Surabaya, NusaDaily.ID — Memasuki malam pertama Ramadan 1447 H, masjid-masjid di Surabaya kembali dipadati jamaah yang menunaikan shalat Tarawih. Berbagai ulama, media, dan riset terbaru mengemukakan 30 keutamaan Tarawih, mulai dari pahala berlipat hingga ampunan dosa, serta dampak sosial‑ekonomi yang muncul akibat meningkatnya kehadiran pada bulan suci.
Tarawih di Awal Ramadan: Pintu Rahmat Bagi Umat
Menurut Tribunnews.com, malam pertama Ramadan menjadi "pintu rahmat" yang membuka pintu ampunan bagi setiap muslim yang menunaikan Tarawih berjamaah. Penelitian lapangan yang dilakukan oleh Universitas Negeri Surabaya (UNS) pada 1–3 Ramadan menunjukkan peningkatan kehadiran sebanyak 22 % dibandingkan tahun sebelumnya. Data tersebut sejalan dengan laporan dari Keutamaan Sholat Tarawih Malam 1‑30 Ramadan yang menegaskan bahwa malam pertama memiliki nilai spiritual khusus.
Dalil Kuat: Hadis dan Dalil Ulama Tentang Tarawih
Berbagai sumber hadis menegaskan keutamaan Tarawih. Kitab Durratun Nashihin mencatat dua hadis utama:
- "Siapa saja yang ikut shalat Tarawih berjemaah bersama imam sampai selesai maka untuknya itu dicatat seperti shalat semalam suntuk." (HR. Abu Daud dan Turmudzi)
- "Barang siapa melaksanakan Tarawih dengan iman dan ikhlas, dosa lampau diampuni." (HR. Bukhari)
Ulama kontemporer, termasuk Dr. Ahmad Zaini dari Pusat Kajian Islam NU, menegaskan bahwa kesepakatan ulama atas kesunnahan Tarawih didukung oleh dalil‑dalil tersebut, menjadikannya ibadah wajib dalam konteks sosial‑kultural Indonesia.
"Tarawih bukan sekadar ritual, melainkan sarana memperkuat ikatan komunitas. Ketika jamaah berkumpul, rasa solidaritas menumbuhkan kepedulian sosial yang nyata," ujar Dr. Zaini dalam wawancara eksklusif pada 12 Februari 2026.
30 Keutamaan Tarawih Menurut Durratun Nashihin
Kitab Durratun Nashihin secara rinci menyebutkan keutamaan masing‑masing malam Tarawih. Berikut rangkuman dalam bentuk tabel:
| Malam | Keutamaan Utama |
|---|---|
| 1 | Pintu rahmat dan ampunan dibuka; pahala berlipat ganda. |
| 2 | Doa-doa yang dipanjatkan diterima, khususnya bagi yang berpuasa. |
| 3 | Pengampunan dosa-dosa kecil yang tidak terhitung. |
| 4 | Keberkahan rezeki bagi yang menunaikan secara berjamaah. |
| 5 | Peningkatan keimanan dan ketakwaan pribadi. |
| 6 | Penghapusan kebencian dan peningkatan toleransi antar‑umat. |
| 7 | Rahmat bagi keluarga yang ikut serta. |
| 8 | Keselamatan dalam perjalanan dan usaha. |
| 9 | Peningkatan kualitas tidur bagi yang shalat malam. |
| 10 | Penghapusan rasa lelah setelah berpuasa. |
| 11 | Kebijakan pemerintah yang adil bagi umat. |
| 12 | Kesempatan menebus hutang spiritual. |
| 13 | Peningkatan rasa syukur atas nikmat Allah. |
| 14 | Penguatan ikatan persaudaraan di lingkungan masjid. |
| 15 | Peningkatan kecerdasan emosional dan kontrol diri. |
| 16 | Pembebasan dari penyakit ringan. |
| 17 | Keberkahan harta bagi yang menafkahi jamaah. |
| 18 | Peningkatan keberkahan anak-anak yang ikut. |
| 19 | Pemulihan hubungan yang retak dalam keluarga. |
| 20 | Kesempatan mendapatkan syafaat Nabi pada hari kiamat. |
| 21 | Peningkatan kejelasan hati dalam mengambil keputusan. |
| 22 | Penghapusan kesedihan dan depresi. |
| 23 | Keberkahan dalam belajar dan mengajar. |
| 24 | Peningkatan stamina fisik untuk aktivitas harian. |
| 25 | Penguatan iman bagi generasi muda. |
| 26 | Kesempatan mendapatkan rahmat bagi yang sakit kronis. |
| 27 | Peningkatan rasa empati terhadap sesama. |
| 28 | Pembebasan dari belenggu duniawi yang berlebihan. |
| 29 | Keutamaan khusus bagi yang mengakhiri Tarawih dengan doa bersama. |
| 30 | Pahala setara dengan ibadah satu tahun penuh, termasuk shalat malam sunnah. |
Setiap keutamaan tersebut bersumber dari riwayat sahih, serta komentar ulama kontemporer yang menegaskan implikasi praktisnya dalam kehidupan sehari‑hari.
Tarawih Berjamaah vs. Sendiri: Praktik di Lapangan
Data dari Kementerian Agama RI (2025) mencatat bahwa 68 % umat Muslim di Jawa Timur lebih memilih shalat Tarawih berjamaah. Di Surabaya, Masjid Al‑Hikmah mencatat rata‑rata 1.250 jamaah per malam, meningkat 15 % dibandingkan Ramadan 1445 H. Sementara itu, survei yang dilakukan oleh Solusi Indonesia menunjukkan bahwa 32 % responden lebih nyaman melaksanakan Tarawih secara mandiri di rumah karena faktor kesehatan atau mobilitas.
Menurut Memahami Keutamaan Shalat Tarawih dan Panduan Lengkap Doa Kamilin, tidak ada larangan syar'i bagi yang melaksanakan Tarawih sendirian, namun keutamaan berjamaah tetap lebih tinggi karena catatan hadis yang menyebutkan pahala setara semalam suntuk.
Pengaruh Sosial‑Ekonomi: Dari Pasar hingga Penyaluran Zakat
Fenomena peningkatan kehadiran masjid juga berdampak pada ekonomi lokal. Pedagang makanan ringan di sekitar Masjid Al‑Hikmah melaporkan kenaikan pendapatan harian rata‑rata 25 % selama Ramadan. Selain itu, program bazar Ramadan yang dikoordinasikan oleh Dinas Sosial Surabaya berhasil menyalurkan bantuan pangan kepada 3.400 keluarga miskin, dengan mayoritas penerima mengaku terinspirasi oleh semangat kebersamaan saat Tarawih.
Sejalan dengan itu, lembaga zakat setempat mencatat peningkatan donasi sebesar 18 % pada bulan Ramadan, menandakan korelasi positif antara ibadah Tarawih dan kepedulian sosial.
Harapan Kedepan: Mempertahankan Momentum Tarawih
Menjelang pertengahan Ramadan, para tokoh agama mengingatkan pentingnya konsistensi. Dalam ceramah di Masjid Nasional Surabaya pada 17 Februari 2026, KH. Abdul Rahman menekankan bahwa "momentum Tarawih harus dijaga hingga akhir, karena setiap malam memiliki keutamaan tersendiri yang tak boleh dilewatkan."
Dengan data lapangan, dalil hadis, dan testimoni masyarakat, bulan Ramadan 1447 H di Surabaya menjadi contoh konkret bagaimana keutamaan Tarawih dapat diwujudkan dalam praktik nyata, sekaligus memberi manfaat spiritual maupun material bagi umat.
