Jakarta, NusaDaily.ID — Film aksi Triple Threat yang dibintangi Iko Uwais, Tony Jaa, dan Tiger Chen resmi tayang di bioskop Indonesia sejak 20 Februari 2026. Mengusung tema "tiga ahli, satu misi", film ini menjadi sorotan utama pecinta laga Asia. Berikut ulasan lengkap meliputi sinopsis, kualitas aksi, perbandingan dengan film sejenis, serta respons penonton lokal.
Sinopsis Triple Threat: Tiga Operatif, Satu Misi
Triple Threat mengisahkan tiga mantan agen khusus yang masing-masing memiliki latar belakang bela diri unik. Iko Uwais berperan sebagai Yuda, mantan komandan pasukan khusus Indonesia yang menguasai pencak silat. Tony Jaa memerankan Lin, eks-soldier Thailand yang mengandalkan Muay Thai. Tiger Chen menjadi Chen, mantan agen Tiongkok yang terlatih dalam Wing Chun. Ketiganya dipertemukan oleh seorang intelijen rahasia untuk menumpas jaringan teroris internasional yang mengancam keamanan global.
Plot utama berpusat pada pencurian senjata biologi berbahaya di sebuah fasilitas militer di Pulau Borneo. Saat tim berhasil menyusup, mereka harus mengatasi jebakan berlapis, pertarungan tangan kosong, serta konfrontasi dengan pemimpin teroris yang diperankan oleh Peter Stormare. Setiap aksi menampilkan teknik beladiri yang berbeda namun terintegrasi secara sinematik, menambah kedalaman karakter masing‑masing.
Aksi Bela Diri yang Mengguncang Layar
Direktur John Hyams mengedepankan koreografi pertarungan yang realistis. Iko Uwais, yang dikenal lewat Mile 22 dan The Night Comes for Us, menampilkan gerakan silat yang memadukan kecepatan dan kekuatan. Tony Jaa kembali menonjolkan gaya Muay Thai yang brutal, sementara Tiger Chen memperlihatkan presisi Wing Chun. Kombinasi ini menghasilkan adegan pertarungan yang tidak hanya mengandalkan efek CGI, melainkan gerakan fisik yang terasa “live”.
Penonton melaporkan bahwa adegan pengejaran di hutan hujan Borneo menjadi salah satu momen paling menegangkan. Selama 12 menit, ketiga protagonis berlari, melompat, dan melancarkan serangan beruntun tanpa jeda. Menurut Salinan dari Kompas.com, “Setiap pukulan terasa nyata, menegaskan bahwa produksi tidak mengandalkan cut‑scene berlebihan.”
- Keunggulan koreografi: gerakan terkoordinasi, minim pemotongan cepat.
- Penggunaan efek praktis: ledakan dan percikan darah dibuat secara fisik, meningkatkan intensitas.
- Penggambaran karakter: latar belakang budaya masing‑masing agen menambah warna visual.
Pembandingan dengan Mile 22 dan Film Laga Asia Lain
Triple Threat sering dibandingkan dengan Mile 22 (2023) yang juga menampilkan Iko Uwais. Kedua film menonjolkan aksi fisik, namun Mile 22 lebih mengandalkan taktik tim militer Amerika, sementara Triple Threat menekankan kerjasama lintas budaya. Menurut ulasan di TechInAsia, “Triple Threat berhasil menyajikan aksi yang lebih personal, menyoroti keunikan masing‑masing seni bela diri.”
Selain itu, film ini mengingatkan pada Until Dawn (2024) yang mengusung konsep survival horor. Kedua film memaksa karakter untuk bertahan hingga fajar, namun genre yang berbeda menghasilkan pendekatan naratif yang berbeda. Triple Threat menekankan strategi militer, sedangkan Until Dawn lebih pada ketegangan psikologis.
Respons Penonton dan Kritikus di Indonesia
Data box‑office yang dirilis oleh FilmIndonesia.co menunjukkan bahwa Triple Threat menghasilkan pendapatan Rp45 miliar dalam minggu pertama, melampaui ekspektasi distributor sebesar Rp30 miliar. Angka ini menempatkan film dalam kategori “Hit” menurut standar industri lokal.
| Parameter | Nilai |
|---|---|
| Budget Produksi | US$15 juta |
| Box Office Indonesia (Minggu 1) | Rp45 miliar |
| Rating IMDb | 6,8/10 |
| Rating Rotten Tomatoes | 71% |
Di media sosial, hashtag #TripleThreat jadi trending di Twitter Indonesia selama 48 jam pertama. Pengguna menyoroti adegan pertarungan di atas jembatan gantung, menyebutnya “epik”. Sementara itu, kritik dari Film Review Indonesia menilai plot terlalu “klise”, namun mengakui bahwa aksi “menjadi penyelamat film”.
“Jika Anda menginginkan film aksi yang menampilkan tiga gaya beladiri berbeda dalam satu layar, Triple Threat adalah pilihan tepat. Namun, jangan harapkan alur cerita yang revolusioner,” – Dilansir dari Film Review Indonesia.
Secara keseluruhan, Triple Threat berhasil menyatukan elemen budaya bela diri Asia dalam satu paket komersial yang menghibur. Bagi penikmat film laga, film ini layak ditonton di bioskop. Bagi penonton yang mengutamakan alur cerita kompleks, film ini mungkin terasa ringan. Namun, kekuatan visual dan intensitas aksi tetap menjadi nilai jual utama.
