Washington DC, NusaDaily.ID — Pada Kamis, 19 Februari 2026, Presiden Amerika Serikat Donald J. Trump membuka Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Dewan Perdamaian (Board of Peace/BoP) yang berfokus pada krisis Gaza dengan memuji Presiden Indonesia Prabowo Subianto sebagai ‘pemimpin besar dan tangguh’ serta ‘respected by everybody’. Pujian tersebut muncul dalam rapat perdana yang dihadiri kepala negara serta pejabat tinggi dari lebih dua puluh negara.
Pertemuan Board of Peace di Washington
Board of Peace, sebuah forum multinasional yang dibentuk pada 2024 untuk menggalakkan dialog damai di wilayah konflik Palestina‑Israel, menggelar pertemuan pertamanya di Washington Convention Center, Washington DC. Acara ini dihadiri oleh delegasi resmi, termasuk Menteri Luar Negeri Indonesia, Retno Marsudi, serta perwakilan Kementerian Pertahanan, Prabowo Subianto, yang bertindak sebagai Presiden Republik Indonesia.
Agenda utama KTT meliputi penetapan mekanisme gencatan senjata, penyaluran bantuan kemanusiaan, dan penegakan solusi dua negara yang didukung oleh PBB. Prabowo menegaskan posisi Indonesia sebagai mediator netral yang siap memfasilitasi pembicaraan antara Hamas dan Israel.
Pujian Trump kepada Prabowo
Dalam sambutan pembukaan, Trump menyoroti ketegasan Prabowo dengan pernyataan:
“I don’t want to fight a man like Prabowo. He’s a big, tough leader, respected by everybody.”
Kalimat tersebut kemudian diulang dalam beberapa liputan media Indonesia, termasuk ANTARA dan LINGKAR, yang mencatat bahwa Trump menambahkan, “I’m not looking for a fight with him; I want to work together for peace.”
Salinan dari ANTARA mengutip pernyataan lengkap Trump: “Prabowo Subianto is a man I don’t want to fight. He is respected by everybody and his resolve is something we need in the pursuit of peace in Gaza.”
Berita Kabartimurnews.com juga menuliskan, “Trump memuji Prabowo sebagai tokoh besar dan tangguh yang memiliki keberanian untuk mengambil keputusan tegas.”
Reaksi Pemerintah dan Parlemen Indonesia
Setelah pernyataan Trump, Presiden Joko Widodo (Jokowi) melalui Kantor Presiden mengirimkan ucapan terima kasih kepada Presiden Amerika Serikat atas dukungan terhadap upaya Indonesia di BoP. “Kami menghargai pujian yang diberikan kepada Bapak Prabowo. Indonesia tetap berkomitmen pada solusi damai yang adil bagi rakyat Palestina dan Israel,” ujar Juru Bicara Istana Negara, Andi Widjaja.
Anggota DPR RI, Puan Maharani (PDIP), menanggapi dengan hati-hati, menyatakan, “Kami menyambut baik dukungan internasional, namun tetap mengedepankan kedaulatan dan prinsip non‑intervensi dalam setiap proses perdamaian.”
Sementara itu, Ketua Fraksi Golkar di DPR, Airlangga Hartarto, menilai pujian Trump sebagai peluang diplomatik, “Kita dapat memanfaatkan momentum ini untuk meningkatkan peran Indonesia di arena internasional, khususnya dalam mediasi konflik di Timur Tengah.”
Implikasi Politik Internasional
Pujian Trump tidak hanya menjadi sorotan media domestik, melainkan juga mengundang komentar dari analis luar negeri. Dr. Emily Carter, pakar Hubungan Internasional di Georgetown University, menilai, “Penghargaan Trump kepada Prabowo mencerminkan upaya rezim baru di AS untuk memperbaiki hubungan dengan negara‑negara Asia Tenggara setelah masa kebijakan luar negeri yang relatif retraktif.”
Di sisi lain, Menteri Luar Negeri Israel, Eli Cohen, menyatakan apresiasi terhadap peran Indonesia, “Kami berharap Indonesia dapat menjadi jembatan yang menghubungkan kepentingan kedua belah pihak.”
Dalam sebuah tabel, berikut rangkuman pernyataan utama yang muncul selama KTT:
| Waktu | Pihak | Pernyataan |
|---|---|---|
| 09:30 WIB | Donald Trump | “Prabowo Subianto is a big, tough leader, respected by everybody.” |
| 10:15 WIB | Prabowo Subianto | “Indonesia siap memfasilitasi dialog dua negara, dengan menekankan solusi damai dan keadilan bagi Palestina.” |
| 11:00 WIB | Retno Marsudi | “Kami menghargai dukungan internasional dan akan terus berperan aktif dalam proses perdamaian.” |
Analisis dan Perspektif Pakar
Para pengamat politik Indonesia menilai pujian Trump sebagai sinyal perubahan sikap Washington terhadap kawasan Asia‑Pasifik. Prof. Bambang Susantono dari Universitas Indonesia menulis dalam kolomnya di Kompas.com, “Jika Trump terus menyoroti pemimpin-pemimpin Asia yang kuat, maka Indonesia berpeluang memperkuat posisi tawar dalam diplomasi multilateral.”
Namun, ada pula skeptisisme. Analis senior, Rini Setiawati dari Lembaga Kajian Strategis, memperingatkan, “Pujian ini belum tentu berujung pada kebijakan konkret. Amerika Serikat masih harus menyeimbangkan kepentingan geopolitik di Timur Tengah.”
Di tengah dinamika tersebut, Prabowo kembali menegaskan komitmen Indonesia untuk mempromosikan solusi dua negara, mengingat bahwa Indonesia adalah negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia. “Kami percaya bahwa perdamaian yang berkelanjutan hanya dapat tercapai bila ada pengakuan atas hak-hak historis kedua belah pihak,” ujarnya dalam pidato penutup KTT.
Acara ditutup pada pukul 16.00 WIB dengan penandatanganan bersama antara BoP dan Kementerian Luar Negeri Indonesia mengenai “Kerangka Kerja Kolaboratif untuk Penyaluran Bantuan Kemanusiaan ke Gaza”. Dokumen tersebut diharapkan menjadi dasar operasional bagi negara‑negara anggota BoP selama 12 bulan ke depan.
Seluruh proses KTT Board of Peace ini menjadi sorotan internasional, menandai peran Indonesia yang semakin menonjol dalam diplomasi perdamaian di kawasan Timur Tengah.
