Jakarta, NusaDaily.ID — QRIS siap menembus pasar China dan Korea Selatan pada akhir Maret 2026, menandai langkah besar dalam upaya standardisasi pembayaran digital lintas negara.
Rencana Implementasi QRIS Lintas Negara
Bank Indonesia (BI) menargetkan peluncuran QRIS antarnegara dengan China dan Korea Selatan pada akhir Maret atau awal April 2026. Target tersebut merupakan bagian dari program ekspansi global QRIS yang telah mencakup Thailand, Singapura, Malaysia, dan Jepang sejak 2023.
Menurut pernyataan resmi BI, delapan negara menjadi prioritas dalam fase awal implementasi QRIS tahun ini, dengan China dan Korea Selatan berada di urutan pertama. “Kami ingin memastikan bahwa konsumen Indonesia dapat bertransaksi di luar negeri hanya dengan memindai kode QR lokal negara mitra, menggunakan aplikasi pembayaran digital yang mereka miliki,” ujar Kepala Divisi Pembayaran Digital BI, Rini Suryani, dalam konferensi pers di Kantor Bank Indonesia, Jakarta, 1 Februari 2026.
Bagaimana QRIS Antarnegara Bekerja?
QRIS Antarnegara memungkinkan pengguna aplikasi pembayaran digital Indonesia, seperti OVO, DANA, dan LinkAja, untuk memindai kode QR yang dikeluarkan oleh merchant di negara mitra tanpa harus beralih ke aplikasi lokal. Sistem backend mengonversi mata uang secara real‑time, mengacu pada kurs tengah Bank Indonesia, sehingga transaksi selesai dalam hitungan detik.
- Pengguna cukup membuka aplikasi pembayaran digital yang terdaftar di QRIS.
- Memindai QR code yang dipasang merchant di China atau Korea Selatan.
- Biaya konversi mata uang dan biaya layanan otomatis terpotong dari saldo pengguna.
- Merchant menerima pembayaran dalam mata uang lokalnya, tanpa harus mengintegrasikan sistem baru.
Fitur ini didukung oleh QRIS Tap, sebuah modul tambahan yang memungkinkan pembayaran kontak‑less melalui NFC, mempercepat proses di gerai ritel cepat saji dan transportasi umum.
Langkah Persiapan di Tanah Air
Untuk memastikan kelancaran integrasi, BI telah menggelar serangkaian workshop bersama penyedia layanan pembayaran digital, perbankan, dan otoritas keuangan China serta Korea Selatan. Workshop pertama diadakan di Jakarta pada 15 Januari 2026, diikuti dengan sesi di Shanghai dan Seoul pada akhir Februari 2026.
Bank-bank besar Indonesia, termasuk Bank Mandiri, BCA, dan BNI, telah menyiapkan infrastruktur settlement internasional yang terhubung dengan jaringan SWIFT dan sistem clearing domestik masing‑masing. “Kami sudah melakukan uji coba sandbox selama tiga bulan terakhir, melibatkan 30 merchant di Shanghai dan 25 merchant di Seoul,” ungkap Kepala Departemen Sistem Pembayaran BCA, Ahmad Fauzi, dalam pertemuan bulanan BCA pada 20 Januari 2026.
Manfaat Bagi Konsumen dan Pedagang
Ekspansi QRIS ke China dan Korea Selatan memberikan beberapa keuntungan langsung:
- Kemudahan: Wisatawan Indonesia tidak perlu menyiapkan aplikasi lokal atau menukar uang tunai sebelum berbelanja di Asia Timur.
- Kecepatan: Transaksi selesai dalam hitungan detik, mengurangi antrian di gerai ritel atau transportasi umum.
- Transparansi biaya: Biaya konversi dan layanan ditampilkan secara jelas di aplikasi, menghindari biaya tersembunyi.
- Keamanan: QR code yang terstandarisasi mengurangi risiko penipuan dibandingkan pembayaran QR yang tidak terverifikasi.
Pedagang di China dan Korea Selatan juga diuntungkan karena dapat menerima pembayaran dari jutaan konsumen Indonesia tanpa harus mengintegrasikan solusi pembayaran baru. “QRIS membantu kami membuka pasar baru tanpa menambah beban teknis,” kata Li Wei, manajer operasional jaringan kafe di Shanghai, dilansir dari Reuters.
Timeline Implementasi QRIS ke China dan Korea Selatan
| Tahap | Waktu | Kegiatan |
|---|---|---|
| Persiapan Teknis | Jan – Feb 2026 | Workshop, uji coba sandbox, sinkronisasi sistem settlement |
| Uji Coba Lapangan | Mar 2026 | Piloting di 30 merchant Shanghai & 25 merchant Seoul |
| Peluncuran Resmi | 30 Mar – 5 Apr 2026 | QRIS Antarnegara aktif, publikasi massal, edukasi konsumen |
| Evaluasi & Optimasi | Mei – Jun 2026 | Monitoring transaksi, penyesuaian biaya, penambahan merchant |
Reaksi Pasar dan Analisis Ekonomi
Para analis ekonomi menilai bahwa ekspansi QRIS dapat menambah volume transaksi lintas negara setidaknya 12‑15% pada tahun pertama. “Jika QRIS berhasil menembus pasar China, yang merupakan ekonomi terbesar dunia, potensi pertumbuhan transaksi digital Indonesia akan melonjak secara signifikan,” ujar Dr. Siti Nurhaliza, ekonom senior di Bank Rakyat Indonesia, dalam wawancara dengan CNBC Indonesia pada 22 Januari 2026.
Selain itu, pemerintah Indonesia menargetkan peningkatan inklusi keuangan digital menjadi 85% pada akhir 2026, sejalan dengan rencana “Digital Economy 2025‑2030”. QRIS Antarnegara dianggap sebagai salah satu pilar utama untuk mencapai target tersebut.
Langkah Selanjutnya: Ekspansi ke Negara Lain
Setelah China dan Korea Selatan, BI menargetkan penambahan empat negara lagi pada tahun 2027, meliputi Vietnam, Filipina, Australia, dan Selandia Baru. Proses seleksi negara mitra didasarkan pada volume perdagangan bilateral, adopsi pembayaran digital, dan kesiapan regulasi.
“Kami tidak hanya fokus pada Asia Timur, tetapi juga ingin menjangkau pasar-pasar yang memiliki hubungan dagang kuat dengan Indonesia,” tambah Rini Suryani dalam pernyataan resmi BI pada 3 Februari 2026.
“QRIS Antarnegara adalah wujud komitmen Indonesia untuk menjadi pemain utama dalam ekosistem pembayaran digital global,” kata Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, dalam rapat koordinasi Kementerian Keuangan dan Otoritas Jasa Keuangan pada 28 Januari 2026.
Persiapan Konsumen: Edukasi dan Akses
Bank Indonesia bekerja sama dengan Asosiasi Fintech Indonesia (AFTech) untuk meluncurkan kampanye edukasi melalui media sosial, webinar, dan roadshow di kota‑kota besar seperti Surabaya, Bandung, dan Medan. Materi edukasi menekankan cara memindai QR code lintas negara, pengecekan kurs, serta keamanan transaksi.
Selain itu, aplikasi pembayaran digital akan menambahkan fitur “QRIS Global” pada antarmuka utama, memudahkan pengguna menemukan merchant internasional terdekat melalui peta interaktif.
Dengan langkah ini, QRIS bukan lagi sekadar standar pembayaran domestik, melainkan platform pembayaran digital yang dapat bersaing di panggung internasional.
