BUNGO, NUSADAILY.ID – Kabupaten Bungo tidak hanya sedang membangun dirinya sebagai wilayah distribusi. Di tengah geliat perdagangan dan arus barang yang menjadikan daerah ini sebagai salah satu simpul pergerakan ekonomi, muncul pertanyaan lain: bagaimana menjadikan manusia dan kreativitas sebagai kekuatan ekonomi baru?
Pertanyaan itu mengemuka dalam pertemuan Dewan Pimpinan Wilayah Gerakan Ekonomi Kreatif Nasional (GEKRAFS) Provinsi Jambi bersama DPC GEKRAFS Kabupaten Bungo di Cafe Kubuku, Kamis malam (3/9/2026).
Pertemuan yang dimulai sekitar pukul 20.00 WIB tersebut berlangsung dalam suasana santai, tetapi membawa agenda yang cukup serius: memperkenalkan GEKRAFS sekaligus membuka ruang bagi masyarakat, pelaku usaha, dan mereka yang memiliki potensi di bidang ekonomi kreatif untuk terlibat dalam ekosistem yang sedang dibangun.
Sekitar 50 peserta hadir. Di antara mereka terdapat Ketua DPW GEKRAFS Provinsi Jambi Diza Hazra Aljosha bersama jajaran pengurus, Ketua DPC GEKRAFS Kabupaten Bungo M. Gibran Latif Bahar beserta pengurus, serta Dewan Pembina GEKRAFS Kabupaten Sarolangun Gerry Trisatwika.
Pembahasan tidak berhenti pada pengenalan organisasi. Visi, misi, program kerja serta agenda GEKRAFS dalam waktu dekat menjadi bagian dari diskusi, termasuk bagaimana DPW GEKRAFS Jambi dan DPC GEKRAFS Bungo dapat membangun ekosistem ekonomi kreatif yang lebih terukur.
Bungo dan peluang ekonomi kreatif
Gibran mengatakan keberadaan GEKRAFS memiliki relevansi dengan arah pembangunan ekonomi Bungo yang tengah didorong sebagai kota distribusi.
Menurutnya, posisi tersebut membuat Bungo memiliki peluang untuk tidak hanya menjadi tempat lalu lintas barang, tetapi juga ruang tumbuh bagi usaha dan kreativitas masyarakat.
“Kota distribusi tidak cukup hanya berbicara tentang pergerakan barang. Kita juga harus memikirkan bagaimana masyarakat Bungo mampu menciptakan nilai dari potensi yang mereka miliki,” demikian gagasan yang mengemuka dalam pertemuan tersebut.
Ekonomi kreatif, dalam konteks itu, menawarkan jalur yang berbeda. Jika ekonomi konvensional banyak bertumpu pada modal dan sumber daya alam, ekonomi kreatif menjadikan ide, pengetahuan, keterampilan, budaya dan kreativitas manusia sebagai modal utamanya.
Diza menekankan pentingnya membangun ekosistem tersebut secara nyata.
Menurut dia, ekonomi kreatif tidak akan berkembang hanya dengan mengandalkan kreativitas individu. Ia membutuhkan lingkungan yang memungkinkan pelaku kreatif bertumbuh, memperoleh akses, membangun jaringan, memperkuat manajemen, hingga menemukan pasar.
“Yang kita berdayakan adalah sumber daya manusia. Inilah yang membedakan ekonomi kreatif dengan ekonomi yang bertumpu terutama pada sumber daya alam,” ujar Diza.
Dari kreativitas menuju pasar
Salah satu hal yang diperkenalkan dalam pertemuan itu adalah platform digital resmi GEKRAFS.
Platform tersebut tidak sekadar berfungsi sebagai ruang informasi organisasi, tetapi diarahkan menjadi infrastruktur digital untuk mendata, menampilkan, menghubungkan, dan mengembangkan pelaku ekonomi kreatif.
Melalui platform tersebut, pelaku ekonomi kreatif dapat membangun profil, menampilkan portofolio, memperkenalkan produk atau jasa, serta membuka peluang terhubung dengan calon mitra maupun pasar.
Bagi Bungo, keberadaan platform semacam itu dapat menjadi pintu masuk untuk memetakan siapa saja pelaku ekonomi kreatif yang selama ini bergerak secara mandiri dan tersebar di berbagai bidang.
Sebab, tantangan ekonomi kreatif tidak selalu terletak pada ketiadaan kreativitas. Sering kali persoalannya justru berada pada kemampuan mengorganisasikan kreativitas tersebut menjadi usaha yang berkelanjutan.
Kreatif saja tidak cukup
Persoalan tersebut kemudian dipertegas Gerry Trisatwika.
Dewan Pembina GEKRAFS Kabupaten Sarolangun itu mengingatkan bahwa pelaku ekonomi kreatif tidak boleh berhenti pada kemampuan menghasilkan karya.
Kreativitas perlu berjalan beriringan dengan kemampuan mengelola usaha.
Menurutnya, masih banyak pelaku usaha yang kuat dalam menghasilkan produk atau gagasan kreatif, tetapi belum sepenuhnya membangun fondasi akuntansi, administrasi, perencanaan keuangan dan manajemen usaha.
Padahal, ketika kreativitas telah berubah menjadi aktivitas ekonomi, kemampuan mengelolanya menjadi sama pentingnya dengan kemampuan menciptakan produk.
Dengan kata lain, produk yang bagus belum otomatis menjadi bisnis yang sehat.
Pelaku usaha membutuhkan pencatatan keuangan, perhitungan biaya produksi, strategi pemasaran, pengelolaan modal, pembagian tugas serta perencanaan pertumbuhan usaha.
Di titik itulah GEKRAFS diharapkan tidak hanya menjadi ruang berkumpul bagi orang-orang kreatif, tetapi juga menjadi bagian dari ekosistem yang membantu kreativitas menemukan bentuk ekonominya.
Pertemuan di Bungo tersebut kemudian ditutup dengan penampilan Rigo Star, seniman daerah Bungo, yang membawakan musik bersama band dengan lagu-lagu dan lirik jenaka.
Suasana menjadi lebih ringan. Namun pesan yang dibawa pertemuan itu cukup serius: jika Bungo ingin menjadi pusat distribusi, kota itu juga membutuhkan manusia-manusia kreatif yang mampu menciptakan nilai, bukan hanya mengalirkan barang.
Redaksi nusadaily.id/*
