut, NusaDaily.ID — Israel melancarkan serangan udara skala besar ke Lebanon pada 4-5 Maret 2026, menargetkan kawasan permukiman, infrastruktur, dan sebuah hotel di Hazmieh, selatan kota Beirut. Menurut Kementerian Kesehatan Lebanon, 31 warga tewas dan 149 luka-luka tercatat, sementara Israel mengklaim serangan tersebut merupakan balasan terhadap roket yang diluncurkan Hezbollah. Serangan ini memicu evakuasi massal di 16 kota, termasuk wilayah yang biasanya dianggap aman.
Rangkaian Serangan: Dari Beirut hingga Srifa
Serangan dimulai pada malam 4 Maret 2026 ketika pesawat tempur Israel menabrak hotel berkelas tiga bintang di kawasan Hazmieh, tepat di pinggiran Beirut. Tidak ada peringatan sebelumnya, sehingga tamu hotel dan penduduk sekitar tidak sempat mengungsi. Selang beberapa jam, armada drone dan jet pengebom beralih ke selatan, menabrak desa Kfar Tibnit di Lebanon selatan, memicu api besar yang terlihat dari udara pada 2 Februari 2026.
Pada 5 Maret, Israel menargetkan kota Srifa di provinsi Nabatieh, serta dua lokasi tambahan di timur Lebanon. Menurut koresponden Anadolu, serangan di Srifa menghasilkan kerusakan parah pada fasilitas pendidikan dan rumah warga. Di wilayah timur, serangan pada Sabtu malam (20 Februari 2026) dilaporkan menewaskan sekitar 12 orang dan melukai puluhan lainnya, menurut Al Jazeera.
Motif Balasan: Hezbollah vs. Israel
Israel menegaskan bahwa serangan ini merupakan respons langsung terhadap peluncuran roket oleh Hezbollah, yang didukung Iran. Seperti dilaporkan BBC News Indonesia, Hizbullah menembakkan roket ke wilayah Israel setelah serangan drone Israel ke stasiun CIA di Arab Saudi. Israel menyatakan bahwa operasi militer ini bertujuan menghentikan aliran roket dan menghancurkan fasilitas logistik Hezbollah di Lebanon.
Dalam pernyataan resmi, Jenderal Angkatan Udara Israel menambahkan, "Kami akan terus menindak agresi yang mengancam keamanan warga Israel. Setiap serangan harus dibalas dengan tegas untuk melindungi kedaulatan negara kami." Sementara itu, perwakilan Hezbollah menuduh Israel melakukan "genosida" dan menuntut penghentian serangan serta penarikan pasukan dari perbatasan.
Korban Sipil dan Dampak Kemanusiaan
Kementerian Kesehatan Lebanon mengeluarkan data terbaru: 31 orang tewas, termasuk lima anak-anak, dan 149 lainnya mengalami luka-luka, sebagian besar membutuhkan perawatan intensif. Rumah sakit di Beirut dan provinsi selatan dilaporkan hampir kehabisan pasokan darah, memaksa beberapa rumah sakit mengalihkan pasien ke fasilitas di luar negeri.
Selain korban jiwa, serangan ini memicu kepanikan massal. Wali kota Beirut, Jamal Al-Hussein, mengumumkan bahwa 16 kota, termasuk Baalbek, Zahle, dan Marjayoun, harus dikeluarkan penduduknya untuk menghindari bahaya lebih lanjut. Evakuasi tersebut melibatkan lebih dari 200 ribu warga yang dipindahkan ke gudang-gudang darurat yang dikelola oleh Palang Merah Lebanon dan LSM internasional.
"Kami tidak pernah membayangkan bahwa wilayah yang selama ini aman akan menjadi zona perang," kata seorang warga Beirut yang memilih anonim.
Reaksi Internasional dan Upaya Gencatan Senjata
Amerika Serikat, melalui Departemen Luar Negeri, mengeluarkan pernyataan yang menyerukan penarikan segera semua pihak dan menghindari eskalasi lebih lanjut. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) melalui Sekretaris Jenderal mengundang kedua belah pihak ke meja perundingan, menyoroti risiko kemanusiaan yang semakin tinggi.
Iran menuduh Israel melakukan "serangan teroris" dan menyiapkan bantuan militer kepada Hezbollah. Sementara itu, Saudi Arabia mengkritik serangan Israel ke stasiun CIA di Riyadh, menilai tindakan tersebut memperparah ketegangan di kawasan.
Data Ringkas Dampak Serangan
| Wilayah | Tewas | Luka |
|---|---|---|
| Beirut & Hazmieh | 12 | 45 |
| Selatan (Kfar Tibnit, Srifa) | 9 | 57 |
| Timur (20/2) | 12 | 47 |
| Sumatera | - | - |
Data di atas diambil dari laporan resmi Kementerian Kesehatan Lebanon, laporan BBC News Indonesia, dan Al Jazeera. Semua angka masih dapat berubah seiring dengan perkembangan situasi di lapangan.
Langkah Selanjutnya: Penanganan Krisis dan Upaya Rekonstruksi
Pemerintah Lebanon mengumumkan pembentukan tim darurat yang bekerja sama dengan PBB untuk menyalurkan bantuan medis, pangan, dan tempat penampungan. Di sisi lain, Israel menyatakan akan melanjutkan operasi militer hingga semua fasilitas roket Hezbollah dinonaktifkan.
Para analis geopolitik memperkirakan bahwa konflik ini dapat berlanjut selama beberapa minggu ke depan, tergantung pada respon internasional dan kemampuan Hezbollah untuk menahan serangan balasan. Sementara itu, warga sipil di Lebanon terus berjuang mempertahankan kehidupan sehari-hari di tengah keterbatasan listrik, air bersih, dan layanan kesehatan.
