Jakarta, NusaDaily.ID — Empat hari setelah serangan balasan Iran, Amerika Serikat mengumumkan penghancuran 17 kapal perang Iran dalam operasi maritim yang menargetkan fasilitas pelabuhan di Teluk Persia, sementara Presiden Donald Trump menuding Inggris dan Spanyol melanggar keputusan aliansi NATO dan Beijing memperingatkan akan “konsekuensi besar” bila serangan terus berlanjut.
Operasi laut AS: 17 kapal Iran hancur
Menurut pernyataan resmi Departemen Pertahanan yang dirilis pada pukul 04.00 WIB, armada kapal perusak kelas‑A milik Angkatan Laut Amerika Serikat (USN) melakukan serangkaian serangan presisi terhadap armada permukaan Iran di Selat Hormoz. Hasilnya, 17 kapal Iran—termasuk kapal kargo berisi senjata, tanker kargo minyak, dan tiga kapal perang kecil—dinyatakan hancur total atau tak dapat beroperasi lagi.
Operasi ini dipicu oleh serangkaian peluncuran drone dan misil balistik yang diluncurkan Iran ke pangkalan militer AS di wilayah Teluk pada hari sebelumnya. Pentagon menegaskan bahwa tindakan ini merupakan respon proporsional untuk menghentikan “ancaman langsung terhadap warga sipil dan aset strategis” Amerika Serikat.
| Nama Kapal | Tipe | Status |
|---|---|---|
| IRIS‑01 | Kapal Kargo Senjata | Hancur |
| HOMA‑12 | Tanker Minyak | Terbakar |
| FARSI‑07 | Kapal Perang Kecil | Terbengkalai |
| SHIRAZ‑03 | Kapal Kargo Umum | Hancur |
| … | … | … |
Data lengkap mengenai 17 kapal tersebut belum diungkapkan secara publik, namun sejumlah analis militer menilai bahwa hilangnya kapal-kapal ini akan mengurangi kemampuan Iran dalam mengangkut persediaan logistik ke front perbatasan di Irak dan Suriah.
Reaksi Trump: Kritik tajam kepada London dan Madrid
Dalam konferensi pers di Gedung Putih pada pukul 09.30 WIB, Presiden Donald Trump menyampaikan rasa kecewa atas apa yang ia sebut “ketidaksetiaan” sekutu tradisional Amerika. Trump menuduh Inggris dan Spanyol secara terbuka menentang kebijakan militer AS dengan menolak memberikan akses logistik untuk pasukan AS yang akan menurunkan operasi darat di wilayah Iran.
“Saya tidak mengerti bagaimana sekutu lama kami bisa menolak membantu kami melindungi kepentingan bersama. Inggris dan Spanyol seharusnya berada di pihak kami, bukan menahan kami,” ujar Trump.
Berikut daftar poin utama yang dikeluhkan Trump:
- Penolakan Inggris memberikan pangkalan udara di RAF Akrotiri, Siprus, untuk operasi darat.
- Spanyol menolak mengizinkan kapal angkut logistik AS berlabuh di Pelabuhan Algeciras.
- Kedua negara mengkritik keputusan AS tanpa menawarkan alternatif diplomatik.
Pernyataan Trump memicu perdebatan di parlemen Inggris dan Spanyol. Menurut sumber di Kementerian Luar Negeri Inggris, London tetap “komitmen pada solusi diplomatik” dan menolak “menjadikan konflik wilayah menjadi urusan internal Amerika.”
Peringatan China: “Konsekuensi Besar” bagi semua pihak
Jam 13.00 WIB, Kementerian Luar Negeri Republik Rakyat Tiongkok mengeluarkan pernyataan resmi yang menegaskan bahwa serangan AS terhadap kapal Iran merupakan pelanggaran hukum internasional. Beijing menambahkan bahwa tindakan tersebut dapat menimbulkan “konsekuensi besar” bagi stabilitas regional dan global.
“China menolak keras segala bentuk agresi yang dapat mengganggu perdamaian dan keamanan di kawasan Teluk Persia. Kami mengingatkan semua pihak bahwa setiap tindakan militer harus diimbangi dengan pertanggungjawaban diplomatik yang jelas,” kata juru bicara Wang Yi.
Dalam konteks geopolitik, China dipandang sebagai mitra strategis Tehran. Namun, analis Beijing “ice‑cold calculus” menilai bahwa Tiongkok tidak akan secara terbuka menyediakan senjata canggih seperti rudal anti‑kapal supersonik ke Iran, mengingat tekanan internasional yang terus meningkat.
Serangan balasan Iran: Drone ke Kedutaan AS di Riyadh
Pada sore hari (15.00 WIB), otoritas Saudi Arabia melaporkan bahwa sebuah drone bersenjata menabrak kompleks Kedutaan Amerika Serikat di Riyadh. Tidak ada korban jiwa, namun beberapa personel keamanan terluka ringan. Iran mengklaim bahwa serangan tersebut merupakan “balasan yang sah” atas pengeboman kapal mereka.
Presiden Trump menanggapi dengan mengumumkan “gelombang serangan udara besar” yang akan dilancarkan dalam beberapa hari ke depan. “Kami tidak akan mundur. Kami akan menunjukkan kekuatan penuh kami,” tegasnya dalam pernyataan singkat di Twitter.
Dampak domestik: Keluarga militer di AS dan perdebatan War Powers Act
Di dalam negeri, keluarga militer Amerika Serikat mengalami tekanan psikologis yang meningkat. Menurut survei yang dilakukan oleh Pew Research pada 2 Maret 2026, 68 % veteran dan anggota keluarga aktif menyatakan kekhawatiran akan penempatan kembali ke zona konflik.
Sementara itu, Kongres AS kembali menggelar sidang darurat untuk membahas apakah Presiden Trump telah melanggar War Powers Act 1973. Sejumlah anggota DPR, termasuk Rep. Jim McGovern (D‑MA), menuntut pemungutan suara untuk otorisasi militer tambahan, mengingat operasi udara yang berpotensi meluas ke wilayah darat Iran.
Di sisi lain, koalisi pro‑Presiden berargumen bahwa “kewenangan eksekutif dalam situasi darurat” memberi hak bagi Trump untuk bertindak cepat tanpa persetujuan legislatif.
Harga minyak melambung dan implikasi ekonomi global
Pasar energi merespon dengan cepat. Pada hari Senin, harga minyak Brent naik 11 sen menjadi $93,40 per barrel, sementara harga West Texas Intermediate (WTI) mencapai $89,70 per barrel. Analisis Bloomberg menilai bahwa lonjakan harga dipicu oleh ketidakpastian pasokan dari wilayah Teluk Persia, yang menyumbang hampir 30 % produksi minyak dunia.
Bank sentral Eropa dan Federal Reserve memantau situasi dengan cermat, mengingat inflasi global yang masih berada di atas target 2 %. Beberapa perusahaan penerbangan dan shipping melaporkan penyesuaian tarif untuk mengantisipasi biaya bahan bakar yang lebih tinggi selama beberapa bulan ke depan.
Secara keseluruhan, hari keempat konflik Iran‑AS menandai eskalasi militer yang melibatkan aktor regional dan global. Dengan 17 kapal Iran yang hancur, peringatan keras Beijing, serta kritik Trump terhadap sekutu Eropa, dinamika geopolitik di Timur Tengah diperkirakan akan tetap tegang selama beberapa minggu ke depan, sambil menunggu respons diplomatik dari PBB dan negara‑negara besar lainnya.
