Kabul, NusaDaily.ID — Pakistan mengumumkan perang terbuka melawan Taliban setelah serangkaian bentrokan di perbatasan Durand Line. Serangan udara yang dimulai 9 Oktober 2025 menimpa enam wilayah strategis di Afghanistan, termasuk ibu kota Kabul, provinsi Khost, Jalalabad, Paktika, Paktia, dan Kandahar. Hingga kini, laporan korban tewas mencapai ratusan, sementara pemerintah Afghanistan menuduh Islamabad melakukan “serangan balasan yang tidak proporsional”.
Latar Belakang Perseteruan Pakistan‑Afghanistan
Ketegangan antara kedua negara Muslim ini telah berakar sejak pembentukan Pakistan pada 1947. Garis perbatasan yang ditetapkan oleh Inggris, dikenal sebagai Durand Line, tidak pernah diakui oleh Kabul dan menjadi sumber sengketa lahan, suku, serta aliran migrasi. Pada dekade terakhir, konflik meluas karena kehadiran kelompok militan Tehrik‑i‑Taliban Pakistan (TTP) yang beroperasi di wilayah perbatasan selatan Afghanistan. Pemerintah Kabul menuduh Islamabad melindungi jaringan TTP, sementara Islamabad menuding Taliban menampung elemen‑elemen ekstremis yang mengancam keamanan nasional Pakistan.
Serangan Udara Besar‑Besaran Oktober 2025
Menurut laporan BBC News Indonesia, pada dini hari 9 Oktober 2025, Angkatan Udara Pakistan (PAF) melancarkan serangan simultan ke enam titik strategis:
| Tanggal | Lokasi | Target | Korban Diperkirakan |
|---|---|---|---|
| 9 Okt 2025 | Kabul | Pangkalan militer dan markas Taliban | ≈ 120 jiwa |
| 9 Okt 2025 | Khost | Markas komando TTP | ≈ 45 jiwa |
| 9 Okt 2025 | Jalalabad | Gudang persenjataan Taliban | ≈ 30 jiwa |
| 9 Okt 2025 | Paktika | Pos perbatasan TTP‑Taliban | ≈ 25 jiwa |
| 9 Okt 2025 | Paktia | Markas pelatihan militan | ≈ 20 jiwa |
| 9 Okt 2025 | Kandahar | Pusat komando Taliban | ≈ 80 jiwa |
Serangan tersebut dilaporkan menggunakan pesawat tempur JF‑17 Thunder serta drone berjenis Bayraktar TB2. Hasil temporer menimbulkan kebakaran besar di kawasan pasar tradisional Kabul dan menimbulkan gelombang pengungsian massal di wilayah selatan Afghanistan.
Pernyataan Resmi Pejabat Pakistan
Pejabat tinggi Pakistan menegaskan bahwa operasi ini merupakan “Operasi Ghalib Lil‑Haqq (Kemarahan yang Adil)”. Dalam sebuah konferensi pers di Islamabad, Menteri Pertahanan Pakistan, Khawaja Asif, menyatakan:
“Kami telah melancarkan perang terbuka melawan Taliban yang memberi perlindungan bagi TTP. Pakistan memiliki kemampuan penuh untuk menghancurkan setiap ambisi agresif yang mengancam kedaulatan kami.” – Khawaja Asif, 10 Okt 2025.
Perdana Menteri Shehbaz Sharif menambahkan pada hari yang sama:
“Negara kami siap menggunakan semua instrumen militer untuk menegakkan keadilan. Operasi ini bukan sekadar balasan, melainkan upaya memastikan keamanan perbatasan yang berkelanjutan.” – Shehbaz Sharif, 10 Okt 2025.
BBC Indonesia melaporkan bahwa pejabat Pakistan juga menekankan serangan tidak terbatas pada Kabul; “Kami akan melancarkan serangan ke berbagai wilayah di Afghanistan—bukan hanya ibu kota,” ujarnya.
Dampak di Lapangan dan Respon Internasional
Di Afghanistan, Pemerintah Taliban mengumumkan bahwa pemimpin tertinggi mereka, Hibatullah Akhundzada, selamat dari serangan di Kabul namun beberapa pejabat senior dilaporkan tewas. DetikNews menuliskan bahwa “pemimpin Taliban dilaporkan tewas” pada 13 jam setelah serangan, namun belum ada konfirmasi resmi dari rezim Kabul.
Organisasi Kemanusiaan Internasional (OCHA) melaporkan lebih dari 15.000 orang mengungsi ke kamp-kamp pengungsi di provinsi Nangarhar dan Khost. Ketersediaan air bersih dan bantuan medis semakin menipis, memicu kekhawatiran akan epidemi kolera.
Negara‑negara tetangga, termasuk Iran dan Turkmenistan, mengeluarkan pernyataan keprihatinan dan menyerukan gencatan senjata. Amerika Serikat, melalui Departemen Luar Negeri, menyatakan “kekhawatiran mendalam” atas eskalasi dan mengingatkan “dampak regional yang luas” bila konflik berlanjut.
Proyeksi Ke Depan dan Analisis Strategis
Menurut analis militer dari University of Karachi, operasi Ghalib Lil‑Haqq menandai perubahan strategi Pakistan dari pendekatan “low‑intensity conflict” menjadi “full‑scale conventional warfare”. Mereka menilai bahwa Pakistan berupaya memaksa Taliban menandatangani perjanjian keamanan yang mengikat, sekaligus menindak jaringan TTP yang beroperasi lintas batas.
Di sisi lain, pakar politik Afghanistan, Dr. Ahmad Shah Ahmadzai (University of Kabul), memperingatkan bahwa “kegagalan Taliban menahan serangan dapat memicu fragmentasi internal, membuka ruang bagi kelompok‑kelompok ekstrem lain seperti ISIS‑Khorasan.”
Jika konflik berlanjut, skenario terburuk meliputi:
- Penurunan drastis layanan kesehatan dan pendidikan di provinsi‑provinsi yang terdampak.
- Lonjakan pengungsi lintas perbatasan ke Pakistan, Iran, dan Tajikistan.
- Intervensi militer internasional atau mediasi PBB yang berpotensi mengubah dinamika kekuasaan regional.
Sejauh ini, tidak ada tanda-tanda bahwa kedua belah pihak akan kembali ke meja perundingan. Pemerintah Pakistan menegaskan bahwa “perang terbuka” akan terus berlanjut sampai “ancaman TTP” sepenuhnya terhapus.
Dengan ribuan korban jiwa, jutaan orang mengungsi, dan infrastruktur kritis hancur, konflik Pakistan‑Afghanistan kini menjadi krisis kemanusiaan terbesar di Asia Selatan sejak akhir 2020‑an. Pengamat menilai bahwa dunia harus bersiap menghadapi konsekuensi geopolitik yang meluas, termasuk potensi meredam jalur perdagangan energi di wilayah tersebut.
