Ekonomi & Bisnis

Berawal dari Gagasan pada 2007, Dwitania Handicraft Tumbuh dari Anyaman hingga Menembus Pasar Luar Daerah

Sebuah gagasan yang lahir dari keinginan untuk menghadirkan sesuatu yang berbeda, perlahan berubah menjadi aktivitas ekonomi kreatif yang melibatkan masyarakat dan menjangkau pasar di luar Kabupaten Bungo,

A

Angga Saputra

Berawal dari Gagasan pada 2007, Dwitania Handicraft Tumbuh dari Anyaman hingga Menembus Pasar Luar Daerah
Berawal dari Gagasan pada 2007, Dwitania Handicraft Tumbuh dari Anyaman hingga Menembus Pasar Luar Daerah

BUNGO, NUSADAILY.ID – Sebuah gagasan yang lahir dari keinginan untuk menghadirkan sesuatu yang berbeda, perlahan berubah menjadi aktivitas ekonomi kreatif yang melibatkan masyarakat dan menjangkau pasar di luar Kabupaten Bungo, Kamis (01/10/2026).

Gagasan itu bermula pada 2007, ketika pengelola Dwitania Handicraft, yang akrab disapa Ibu Dwi, bersiap mendampingi suaminya yang mendapat tugas sebagai camat. Saat itu, ia ingin memberikan kontribusi yang berbeda di lingkungan pemerintahan kecamatan yang akan menjadi bagian dari kesehariannya.

Dari situlah muncul ide untuk memperkenalkan kerajinan tangan yang belum banyak dikembangkan di wilayah tersebut.

"Saya akan memberikan kerajinan yang memang tidak ada di kecamatan itu. Pokoknya kasih yang terbaik, beda dari yang lainnya," tutur Ibu Dwi dalam wawancara.

Gagasan tersebut kemudian mulai diwujudkan melalui berbagai produk kerajinan. Pada 2009, kegiatan itu mulai berjalan dan berkembang. Produk yang semula diperkenalkan melalui berbagai kegiatan dan pameran perlahan menemukan pembelinya.

Pemasaran tidak berhenti di ruang-ruang pameran. Produk mulai dititipkan di sejumlah swalayan dan dipasarkan ke luar daerah, termasuk Jambi. Respons pasar yang cukup baik kemudian mendorong pengelola untuk mengembangkan usaha secara lebih serius.

Dari kegiatan produksi, Dwitania Handicraft kemudian bergerak ke bidang pelatihan keterampilan masyarakat.

Pengelolanya menyebut, pihaknya pernah bekerja sama dengan sejumlah lembaga pelatihan, di antaranya Balai Latihan Kerja (BLK) dan Sanggar Kegiatan Belajar (SKB). Lembaga yang dikelolanya juga telah memiliki perizinan sebagai Lembaga Kursus dan Pelatihan (LKP).

Belajar Menganyam hingga ke Garut

Perjalanan Dwitania Handicraft kemudian memasuki tahap baru ketika pengelolanya mendapat kesempatan mengikuti pelatihan kerajinan di Garut, Jawa Barat.

Di sana, ia mempelajari teknik menganyam menggunakan lidi. Pelatihan yang berlangsung sekitar satu pekan itu tidak hanya menghasilkan keterampilan baru, tetapi juga sertifikat yang kemudian menjadi salah satu bekal dalam mengembangkan produk anyaman di Bungo.

Sepulang dari pelatihan, teknik tersebut terus dikembangkan. Anyaman tidak lagi sekadar menjadi keterampilan tangan, tetapi mulai diolah menjadi berbagai produk yang memiliki nilai guna sekaligus nilai jual.

Tas menjadi salah satu produk yang dikembangkan. Namun, produksinya kemudian meluas ke berbagai bentuk lain, seperti piring berbahan lidi sawit, beragam produk anyaman, penutup gelas, hingga gantungan kunci yang dipadukan dengan kain batik.

Salah satu bahan yang mendapat perhatian adalah lidi sawit. Bahan yang relatif mudah ditemukan itu diolah menjadi produk kerajinan yang memiliki nilai ekonomi.

Bagi Dwitania Handicraft, bahan lokal bukan sekadar bahan baku. Ia menjadi bagian dari upaya menemukan karakter produk.

Pengembangan desain dilakukan dengan memadukan anyaman dengan bahan lain, termasuk batik dari Provinsi Jambi. Ke depan, pengelola bahkan berencana mengeksplorasi kombinasi anyaman dengan bahan kulit untuk menghasilkan produk dengan tampilan yang lebih estetik.

Tidak Ada Dua Anyaman yang Benar-Benar Sama

Ada satu hal yang menjadi karakter dari produk kerajinan tangan; tidak semuanya harus terlihat identik.

Produk Dwitania Handicraft dibuat secara manual sehingga pola, bentuk, dan hasil akhir sebuah anyaman dapat memiliki perbedaan dengan produk lainnya, meskipun menggunakan model yang sama.

Perbedaan itu justru menjadi bagian dari karakter kerajinan.

Waktu pengerjaan bergantung pada jenis dan tingkat kerumitan produk. Untuk produk tertentu, seorang pengrajin dapat menyelesaikan beberapa unit dalam satu hari. Sementara produk dengan tingkat kesulitan lebih tinggi membutuhkan waktu pengerjaan yang lebih panjang.

Begitu pula dengan harga. Nilainya disesuaikan dengan jenis produk, kualitas bahan, tingkat kerumitan pengerjaan, serta kombinasi material yang digunakan.

Di tangan pengrajin, bahan yang sederhana kemudian berubah menjadi benda yang memiliki fungsi, bentuk, sekaligus cerita tentang keterampilan pembuatnya.

Dari Bungo, Pesanan Menyeberang Pulau

Perubahan terbesar dalam pemasaran datang ketika teknologi digital mulai membuka pintu yang sebelumnya sulit dijangkau.

Jika sebelumnya produk diperkenalkan melalui pameran, kegiatan masyarakat, dan penitipan di swalayan, kini media sosial dan platform perdagangan elektronik ikut menjadi ruang pemasaran Dwitania Handicraft.

Pasarnya pun tidak lagi terbatas pada Kabupaten Bungo.

Produk telah dikirim ke sejumlah daerah, di antaranya Bengkulu dan Lampung. Bahkan, pengelola menyebut terdapat pesanan dalam jumlah besar dari luar Pulau Sumatra.

Dalam wawancara, ia menyebut terdapat pesanan sekitar 300 tas yang sedang dalam proses produksi. Selain itu, terdapat pula pesanan hingga 600 tas yang harus diselesaikan.

Angka-angka tersebut menunjukkan bagaimana sebuah produk kerajinan yang dibuat di daerah dapat menemukan konsumen yang jauh dari tempat produksinya ketika dipertemukan dengan teknologi digital.

"Media sosial inilah makanya bisa menjangkau orang, jadi orang tahu," ujarnya.

Bagi pengrajin, media sosial bukan sekadar tempat memajang produk. Ia telah menjadi etalase yang memungkinkan produk lokal bertemu dengan pasar yang sebelumnya tidak terlihat.

Bukan Takut Bersaing, tetapi Ingin Pengrajin Bertambah

Di tengah perkembangan Dwitania Handicraft, Ibu Dwi justru berharap semakin banyak masyarakat Bungo yang terjun ke dunia kerajinan tangan.

Bertambahnya pengrajin, menurutnya, bukan sesuatu yang perlu dikhawatirkan. Sebaliknya, semakin banyak pelaku justru dapat menciptakan persaingan yang sehat dan mendorong lahirnya lebih banyak gagasan.

Setiap pengrajin dapat memiliki desain, teknik, dan karakter produk masing-masing.

"Harapan saya, kerajinan ini bisa berkembang, bisa bertambah para pengrajin. Jangan hanya satu, supaya nanti kita bisa bersaing bagus, bersaing positif untuk menaikkan kerajinan tangan yang ada di Kabupaten Bungo," katanya.

Pandangan itu sekaligus menunjukkan bagaimana sebuah usaha kerajinan tidak selalu harus berdiri sebagai bisnis yang bersaing sendirian. Bagi Ibu Dwi, tumbuhnya lebih banyak pengrajin justru dapat memperbesar ekosistem kerajinan tangan di Bungo.

Semakin banyak tangan yang bekerja, semakin banyak pula kemungkinan desain dan inovasi yang lahir.

Dwitania Handicraft sendiri tetap mempertahankan nama yang telah digunakan sejak awal pengembangan usaha. Di saat yang sama, inovasi terus dilakukan melalui eksplorasi bahan, desain, teknik produksi, serta pemasaran.

Perjalanannya bermula dari sebuah gagasan sederhana pada 2007 dan mulai berjalan pada 2009. Dari sana, anyaman berkembang menjadi produk ekonomi kreatif yang tidak lagi hanya dikenal di lingkungan sekitar, tetapi telah dikirim ke berbagai daerah.

Pada akhirnya, kisah Dwitania Handicraft bukan semata tentang bagaimana lidi, batik, atau bahan sederhana lainnya dianyam menjadi sebuah produk.

Ia juga tentang bagaimana keterampilan yang dikerjakan dengan tangan dapat menemukan pasar melalui teknologi, bagaimana usaha lokal dapat tumbuh bersama masyarakat, dan bagaimana sebuah gagasan kecil di daerah dapat perlahan menjangkau tempat-tempat yang jauh dari Bungo.

Redaksi nusadaily.id/*

Bagikan Artikel

Artikel Terkait