London, NusaDaily.ID — Mantan Pangeran Andrew, yang secara resmi kini dikenal sebagai Andrew Mountbatten-Windsor, resmi ditangkap oleh Thames Valley Police pada Kamis, 19 Februari 2026. Penangkapan berlangsung di kediamannya, Royal Lodge, Windsor Great Park, Berkshire, dengan tuduhan pelanggaran jabatan publik yang diduga terkait pertukaran dokumen rahasia dengan almarhum pelaku kejahatan seksual Amerika Serikat, Jeffrey Epstein.
Penangkapan dan Kronologi
Polisi setempat mengumumkan bahwa operasi penangkapan dimulai pada pukul 09.30 waktu setempat setelah menerima laporan tentang dugaan pelanggaran hukum yang melibatkan Andrew. Tim kepolisian menyebut bahwa mereka sedang meninjau pengaduan yang mengaitkan sang mantan pangeran dengan penyalahgunaan akses dokumen pemerintah untuk kepentingan pribadi. Setelah melakukan pencarian di Royal Lodge, petugas menemukan beberapa perangkat penyimpanan yang berisi materi yang dianggap sensitif.
Andrew ditahan selama kurang lebih tiga jam sebelum dibawa ke kantor Thames Valley Police di Reading untuk proses identifikasi. Selama pemeriksaan, ia tidak memberikan pernyataan resmi dan akhirnya dibebaskan pada sore hari dengan catatan bahwa penyelidikan masih berlangsung. Menurut BBC News Indonesia, penangkapan ini menandai langkah pertama kepolisian Inggris dalam mengusut kasus yang selama ini beredar di media internasional.
Berikut rangkuman singkat kronologi penangkapan:
| Waktu | Kejadian |
|---|---|
| 09:30 | Tim Thames Valley Police tiba di Royal Lodge |
| 09:45 | Pencarian dokumen dan perangkat elektronik |
| 10:15 | Andrew ditahan dan dibawa ke kantor polisi |
| 15:30 | Andrew dibebaskan dengan catatan penyelidikan lanjutan |
Latar Belakang Kasus Jeffrey Epstein
Jeffrey Epstein, seorang finansier asal Amerika Serikat, dikenal luas karena jaringan eksploitas seksual yang melibatkan tokoh-tokoh publik, termasuk anggota keluarga kerajaan Inggris. Epstein meninggal dunia pada 2019 dalam penjara federal New York, namun investigasi atas hubungannya dengan pejabat tinggi masih terus berlanjut.
Andrew pernah mengadakan pertemuan dengan Epstein pada awal 2000‑an dan secara terbuka mengakui kedekatannya pada konferensi pers tahun 2019. Pada saat itu, ia menyatakan menyesal karena pernah menulis surat rekomendasi untuk Epstein dalam mengajukan visa K‑1. Namun, dokumen yang kini disita polisi menunjukkan adanya korespondensi yang lebih intens, termasuk pertukaran file‑file yang berisi informasi sensitif tentang keamanan nasional.
Menurut DetikNews, polisi menilai bahwa Andrew “mungkin telah memanfaatkan posisinya sebagai anggota keluarga kerajaan untuk mengakses atau menyebarkan dokumen yang seharusnya tidak boleh jatuh ke tangan pribadi”. Penyelidikan ini menyoroti dugaan bahwa Andrew berusaha memfasilitasi Epstein dalam mengamankan jaringan dukungan politik dan keuangan di luar negeri.
Reaksi Keluarga Kerajaan dan Pemerintah Inggris
Raja Charles III, yang saat ini menjabat sebagai monarki, menyampaikan pernyataan resmi melalui kantor kerajaan pada hari yang sama. Ia menegaskan bahwa “hukum harus ditegakkan tanpa pandang bulu, termasuk bagi anggota keluarga kerajaan”.
“Kami menantikan proses hukum yang transparan dan adil, serta berharap semua pihak dapat menghormati independensi penyelidikan,” – pernyataan resmi dari Istana Buckingham.
Selain itu, Perdana Menteri Rishi Sunak menambahkan bahwa pemerintah Inggris mendukung sepenuhnya tindakan kepolisian dan menegaskan tidak ada intervensi politik dalam proses hukum. “Setiap dugaan pelanggaran, termasuk yang melibatkan anggota keluarga kerajaan, harus diselidiki secara menyeluruh,” ujar Sunak dalam konferensi pers di Downing Street, dikutip dari Republika Online.
Implikasi Hukum dan Proses Selanjutnya
Di Inggris, tuduhan “misconduct in public office” merupakan kategori kejahatan yang dapat berujung pada hukuman penjara hingga 10 tahun, tergantung pada tingkat keparahan dan bukti yang terungkap. Jika terbukti, Andrew dapat menghadapi proses peradilan yang melibatkan Mahkamah Tinggi (High Court) dan kemungkinan denda besar.
Pengacara Andrew, yang belum diizinkan mengungkapkan identitasnya, menyatakan akan menolak semua tuduhan sampai bukti yang jelas disodorkan. “Klien kami berhak atas proses hukum yang adil, dan kami akan meneliti setiap dokumen yang diambil oleh kepolisian,” katanya kepada media.
Thames Valley Police menegaskan bahwa penyelidikan belum selesai dan mereka masih mengumpulkan bukti digital serta saksi yang mungkin mengetahui detail pertukaran dokumen. Penyelidikan diperkirakan akan memakan waktu beberapa minggu hingga bulan, tergantung pada kompleksitas materi yang terlibat.
Pandangan Publik dan Media Internasional
Berita penangkapan Andrew langsung menjadi viral di platform media sosial, dengan hashtag #AndrewArrest menyebar luas di Twitter, Instagram, dan TikTok. Di Indonesia, netizen menanggapi dengan campuran keheranan dan kritik tajam terhadap institusi monarki. Beberapa komentar menyoroti bahwa “tidak boleh ada yang kebal di atas hukum”, sementara yang lain menegaskan perlunya reformasi sistem peradilan monarki.
Media internasional, termasuk ABC News dan BBC, melaporkan bahwa penangkapan ini dapat menjadi preseden penting bagi negara-negara monarki lainnya dalam menegakkan akuntabilitas pejabat tinggi. Analis politik di University of Oxford menilai bahwa kasus ini dapat mempercepat perdebatan tentang peran dan hak istimewa anggota keluarga kerajaan dalam sistem pemerintahan modern.
Di Inggris, survei yang dirilis oleh YouGov pada akhir pekan menunjukkan bahwa 57% responden mendukung penyelidikan penuh terhadap Andrew, sementara 22% menilai bahwa kasus ini hanyalah “politik sensasional”.
Dengan perkembangan yang masih berlanjut, NusaDaily.ID akan terus memantau setiap perkembangan terbaru, termasuk pernyataan resmi dari kepolisian, pengadilan, serta kemungkinan tindakan hukum lebih lanjut terhadap mantan pangeran Inggris ini.
