Bojonegoro, NusaDaily.ID — Kades Hoho, Alkaf, kembali menjadi sorotan publik setelah diboikot dari jabatannya oleh Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan Agus Adrianto. Pernyataan tersebut memicu berbagai reaksi di media sosial dan masyarakat setempat. Pernyataan Menteri Agus mengkritik penampilan Alkaf yang seluruh tubuhnya penuh tato, meskipun tidak ada hubungan langsung antara tato dengan kinerja kades. Isu ini kembali memanas karena Alkaf juga terancam masuk penjara karena kasus hukum yang sedang dijalani.
Kades Hoho Diboikot karena Tato, Masyarakat Bereaksi
Kontroversi ini semakin memanas setelah beredar video dan foto Alkaf yang menunjukkan tato di seluruh tubuhnya. Pernyataan Menteri Agus yang menyebut tato Alkaf sebagai alasan untuk memboikot jabatannya memicu reaksi dari warga dan netizen. Banyak yang menilai bahwa tato tidak relevan dengan kinerja seorang kepala desa. Namun, sebagian besar masyarakat setempat mengkritik Menteri Agus karena mengambil keputusan yang dianggap tidak adil.
Alkaf: Kades yang Berkinerja Gemilang Tapi Terancam Hukum
Sementara itu, Alkaf sendiri tidak langsung membantah atau membenarkan pernyataan Menteri Agus. Ia lebih fokus pada upayanya untuk tetap menjalankan tugas sebagai kades meskipun menghadapi tekanan. Alkaf mengungkapkan bahwa ia tetap bekerja keras untuk kepentingan masyarakat desa, meski terancam masuk penjara. Ia juga menyebutkan bahwa tato yang ia miliki tidak memengaruhi kinerjanya sebagai seorang kepala desa.
Isu Hukum yang Mengancam Kades Hoho
Menurut informasi yang beredar, Alkaf sedang dalam proses hukum atas kasus yang ia hadapi. Meski belum ada informasi terperinci, namun ia terancam masuk penjara. Hal ini memicu kekhawatiran masyarakat terhadap kinerjanya sebagai kades. Namun, sebagian besar warga desa tetap mendukungnya karena kinerjanya yang dianggap baik.
Reaksi Masyarakat dan Netizen Terhadap Pernyataan Menteri
Reaksi masyarakat terhadap pernyataan Menteri Agus sangat beragam. Ada yang mendukung keputusan Menteri karena menganggap tato tidak seharusnya dianggap sebagai hal yang baik. Namun, sebagian besar masyarakat menilai bahwa Menteri Agus terlalu terbuka dan berisiko dengan mengambil keputusan yang dianggap tidak adil. Banyak yang menilai bahwa keputusan tersebut bisa berdampak negatif terhadap kinerja Alkaf.
