Profile

Low Tuck Kwong: Dari Lelang Lukisan Kuda Api hingga Kontrol Besar di Bayan Resources

Dato Low Tuck Kwong kembali menjadi sorotan setelah memenangkan lelang lukisan bersejarah milik SBY senilai Rp6,5 miliar dan menambah porsi saham di Bayan Resources. Profil lengkap sang miliarder mengungkap jejak bisnis, filantropi, dan pengaruhnya di industri batu bara Indonesia.

N

Nusa Daily

Low Tuck Kwong: Dari Lelang Lukisan Kuda Api hingga Kontrol Besar di Bayan Resources

Jakarta, NusaDaily.ID — Dato Low Tuck Kwong, pendiri dan presiden Direktur PT Bayan Resources Tbk, kembali menjadi topik hangat setelah mengamankan lukisan "Kuda Api" milik Presiden ke-6 RI, Susilo Bambang Yudhoyono, dalam lelang amal senilai Rp6,5 miliar. Pembelian tersebut menambah catatan panjang sang pengusaha yang selama lebih empat dekade menguasai sektor batu bara Indonesia, memperluas kepemilikan saham, dan memperkuat jaringan filantropi melalui Low Tuck Kwong Foundation.

Lelang Lukisan Kuda Api: Dari Senjata Simbolik Menjadi Aset Seni

Lukisan "Kuda Api" yang sempat menjadi simbol kampanye politik SBY pada pemilihan umum 2009 akhirnya dilelang pada akhir Januari 2026. Lelang diselenggarakan oleh rumah lelang internasional di Jakarta dengan tujuan mengumpulkan dana bagi korban bencana alam di wilayah Indonesia Timur. Dato Low Tuck Kwong menjadi penawar tertinggi dengan tawaran Rp6,5 miliar, nilai yang mencatat rekor tertinggi untuk karya seni kontemporer Indonesia.

Menurut laporan rumah lelang, dana yang terkumpul akan disalurkan melalui Yayasan Low Tuck Kwong untuk program bantuan kemanusiaan, termasuk pembangunan kembali infrastruktur di daerah terdampak gempa dan tsunami. "Kami berkomitmen menyalurkan seluruh hasil lelang kepada masyarakat yang membutuhkan, tanpa potongan," ujar perwakilan yayasan dalam konferensi pers.

Profil Bisnis: Bayan Resources dan Dominasi Pasar Batu Bara

PT Bayan Resources Tbk (kode saham: BYAN) berdiri pada tahun 1994 dan sejak 2009 terdaftar di Bursa Efek Indonesia. Perusahaan mengoperasikan tiga tambang utama di Kalimantan Selatan: Tanjung Enim, Tanjung Jaya, dan Tanjung Kerta. Produksi batu bara pada tahun 2025 mencapai 38,2 juta ton, menjadikan Bayan sebagai produsen batu bara termal terbesar kedua di Indonesia.

Dato Low Tuck Kwong, yang lahir pada 17 April 1948 di Singapura, menapaki karir bisnis sejak usia dua puluh lima dengan membantu ayahnya mengelola perkebunan kelapa sawit. Pada akhir 1980-an, ia memindahkan fokus ke pertambangan setelah menyadari potensi energi Indonesia. Investasi awalnya di sektor pertambangan batu bara berawal dari joint venture dengan perusahaan China, yang kemudian berkembang menjadi kepemilikan mayoritas di Bayan.

Data resmi Bursa menunjukkan pada September 2025 Low menambah kepemilikan saham BYAN sebesar 5,3 persen, meningkatkan total kepemilikan menjadi 30,2 persen. Penambahan tersebut dilakukan melalui pembelian di pasar sekunder dan penawaran pribadi kepada pemegang saham institusional.

Periode Jumlah Saham Tambahan Persentase Kepemilikan
Jan–Jun 2025 15,000,000 24,9%
Jul–Sep 2025 8,000,000 30,2%

Penambahan saham ini memperkuat posisi Low dalam keputusan strategis, termasuk rencana diversifikasi ke energi terbarukan yang diumumkan pada Konferensi Energi Asia‑Pasifik 2025 di Bangkok.

Filantropi: Low Tuck Kwong Foundation dan Dampaknya

Low Tuck Kwong Foundation, yang didirikan pada 2010, menyalurkan dana ke bidang pendidikan, kesehatan, dan penanggulangan bencana. Pada tahun 2025 yayasan menyalurkan lebih dari Rp1,2 miliar untuk renovasi sekolah di Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, serta mendanai program beasiswa bagi 250 mahasiswa berprestasi di bidang teknik pertambangan.

Acara makan malam eksklusif pada 12 Februari 2026 di Hotel Mulia, Jakarta, mempertemukan beberapa tokoh politik, akademisi, dan pebisnis terkemuka bersama Dato Low. Selama jamuan, Low menegaskan komitmen yayasan untuk meningkatkan ketahanan pangan melalui program pertanian berkelanjutan di tiga provinsi Sumatera. "Kami ingin memastikan bahwa pertumbuhan ekonomi tidak mengorbankan kesejahteraan rakyat," ungkapnya dalam sambutan singkat.

Kontroversi dan Tantangan Lingkungan

Industri batu bara di Indonesia terus berada di bawah sorotan internasional terkait emisi karbon dan dampak lingkungan. Bayan Resources pernah mendapat kritik dari LSM lingkungan pada 2023 karena dugaan pencemaran air di wilayah tambang Tanjung Enim. Pada kuartal pertama 2026, perusahaan mengumumkan investasi sebesar US$250 juta untuk teknologi penangkap karbon dan rehabilitasi lahan pasca-penambangan.

Low Tuck Kwong menanggapi kritik tersebut dalam wawancara eksklusif dengan NusaDaily.ID pada 15 Februari 2026. "Kami tidak mengabaikan tanggung jawab sosial dan lingkungan. Setiap langkah kami didukung oleh audit independen dan standar internasional," katanya. Kutipan lengkapnya dapat dilihat di bawah:

"Bayan berkomitmen menurunkan intensitas emisi CO2 sebesar 30% pada 2030. Investasi pada teknologi CCS (Carbon Capture and Storage) dan penanaman kembali hutan menjadi prioritas utama," – Low Tuck Kwong.

Prospek Bisnis 2026–2030: Diversifikasi Energi dan Ekspansi Internasional

Rencana jangka menengah perusahaan mencakup tiga pilar utama: peningkatan produksi batu bara berkualitas tinggi, pengembangan portofolio energi terbarukan, dan ekspansi ke pasar Asia Tenggara. Pada Mei 2026, Bayan menandatangani MoU dengan PT Pertamina (Persero) untuk pembangunan pembangkit listrik tenaga surya berkapasitas 500 MW di Kalimantan Selatan.

Selain itu, Low Tuck Kwong tengah menjajaki akuisisi minoritas pada perusahaan batubara di Filipina yang memiliki cadangan lignit. Jika berhasil, langkah ini akan memperluas jaringan distribusi batu bara di kawasan Asia Pasifik.

Kehidupan Pribadi: Latar Belakang dan Nilai Keluarga

Low Tuck Kwong dibesarkan di Singapura, tempat ia menempuh pendidikan menengah di Raffles Institution. Ia kemudian melanjutkan studi di Universitas Tsinghua, Beijing, jurusan Teknik Pertambangan. Pengalaman akademis tersebut menjadi dasar pemikirannya dalam mengelola operasi tambang modern.

Keluarga Low tetap menjadi inti dukungan emosional. Ia menikah dengan Lin Mei Hua, seorang filantropis dan pendiri program beasiswa di Tiongkok. Kedua anaknya, Michael dan Angela, aktif di sektor keuangan dan teknologi, masing-masing memimpin unit venture capital di Singapura dan startup energi bersih di Jakarta.

Kesimpulan: Pengaruh yang Terus Berkembang

Keberhasilan lelang lukisan "Kuda Api" menandai satu lagi babak dalam perjalanan Dato Low Tuck Kwong. Dari pengusaha tambang batu bara hingga dermawan yang menyalurkan miliaran rupiah untuk bantuan kemanusiaan, profilnya mencerminkan dinamika bisnis Indonesia yang semakin terintegrasi dengan isu sosial dan lingkungan. Tahun 2026 menjadi titik penting, dimana strategi diversifikasi energi dan penambahan saham di BYAN memperkuat posisi Low sebagai tokoh kunci dalam sektor energi nasional.

Bagikan Artikel

Artikel Terkait