PT SAS Diminta Angkat Kaki, Dr. Dedek Kusnadi: ‘Londo Ireng’ Akan Berhadapan dengan Rakyat

Posted on

JAMBI, NUSADAILY.ID – Rencana pembangunan Terminal Untuk Kepentingan Sendiri (TUKS) oleh PT Sinar Anugerah Sukses (PT SAS) di kawasan Aur Kenali, Kota Jambi, menuai penolakan keras dari berbagai pihak, termasuk dari akademisi. Dr. Dedek Kusnadi, seorang pengamat kebijakan publik dari UIN STS Jambi, secara tegas meminta PT SAS untuk menghentikan proyek tersebut, Senin (18/08/2025).

​Menurut Dr. Dedek, lokasi proyek yang sangat dekat dengan sumber air baku masyarakat, hanya sekitar 700 meter dari intake PDAM adalah alasan yang tidak bisa ditoleransi. “Pembangunan ini ibarat membangun pabrik kimia di halaman rumah. Sekecil apa pun risiko kebocoran, dampaknya bisa fatal bagi seluruh keluarga,” ujarnya. Ia menekankan bahwa air bersih adalah hak dasar masyarakat yang tidak bisa dikompromikan demi kepentingan ekonomi segelintir korporasi.

​Dr. Dedek menjelaskan, meskipun pihak perusahaan mengklaim telah memiliki dokumen mitigasi, ancaman pencemaran tetap nyata. Ia mencontohkan aktivitas pelabuhan batu bara di Kalimantan yang telah terbukti meningkatkan kekeruhan air sungai secara signifikan, mengganggu pasokan air bersih bagi masyarakat. “Janji mitigasi seringkali hanya tinggal janji. Kerusakan lingkungan yang terjadi di lapangan jauh lebih cepat dan sulit dikendalikan daripada yang tertera di atas kertas,” tambahnya.

​Lebih jauh, ia menyoroti fenomena “londo ireng” yang marak dalam kasus-kasus sengketa lingkungan. “Londo ireng” adalah sebutan bagi individu atau kelompok, seringkali dari kalangan terdidik, yang membela kepentingan korporasi dengan dalih ilmiah atau rasionalitas, seolah-olah mereka adalah “teman” lingkungan. “Mereka mencoba meyakinkan masyarakat bahwa risiko itu kecil atau bisa diatasi, padahal mereka hanya menjadi corong kepentingan bisnis. Fenomena ini sangat berbahaya karena memanipulasi opini publik,” jelasnya.

​Dr. Dedek menegaskan bahwa jika PT SAS tetap melanjutkan proyeknya, mereka tidak hanya akan berhadapan dengan pemerintah, tetapi juga dengan seluruh elemen masyarakat. Ia menyebutkan, perlawanan terhadap proyek ini akan menjadi momentum bagi rakyat untuk bersatu melawan pihak-pihak yang mencoba merusak lingkungan demi keuntungan pribadi.

​”Prinsip kehati-hatian harus diutamakan. Nilai air bersih jauh lebih tinggi dari nilai investasi apa pun. Jika PT SAS tidak mau angkat kaki, maka ‘londo ireng’ yang membela mereka akan berhadapan langsung dengan rakyat. Kami tidak akan membiarkan sumber air kami tercemar,” pungkasnya dengan nada tegas.

Jurnalis: ASAD/Bintang34/*
Narasumber: Dr. Dedek dan Dr. Nov
Disusun oleh: Redaksi / nusadaily.id

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *