Oleh : Dr. Noviardi Ferzi
JAMBI, NUSADAILY.ID – Rencana PT. SAS membangun stockpile dan TUKS di kawasan Aur Kenali, tepat di dekat pemukiman warga dan fasilitas vital intake air minum, bukan hanya keliru, tapi juga berbahaya. Keputusan ini mencerminkan cara pandang yang sempit, mengejar keuntungan ekonomi tanpa mengindahkan risiko kesehatan, lingkungan, dan masa depan kota Jambi.
Pertama-tama, mari kita bicara soal debu batubara. Stockpile batubara bukanlah tumpukan biasa. Dari situlah emisi PM2.5 dan PM10 menyebar ke udara. Penelitian menunjukkan, tumpukan batubara terbuka dapat meningkatkan konsentrasi PM2.5 hingga radius puluhan kilometer, dan berhubungan langsung dengan penyakit pernapasan serta kematian dini (Jha & Muller, 2017). Bahkan, kenaikan volume stockpile sebesar 10 persen saja mampu meningkatkan mortalitas bayi hingga 3,2 persen (Liu dkk., 2023). Apa jadinya bila hal ini dibiarkan terjadi di lingkungan padat penduduk?
Lebih mengkhawatirkan lagi adalah ancaman terhadap air bersih. Intake di Aur Kenali adalah nadi utama pasokan air minum warga kota Jambi. Penelitian di Sumatra Selatan membuktikan, stockpile batubara meningkatkan partikel tersuspensi dan logam berat seperti mangan dan besi dalam air tanah (Saidah dkk., 2021). Runoff dari tumpukan batubara membawa arsenik, timbal, dan merkuri, unsur yang bisa meracuni air minum manusia (Rahman dkk., 2019). Menempatkan sumber pencemar sedekat itu dengan fasilitas vital sama saja mempertaruhkan kesehatan seluruh kota.
Jangan lupa, ada catatan hitam dari banyak tempat di dunia. Pada 2014, Dan River di Amerika tercemar 39 ribu ton abu batubara akibat kegagalan infrastruktur, meninggalkan jejak logam berat dalam air minum. Kasus serupa terjadi di Cape Fear River (2018) dan krisis air Martin County (2000). Semua ini adalah peringatan keras bahwa aktivitas penyimpanan batubara dekat sumber air hanya menunggu waktu untuk menjadi bencana (EPA, 2015).
Pertanyaan mendasar pun muncul: mengapa izin untuk PT. SAS bisa sampai masuk ke wilayah yang begitu rawan? Apakah pemerintah kota benar-benar dilibatkan? Apakah suara masyarakat sekitar Aur Kenali pernah ditanya, atau aspirasi warga hanya dianggap pelengkap formalitas? Jika tata ruang kota diabaikan, maka yang dipertaruhkan bukan hanya lingkungan, tetapi juga legitimasi hukum.
Kita tahu, perusahaan akan selalu berbicara tentang investasi dan lapangan kerja. Tetapi, mari kita ukur dengan timbangan yang adil: berapa biaya kesehatan masyarakat yang akan melonjak akibat polusi udara? Berapa kerugian lingkungan akibat air bersih yang tercemar? Semua itu pada akhirnya akan ditanggung publik dan pemerintah, sementara keuntungan hanya dinikmati segelintir orang.
Karena itulah, saya menegaskan: rencana PT. SAS harus dihentikan. Aur Kenali bukan tempat untuk menimbun batubara, apalagi di jantung pemukiman dan di sisi fasilitas intake air minum. Jika pemerintah kota Jambi diam, maka mereka sedang menggadaikan masa depan kesehatan warganya.
Kota ini butuh pembangunan yang bijak, bukan proyek yang merusak. Air bersih adalah hak dasar, bukan barang taruhan.
Daftar Pustaka
Jha, A., & Muller, N. (2017). Even when it’s sitting in storage, coal threatens human health. The Conversation. https://theconversation.com/even-when-its-sitting-in-storage-coal-threatens-human-health-80865
Liu, X., Wang, H., & Li, J. (2023). Health impacts of coal stockpiles: Evidence from PM2.5 exposure. Energies, 16(1), 511. https://www.mdpi.com/1996-1073/16/1/511
Saidah, N., Purnomo, H., & Lestari, I. (2021). The effect of coal stockpile on shallow groundwater aquifer: Case study in Tarahan, Sumatra Selatan. ResearchGate. https://www.researchgate.net/publication/356954648
Rahman, M., et al. (2019). Impacts of coal stockpile on soil and water. Archives of Current Research International, 19(1), 1–11. https://journalacri.com/index.php/ACRI/article/view/294
United States Environmental Protection Agency (EPA). (2015). Coal Ash Spill Case Studies: Dan River, Cape Fear River, and Martin County water crisis. EPA Report. https://en.wikipedia.org/wiki/2014_Dan_River_coal_ash_spill