Politik

Ramadan di Akar Rumput: PDI Perjuangan Bungo Konsolidasikan Mesin Partai Lewat Musyawarah PAC dan Ranting

Di ruang-ruang sederhana tingkat kecamatan dan desa, di antara spanduk merah dan tikar yang digelar di atas ubin, konsolidasi politik dimulai dari bentuknya yang paling mendasar: musyawarah. Tahun ini, proses itu berlangsung dalam suasana yang berbeda, di bulan suci Ramadan, ketika ritme aktivitas publik melambat, namun perbincangan tentang arah organisasi justru menguat sebelum dan selepas waktu berbuka.

A

Angga Saputra

Ramadan di Akar Rumput: PDI Perjuangan Bungo Konsolidasikan Mesin Partai Lewat Musyawarah PAC dan Ranting
Ramadan di Akar Rumput: PDI Perjuangan Bungo Konsolidasikan Mesin Partai Lewat Musyawarah PAC dan Ranting

BUNGO, NUSADAILY.IDDi ruang-ruang sederhana tingkat kecamatan dan desa, di antara spanduk merah dan tikar yang digelar di atas ubin, konsolidasi politik dimulai dari bentuknya yang paling mendasar: musyawarah. Tahun ini, proses itu berlangsung dalam suasana yang berbeda, di bulan suci Ramadan, ketika ritme aktivitas publik melambat, namun perbincangan tentang arah organisasi justru menguat sebelum dan selepas waktu berbuka.

Musyawarah Pengurus Anak Cabang (PAC) dan Ranting merupakan denyut organisasi di tingkat akar rumput dalam struktur Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI Perjuangan). Forum ini bukan agenda, melainkan mekanisme formal yang diatur dalam Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) partai, sebuah proses periodik yang menentukan arah, stabilitas, dan efektivitas struktur di tingkat kecamatan hingga desa dan kelurahan.
PAC beroperasi di tingkat kecamatan, sementara Ranting menjadi representasi partai di desa/dusun atau kelurahan. Musyawarah digelar menjelang berakhirnya masa bakti kepengurusan atau  ketika partai bersiap menghadapi agenda politik yang lebih luas: pemilu legislatif, pilkada, hingga pemilihan presiden. Di forum inilah evaluasi dilakukan, strategi dirumuskan, dan kepemimpinan diperbarui.

Secara formal, agenda musyawarah mencakup empat hal pokok: mengevaluasi kinerja pengurus sebelumnya; menyusun program kerja periode berikutnya; memilih ketua, sekretaris, bendahara, serta struktur baru; dan memperkuat soliditas kader sekaligus memperluas basis keanggotaan. Musyawarah mufakat menjadi mekanisme utama pengambilan keputusan, mencerminkan tradisi kolektif yang dijunjung partai. Jika konsensus tak tercapai, pemungutan suara internal menjadi opsi terakhir. Hasilnya kemudian diajukan kepada Dewan Pimpinan Cabang (DPC) untuk disahkan.

Di Kabupaten Bungo, rangkaian musyawarah ini dilaksanakan sepanjang Ramadan tahun ini. Bendahara PDI Perjuangan Kabupaten Bungo, Ir. Rintang Siahaan, menjelaskan bahwa pelaksanaan tersebut merupakan tindak lanjut dari rapat internal pada Senin (02/02/2026). Sejumlah kecamatan telah menggelar forum, di antaranya Bathin II Babeko, Bathin III, Bungo Dani, Jujuhan, Jujuhan Ilir, Limbur Lubuk Mengkuang, Muko-Muko Bathin VII, Pasar Muara Bungo, Pelepat, Pelepat Ilir, Rimbo Tengah, Tanah Sepenggal, Tanah Sepenggal Lintas, dan Tanah Tumbuh.

Adapun Kecamatan Rantau Pandan, Bathin III Ulu, dan Bathin II Pelayang dijadwalkan menyusul pada Kamis dan Jumat mendatang, masih dalam suasana Ramadan yang sama.
Bagi partai, keberhasilan konsolidasi di tingkat ini menentukan daya tahan mesin politiknya. Di sanalah kader direkrut, aspirasi dihimpun, dan loyalitas diuji. Di bulan yang identik dengan refleksi dan penguatan nilai-nilai kebersamaan, musyawarah ini menjadi lebih dari sekadar prosedur administratif, ia menjadi fondasi sunyi yang menopang kesiapan politik di panggung yang lebih besar.

Redaksi nusadaily.id/*

 

Bagikan Artikel

Artikel Terkait