Ekonomi & Bisnis

KOSPI Anjlok 7%: Pasar Saham Korea Selatan Menghadapi Hari Terburuk dalam 19 Bulan, Won Melemah Tajam

Indeks KOSPI terjun 7,24% pada 3 Maret 2026, catat penurunan terburuk dalam 19 bulan; Won mendekati 1.500 per dolar AS akibat ketegangan Timur Tengah.

N

Nusa Daily

KOSPI Anjlok 7%: Pasar Saham Korea Selatan Menghadapi Hari Terburuk dalam 19 Bulan, Won Melemah Tajam. Gambar: The Korea Herald
KOSPI Anjlok 7%: Pasar Saham Korea Selatan Menghadapi Hari Terburuk dalam 19 Bulan, Won Melemah Tajam. Gambar: The Korea Herald

Seoul, NusaDaily.ID — Pada Selasa, 3 Maret 2026, indeks KOSPI Korea Selatan terpuruk lebih dari 7 persen, menurunkan 452,22 poin menjadi 5.791,91. Penurunan ini mencatat hari terburuk dalam 19 bulan terakhir, sekaligus memicu aksi jual besar-besaran yang menghentikan sementara perdagangan selama lima menit. Di saat yang sama, nilai tukar won melemah 26,4 won per dolar AS, mendekati level 1.500 won per dolar, menambah tekanan pada pasar keuangan Asia.

Penurunan tajam KOSPI: Data dan dampaknya

Data resmi Bursa Efek Korea (KRX) menunjukkan KOSPI berakhir sesi dengan penurunan 7,24 persen, menandai penurunan poin terbesar sejak Agustus 2024. Pada pukul 09:00 WIB, indeks berada di level 6.244,13, naik tipis 0,2 persen. Namun, seiring meluasnya kekhawatiran geopolitik, indeks menurun secara dramatis dan pada pukul 12:30 WIB berada di 5.791,91.

Waktu Indeks KOSPI Perubahan
09:00 WIB (03/03/2026) 6.244,13 +0,2%
12:30 WIB 5.791,91 -7,24%

Penurunan ini memicu pemicu otomatis (circuit breaker) yang menghentikan perdagangan selama lima menit, sebuah mekanisme yang jarang terjadi sejak krisis keuangan global 2008. Volume perdagangan pada hari itu mencatat nilai tertinggi dalam enam bulan terakhir, menandakan intensitas aksi jual yang luar biasa.

Faktor geopolitik: Konflik Timur Tengah mengguncang sentimen

Kekhawatiran utama yang memicu penurunan tersebut adalah eskalasi konflik di Timur Tengah. Serangan udara baru-baru ini antara Israel dan kelompok militan di Gaza meningkatkan ketegangan regional, memicu lonjakan harga minyak mentah dunia. Harga Brent naik hampir 4 persen dalam hitungan jam, menambah kekhawatiran tentang pasokan energi global.

Investor global, termasuk lembaga keuangan di Korea, merespons dengan mengalihkan dana ke aset safe‑haven seperti dolar AS dan emas. Dilansir dari Reuters, seorang analis di Bank of America mencatat, "Ketidakpastian geopolitik meningkatkan volatilitas pasar Asia, khususnya saham yang sensitif terhadap harga komoditas dan arus modal internasional."

Won Korea tertekan: Nilai tukar mengincar 1.500 per dolar

Seiring pasar saham terjun, won Korea juga mengalami penurunan tajam. Pada akhir sesi, won diperdagangkan pada 1.473,6 per dolar AS, melemah 26,4 won dibandingkan penutupan hari sebelumnya. Ini merupakan level terdekat dengan batas psikologis 1.500 won per dolar, yang belum pernah tercapai sejak 2020.

Bank of Korea (BOK) dalam pernyataannya menyebutkan kesiapan untuk melakukan intervensi bila diperlukan, namun menekankan bahwa kebijakan moneter tetap pada jalur yang sudah ditetapkan. "Kami memantau pergerakan pasar valuta asing secara cermat dan akan mengambil langkah yang tepat untuk menstabilkan won jika volatilitas berlanjut," ujar Gwan‑ho Park, anggota Dewan Gubernur BOK.

Reaksi pasar domestik dan kebijakan pemerintah

Pemerintah Korea Selatan, melalui Kementerian Keuangan dan Ekonomi, mengeluarkan pernyataan resmi yang menegaskan komitmen menjaga stabilitas keuangan. Menteri Keuangan, Choi Sang‑mok, menambahkan bahwa otoritas siap memberikan likuiditas tambahan bagi institusi keuangan yang terdampak.

Di sisi lain, perusahaan-perusahaan besar seperti Samsung dan Hyundai mengumumkan peninjauan kembali proyeksi pendapatan kuartal pertama, mengingat ketidakpastian permintaan global yang dipicu oleh harga energi yang naik.

"Kondisi ini mencerminkan ketakutan pasar terhadap eskalasi konflik yang dapat mengganggu rantai pasokan energi," kata Lee Joon‑hee, analis senior HSBC Korea.

Prospek jangka pendek dan rekomendasi investor

Para analis menyarankan investor untuk meningkatkan eksposur pada aset yang lebih defensif, seperti sektor utilitas, konsumen utama, dan obligasi pemerintah berjangka pendek. Sektor teknologi, meskipun biasanya menjadi motor pertumbuhan Korea, diprediksi akan tetap volatil hingga situasi geopolitik mereda.

Secara keseluruhan, prospek jangka pendek pasar saham Korea masih berada dalam zona risiko tinggi. Jika konflik di Timur Tengah tidak segera mereda, volatilitas dapat berlanjut, menambah tekanan pada won dan memperburuk kondisi likuiditas. Sebaliknya, jika ada sinyal de‑eskalasi, pasar dapat mengalami rebound cepat, mengingat fondasi ekonomi Korea yang kuat dan cadangan devisa yang besar.

Investor disarankan untuk memantau indikator utama seperti pergerakan harga minyak, kebijakan moneter BOK, serta perkembangan diplomatik di Timur Tengah sebelum mengambil keputusan alokasi aset signifikan.

Bagikan Artikel

Artikel Terkait