Hukum

Sambutan yang Berujung Tegang: Aksi Damai PMII di Polres Bungo Berakhir Adu Mulut dengan Aparat

Upaya menyambut kedatangan Kapolres baru di Kabupaten Bungo berubah menjadi ketegangan pada Senin sore (9/3/2026). Puluhan mahasiswa yang tergabung dalam Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Kabupaten Bungo mendatangi Mapolres Bungo sekitar pukul 16.00 WIB untuk menggelar aksi damai, namun situasi sempat memanas dan berujung adu mulut serta saling dorong dengan aparat kepolisian.

A

Angga Saputra

Sambutan yang Berujung Tegang: Aksi Damai PMII di Polres Bungo Berakhir Adu Mulut dengan Aparat
Sambutan yang Berujung Tegang: Aksi Damai PMII di Polres Bungo Berakhir Adu Mulut dengan Aparat

BUNGO, NUSADAILY.ID – Upaya menyambut kedatangan Kapolres baru di Kabupaten Bungo berubah menjadi ketegangan pada Senin sore (9/3/2026). Puluhan mahasiswa yang tergabung dalam Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Kabupaten Bungo mendatangi Mapolres Bungo sekitar pukul 16.00 WIB untuk menggelar aksi damai, namun situasi sempat memanas dan berujung adu mulut serta saling dorong dengan aparat kepolisian.
Aksi tersebut awalnya dimaksudkan sebagai bentuk penyambutan sekaligus pernyataan sikap mahasiswa atas pergantian pimpinan di jajaran Polres Bungo. Kapolres baru, AKBP Zamri Elfino, resmi menjabat pada Maret 2026 menggantikan AKBP Natalena Eko Cahyono yang sebelumnya bertugas di wilayah tersebut.

Ketua Pengurus Cabang PMII Kabupaten Bungo, M. Nazri, mengatakan bahwa kedatangan mahasiswa ke Mapolres bertujuan untuk menyampaikan aspirasi sekaligus membangun komunikasi awal dengan pimpinan kepolisian yang baru.

Menurutnya, aksi damai semula berlangsung tertib dan kondusif. Massa mahasiswa datang dengan membawa spanduk dan menyampaikan pernyataan sikap mengenai kondisi wilayah hukum Kabupaten Bungo, serta harapan terhadap kepemimpinan Kapolres yang baru.

Namun situasi berubah ketika mahasiswa tidak dapat bertemu langsung dengan Kapolres. Pihak kepolisian disebut menyampaikan bahwa Kapolres belum dapat menemui massa aksi pada saat itu. Penjelasan tersebut memicu kekecewaan di kalangan mahasiswa dan berujung pada perdebatan di lokasi.

“Pada awalnya aksi berjalan lancar dan damai. Tetapi ketika kami mendapat informasi bahwa Kapolres tidak bisa ditemui, terjadi adu argumen antara massa aksi dan aparat di lapangan,” ujar Nazri.

Ketegangan sempat meningkat ketika sebagian mahasiswa mencoba mendekati area dalam Mapolres, yang kemudian dihadang oleh personel kepolisian. Insiden saling dorong tak terhindarkan, meskipun situasi akhirnya dapat dikendalikan.

Nazri menilai sikap aparat yang tidak mempertemukan mahasiswa dengan Kapolres membuat massa merasa tidak dihargai. Ia menyebut pihaknya berharap ada ruang dialog yang terbuka antara mahasiswa dan kepolisian di Bungo.

“Kami menghormati alasan yang disampaikan pihak Polres bahwa Kapolres belum bisa ditemui. Namun kami berharap ada komunikasi yang lebih terbuka,” katanya.

Ia juga menegaskan bahwa PMII Bungo masih menunggu kesempatan untuk bertemu langsung dengan Kapolres yang baru. Jika dalam waktu dekat pertemuan tersebut belum juga terlaksana, pihaknya membuka kemungkinan untuk menggelar aksi lanjutan dengan melibatkan lebih banyak elemen mahasiswa di Kabupaten Bungo.

“Dalam waktu dekat kami akan pertanyakan kembali. Jika tidak ada respons, kami akan menggelar aksi demontrasi yang lebih besar dengan mengajak seluruh unsur mahasiswa di Kabupaten Bungo,” ujarnya.

Peristiwa ini menjadi ujian awal bagi hubungan antara mahasiswa dan kepemimpinan baru di Polres Bungo, di tengah harapan publik akan terciptanya komunikasi yang lebih terbuka antara aparat penegak hukum dan kelompok masyarakat sipil.

Redaksi nusadaily.id/*

Bagikan Artikel

Artikel Terkait