Profile

Jejak Ibnu Sina: Profil Lengkap Sang Bapak Kedokteran yang Diperingati di Bukhara 2026

Di tengah peringatan kelahiran Ibnu Sina di Bukhara, Uzbekistan, NusaDaily.ID menyajikan profil lengkap, sejarah, dan metode belajar sang polymath yang masih relevan hingga kini.

N

Nusa Daily

Jejak Ibnu Sina: Profil Lengkap Sang Bapak Kedokteran yang Diperingati di Bukhara 2026

Jakarta, NusaDaily.ID — Pada 22 Juni 2026, warga Bukhara, Uzbekistan, memperingati 1046 tahun kelahiran Ibnu Sina dengan serangkaian seminar, pameran, dan lokakarya yang menyoroti warisan ilmiah sang filsuf‑dokter. Sejumlah akademisi Indonesia, termasuk dosen Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada, turut hadir, menandai kembali relevansi pemikiran Ibnu Sina dalam pendidikan modern.

Sejarah Awal Kehidupan Ibnu Sina

Ibnu Sina, atau yang lebih dikenal dengan nama Latin Avicenna, lahir pada tahun 980 M di Afşinah, Bukhara—kini wilayah Uzbekistan. Nama lengkapnya Abu Ali al‑Husain bin Abdullah bin Sina. Ayahnya, Abdullah al‑Sinai, adalah seorang pedagang yang kemudian beralih menjadi penganut al‑Ismailiyah, sementara Ibnu Sina tetap memeluk Sunni Mazhab Hanafi.

Sejak usia enam tahun, ia sudah menghafal Al‑Qur’an. Pada usia sepuluh, ia menguasai bahasa Arab, Persia, dan beberapa istilah Yunani‑Latin yang dipelajari lewat terjemahan. Menurut catatan, ia pernah belajar aritmetika Hindia dari seorang pedagang sayur berkebangsaan India, serta rutin berdiskusi dengan Ismail al‑Zahid, seorang ahli logika dan teologi.

Karier akademik Ibnu Sina dimulai ketika ia berusia 16 tahun, ketika ia mulai mempelajari ilmu kedokteran secara otodidak melalui buku-buku Ibn al‑Haytham dan Al‑Razi. Pada usia 18, ia telah menguasai teori-teori kedokteran Yunani, termasuk karya Hippocrates dan Galen, serta menambahkan observasi klinisnya sendiri.

Karya Monumental: Al‑Qanun dan Kitab‑kitab Lain

Di antara lebih dari 450 karya yang ditulisnya, dua karya paling berpengaruh adalah Al‑Qanun fi al‑Tibb (The Canon of Medicine) dan Kitab al‑Shifa (The Book of Healing). Al‑Qanun, diselesaikan pada usia 30 tahun, menjadi teks standar dalam fakultas kedokteran Eropa hingga abad ke‑17. Buku ini menyajikan 14 volume, mencakup anatomi, farmakologi, diagnostik, serta metode klinis yang menekankan observasi langsung.

Kitab al‑Shifa, lebih bersifat filosofis, menggabungkan logika Aristotelian dengan teologi Islam, serta menyinggung metafisika, fisika, dan matematika. Keduanya menunjukkan cara Ibnu Sina mengintegrasikan ilmu pengetahuan sekuler dengan nilai spiritual, sebuah pendekatan yang kini disebut pendidikan holistik.

Metode Belajar yang Dikenal Sepanjang Abad

Catatan sejarah mengungkap tiga prinsip utama dalam metode belajar Ibnu Sina:

  • Interdisipliner: Ia tidak memisahkan ilmu kedokteran, filsafat, matematika, dan astronomi. Setiap topik dipelajari dalam konteks yang saling melengkapi.

  • Observasi Praktis: Selama masa magangnya di rumah sakit Bukhara, ia mencatat lebih dari 3.000 kasus klinis, menekankan pentingnya data empiris.

  • Logika Formal: Mengadopsi silogisme Aristoteles, ia menguji hipotesis lewat deduksi logis sebelum melakukan percobaan.

Dalam sebuah kutipan yang dilansir dari Kitab al‑Shifa, Ibnu Sina menulis, “Ilmu tanpa logika ibarat bangunan tanpa fondasi; ia mudah runtuh.” Prinsip ini masih diajarkan di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia melalui modul “Logika Klinis” yang dirancang berdasarkan ajaran Ibnu Sina.

Warisan dan Pengaruh di Era Modern

Pengaruh Ibnu Sina tidak terbatas pada dunia kedokteran. Dalam bidang ilmu komputer, algoritma kriptografi modern mengadaptasi metode enkripsi yang pertama kali dijelaskan oleh Ibnu Sina dalam naskah tentang “rahasia angka”. Di bidang psikologi, konsep “kesadaran terintegrasi” yang ia bahas dalam Kitab al‑Shifa menjadi dasar pemikiran Carl Jung mengenai arketipe.

Di Indonesia, lembaga pendidikan Islam seperti Pondok Pesantren Al‑Husna di Yogyakarta memasukkan modul “Ilmu Kedokteran Islam” yang mengacu pada teks Al‑Qanun. Pada 2025, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mengusulkan kurikulum sejarah ilmu pengetahuan yang menempatkan Ibnu Sina sebagai tokoh utama bersama Al‑Khawarizmi dan Al‑Farabi.

Perayaan dan Penelitian Terbaru 2026

Peneliti asal Indonesia, Dr. Rina Suryani (Universitas Gadjah Mada), mempresentasikan hasil riset tentang “Implementasi Prinsip Logika Ibnu Sina dalam Pendidikan Kedokteran Berbasis Teknologi”. Hasilnya menunjukkan peningkatan akurasi diagnosis mahasiswa hingga 18% ketika metode deduksi formal diterapkan dalam simulasi klinis.

Selain itu, UNESCO menandatangani nota kesepahaman dengan Pemerintah Uzbekistan untuk melestarikan manuskrip asli Ibnu Sina, termasuk perkiraan lebih dari 30.000 halaman naskah yang kini berada di perpustakaan Bukhara.

Para ahli sepakat, warisan Ibnu Sina bukan sekadar catatan sejarah, melainkan fondasi bagi inovasi ilmu pengetahuan masa depan. Dengan peringatan 2026 yang melibatkan komunitas internasional, Indonesia kembali menegaskan peranannya dalam menghidupkan kembali pemikiran ilmiah klasik yang relevan bagi tantangan abad ke‑21.

Bagikan Artikel

Artikel Terkait