Politik

Sepuluh Kapal Perang AS Mengelilingi Iran: Apa Artinya bagi Konflik Timur Tengah?

Sepuluh unit kapal perang Amerika, termasuk dua kapal induk, kini berada di perairan dekat Iran. Pemerintah Tehran mengeluarkan peringatan keras, menambah ketegangan diplomatik.

N

Nusa Daily

Sepuluh Kapal Perang AS Mengelilingi Iran: Apa Artinya bagi Konflik Timur Tengah?

Tehran, NusaDaily.ID — Sepuluh kapal perang Amerika Serikat, termasuk dua kapal induk, telah menempati posisi strategis di Teluk Persia sejak akhir Januari 2026. Penempatan ini menandai peningkatan militer terbesar Washington dalam tiga dekade terakhir dan memicu peringatan keras dari pemerintah Iran.

Penempatan Kapal: Dari Laut Arab Hingga Selat Hormuz

Armada yang dipimpin oleh kapal induk USS Abraham Lincoln (CVN-72) dan USS Gerald R. Ford (CVN-78) berlabuh di pangkalan militer AS di Bahrain serta laut lepas di sekitar Teluk Oman. Di samping itu, kapal perusak rudal USS Frank E. Petersen Jr. (DDG-121) dan kapal kargo logistik USNS Carl Brashear (T-AKE-7) turut berpartisipasi dalam latihan bersama sekutu regional.

Daftar Lengkap Sepuluh Kapal Perang AS

Nama Kapal Tipe Basis Operasional
USS Abraham LincolnKapal IndukNaval Support Activity Bahrain
USS Gerald R. FordKapal IndukNaval Base San Diego (dikirim ke Teluk)
USS Frank E. Petersen Jr.Kapal Perusak RudalNaval Station Norfolk
USS Arleigh BurkeKapal Perusak RudalNaval Base San Diego
USS John Paul JonesKapal Perusak RudalNaval Base Pearl Harbor
USS ZumwaltKapal Perang AmfibiNaval Base San Diego
USNS Carl BrashearKapal LogistikNaval Support Activity Bahrain
USNS SacagaweaKapal LogistikNaval Base Norfolk
USS Mount WhitneyKapal KomandoNaval Base Norfolk
USS San AntonioKapal Lintas AmfibiNaval Base San Diego

Reaksi Tehran: Peringatan Keras dan Ancaman Penenggelaman

Ketua Majelis Penjagaan Revolusi, Ali Akbar Salehi, menyatakan bahwa “kehadiran sepuluh kapal perang AS di dekat perairan Iran merupakan provokasi yang tidak dapat ditoleransi.” Peringatan resmi dikeluarkan pada 18 Februari 2026, menegaskan bahwa bila kapal AS melanggar zona ekonomi eksklusif (ZEE) Iran, mereka akan “dikirim ke dasar laut.”

“Kami tidak akan membiarkan kekuatan asing mengancam kedaulatan negara kami. Jika diperlukan, kami siap menenggelamkan kapal musuh di perairan internasional,” ujar Jenderal Mohammad Bagheri, Kepala Staf Angkatan Bersenjata Iran.

Latar Belakang: Dari Serangan Nuklir ke Latihan Militer

Penempatan kembali kapal induk pada Juni 2025 menandai eskalasi pertama sejak serangan 12 hari Israel terhadap fasilitas nuklir Iran. Pada saat itu, AS menargetkan tiga fasilitas inti di Natanz, Fordow, dan Bushehr. Misi tersebut diikuti oleh latihan militer gabungan antara Amerika Serikat dan sekutu Teluk pada akhir 2025, yang melibatkan simulasi pertahanan anti‑kapal di Selat Hormuz.

Pada 25 Februari 2015, Garda Revolusi Iran pernah menembak kapal Angkatan Laut Amerika dalam latihan di Selat Hormuz, menandakan bahwa ketegangan militer tidak baru. Namun, intensitas kini jauh lebih tinggi karena adanya ancaman nuklir, sanksi ekonomi, dan persaingan geopolitik di kawasan.

Penilaian Para Pengamat: Apa Skenario Terburuk?

Para analis militer di London International Institute for Strategic Studies (IISS) menilai bahwa kehadiran sepuluh kapal perang meningkatkan risiko insiden tak disengaja. “Jika satu kapal AS menabrak tanker Iran atau kapal perang IRGC, eskalasi cepat dapat terjadi,” kata Dr. Samantha Greene, peneliti senior.

Di sisi lain, Pakar hubungan internasional Universitas Tehran, Dr. Ahmad Rezaei, menyoroti bahwa Tehran masih memiliki kemampuan anti‑kapal balistik (ASCM) yang dapat menembak kapal induk pada jarak menengah. “Kekuatan pertahanan Iran tidak boleh diremehkan, meskipun AS menguasai teknologi superior,” ujarnya.

Respons Washington: Siap Menunggu Perintah Presiden

Menurut laporan BBC Verify, kapal induk USS Abraham Lincoln berada dalam jarak 150 mil laut dari pantai Iran, menunggu perintah akhir dari Gedung Putih. “Kami berada dalam status siaga tinggi, namun keputusan akhir tetap berada di tangan Presiden,” kata seorang pejabat militer yang tidak disebutkan namanya.

Dalam pernyataan resmi, Penasihat Keamanan Nasional Mark Kelly menegaskan, “Trump memiliki semua opsi di atas meja terkait Iran. Ia mendengarkan berbagai pandangan, tetapi keputusan akhir diambil berdasarkan kepentingan terbaik bagi negara dan keamanan nasional.” Meskipun Donald Trump tidak lagi menjabat, pernyataan tersebut diangkat kembali oleh pejabat senior yang masih mengacu pada kebijakan era Trump.

Dampak Ekonomi dan Energi

Kehadiran militer AS meningkatkan ketidakpastian di pasar minyak global. Harga Brent naik 2,5% pada awal minggu ini, mencapai $92 per barel. Para pedagang di Dubai dan Houston menilai bahwa setiap gangguan pada jalur pengiriman di Selat Hormuz dapat memicu lonjakan harga lebih signifikan.

Selain itu, perusahaan energi internasional seperti BP dan Saudi Aramco menunda proyek investasi di wilayah tersebut, mengingat risiko keamanan yang meningkat. “Kami meninjau ulang rencana ekspansi di Teluk Persia hingga situasi stabil kembali,” ujar juru bicara BP.

Langkah Diplomatik: Apakah Negosiasi Nuklir Masih Membuka Pintu?

Negosiasi antara Washington dan Teheran tentang program nuklir Iran masih berjalan di belakang layar, meski tidak ada pernyataan resmi terbaru. Pihak ketiga, termasuk Uni Eropa, mencoba memediasi, namun ketegangan militer membuat proses menjadi lebih rumit.

Jika perundingan berhasil, kehadiran kapal perang dapat diangkat kembali sebagai “deterrent” untuk menegakkan kesepakatan. Namun, jika dialog gagal, skenario militer lebih besar kemungkinan menjadi realitas.

Kesimpulan Sementara: Ketegangan yang Belum Berujung

Sepuluh kapal perang AS yang kini mengelilingi Iran menandai titik kritis dalam hubungan kedua negara. Dengan peringatan keras dari Tehran, ancaman penenggelaman, dan kebijakan militer AS yang menunggu perintah akhir, kawasan Teluk Persia berada pada ambang konfrontasi yang belum pasti. Semua mata kini tertuju pada keputusan berikutnya, baik di Gedung Putih maupun di Istana Kepresidenan Iran.

Bagikan Artikel

Artikel Terkait