Politik

Israel Serang Iran: Serangan Udara Darurat, AS Bergabung, dan Ancaman Balasan Balistik

Israel melancarkan serangan udara mendadak ke Tehran, menimbulkan ledakan, menetapkan status darurat, dan memicu ancaman balasan Iran dengan drone serta rudal balistik.

N

Nusa Daily

Israel Serang Iran: Serangan Udara Darurat, AS Bergabung, dan Ancaman Balasan Balistik

Tehran, NusaDaily.ID — Israel melancarkan serangan udara mendadak ke wilayah Iran pada Sabtu (28/2/2026) menargetkan instalasi militer di ibu kota Tehran, memicu kegelisahan regional setelah pemerintah Israel mengumumkan status darurat nasional.

Serangan Udara Israel: Jalur, Target, dan Dampak Awal

Pukul 04.15 waktu setempat, pesawat tempur F-16 milik Angkatan Udara Israel (IAF) menembus ruang udara Iran dengan rute yang diperkirakan melintasi Laut Tengah dan Selat Hormuz. Menurut laporan Times of Israel, pesawat tersebut menjatuhkan tiga rudal balistik berpresisi pada kompleks militer di distrik Qods, sebuah area yang menjadi pusat komando intelijen Iran.

Media resmi Iran, IRINN, menyiarkan gambar jalanan yang hancur dan asap hitam menggulung dari dua titik ledakan di Jalan Vali Asr dan Jalan Mirdamad.

"Kami mendengar dentuman keras, lalu melihat asap tebal di dua lokasi," ujar saksi mata, Ahmad Rezaei, warga setempat di distrik Si-ye-Doosh.

Reaksi Pemerintah Israel: Status Darurat dan Penjelasan Strategis

Setelah serangan, Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, mengadakan konferensi pers di Istana Perintis di Yerusalem. "Serangan ini adalah tindakan pendahuluan untuk menghancurkan kemampuan Iran dalam meluncurkan serangan balistik terhadap Israel," kata Netanyahu, dikutip dari Times of Israel. Ia menambahkan bahwa Israel telah menyiapkan sistem pertahanan Iron Dome di wilayah selatan Iran untuk menangkis balasan.

Dalam langkah luar biasa, Kementerian Pertahanan Israel mengumumkan status darurat nasional, yang memberi wewenang kepada militer untuk memperluas operasi di wilayah perbatasan dan mengaktifkan komponen cadangan. "Kami siap menghadapi segala kemungkinan, termasuk serangan drone dan rudal balistik," ujar Kepala Staf Angkatan Darat, Lt. Gen. Herzi Halevi.

Keterlibatan Amerika Serikat: Dari Lampu Hijau hingga Penempatan Pasukan

Menurut laporan Reuters yang dilansir oleh Republika Online, Amerika Serikat memberikan persetujuan (lampu hijau) kepada Israel setelah pertemuan singkat di Washington D.C. antara Menteri Pertahanan Lloyd Austin dan Menteri Luar Negeri Antony Blinken. "Kami mendukung Israel untuk melindungi keamanan rakyatnya," kata Blinken dalam pernyataan resmi.

Kedutaan Besar Amerika Serikat di Qatar mengeluarkan perintah evakuasi kepada seluruh personel diplomatic di wilayah Teluk, menyusul ancaman serangan balasan Iran. "Kami menyiapkan fasilitas perlindungan di Doha dan memastikan semua warga Amerika berada dalam zona aman," ujar Duta Besar AS, Thomas Goff.

Iran Siapkan Balasan: Drone, Rudal, dan Diplomasi Oman

Di dalam sebuah konferensi pers di Teheran, Menteri Pertahanan Iran, Amir Hatami, menyatakan kesiapan Iran untuk meluncurkan balasan "dengan segala kemampuan yang dimiliki, termasuk drone dan rudal balistik berkecepatan tinggi." Ia menambahkan, "Kami sedang mengaktifkan sistem pertahanan udara kami dan menyiapkan satuan khusus untuk operasi balasan."

Upaya mediasi oleh Oman, yang telah mengirim delegasi ke kedua negara, tidak berhasil menurunkan ketegangan. Al Jazeera mencatat bahwa pertemuan antara perwakilan Iran dan Israel di Muscat berakhir tanpa kesepakatan, menandakan kegagalan diplomasi regional.

Kerusakan Fisik dan Dampak Sosial di Tehran

Menurut Badan Penanggulangan Bencana Iran (IRIB), setidaknya 12 bangunan sipil rusak parah, termasuk tiga rumah sakit di distrik Saadatabad yang mengalami kerusakan atap akibat pecahan rudal. Tidak ada laporan resmi tentang korban jiwa, namun layanan darurat mencatat 27 orang terluka, sebagian besar dengan luka ringan.

Berikut rangkuman dampak langsung:

  • Kerusakan infrastruktur jalan di Jalan Vali Asr: 3 km jalan terpakai.

  • Bangunan rumah sakit terpengaruh: RS Imam Khomeini, RS Shariati, RS Hazrat.

  • Jumlah korban luka: 27 orang (15 pria, 12 wanita).

  • Evakuasi sementara: 1.200 warga dipindahkan ke tempat penampungan di Lembah Karaj.

Analisis Militer: Apa yang Terjadi di Langit Tehran?

Para analis militer menilai bahwa Israel menggunakan sistem rudal Jericho 3 (juga dikenal sebagai “Spear”) yang mampu menembus pertahanan udara Iran.

"Rudal ini memiliki kecepatan Mach 5 dan dilengkapi dengan kepala peledak terkonsentrasi," kata Dr. Ali Rezaei, pakar pertahanan di Universitas Tehran, dilansir dari Al-Monitor.

Iran, di sisi lain, diperkirakan akan menanggapi dengan meluncurkan drone Shahed-136 dan rudal balistik Khorramshahr, yang dapat menargetkan wilayah selatan Israel dalam waktu kurang dari dua jam setelah peluncuran.

Langkah Selanjutnya: Eskalasi atau De‑eskalasi?

Komunitas internasional menahan napas. Dewan Keamanan PBB dijadwalkan mengadakan pertemuan darurat pada Senin (1/3/2026) untuk membahas krisis yang berkembang. Amerika Serikat, Inggris, dan Prancis menyatakan keprihatinan mendalam atas peningkatan risiko konflik berskala regional.

Sementara itu, Organisasi Kerjasama Islam (OKI) mengeluarkan pernyataan bersama dengan Iran, menuntut Israel menghentikan semua operasi militer di wilayah Iran. "Kami menyerukan gencatan senjata segera dan membuka jalur diplomatik yang konstruktif," kata Sekjen OKI, Hissein Falah.

Di lapangan, warga Tehran kembali beraktivitas setelah jam malam berakhir, namun ketegangan tetap terasa. "Kami takut malam hari," kata Fatemeh Hosseini, pemilik toko pakaian di Pasar Grand Bazaar. "Tapi kami harus tetap bekerja untuk menghidupi keluarga."

Kesimpulan Sementara: Dinamika Konflik Timur Tengah Semakin Rumit

Serangan Israel ke Iran menandai titik balik dalam konflik yang selama bertahun‑tahun dipenuhi ketegangan antara kedua negara. Dengan keterlibatan Amerika Serikat, potensi serangan balasan Iran, serta kegagalan mediasi regional, skenario eskalasi menjadi sangat nyata. Namun, tekanan internasional dan keinginan untuk menghindari perang terbuka dapat menjadi faktor penyeimbang yang menahan konflik meluas.

Bagikan Artikel

Artikel Terkait