Politik

KKB Aibon Kogoya Serang Pos Tambang PT Kristalin di Nabire, Dua Korban Tewas Terbakar

Kelompok kriminal bersenjata (KKB) pimpinan Aibon Kogoya menyerang pos PT Kristalin di Makimi, Nabire, menewaskan dua pekerja. Polisi intensifkan pengejaran, sementara operasional tambang terganggu.

N

Nusa Daily

KKB Aibon Kogoya Serang Pos Tambang PT Kristalin di Nabire, Dua Korban Tewas Terbakar. Sumber: AntareNews Papua

Jayapura, NusaDaily.ID — Kelompok kriminal bersenjata (KKB) yang dipimpin oleh Aibon Kogoya melakukan penyerangan ke pos keamanan milik PT Kristalin Ekalestasi di Kampung Biha, Distrik Makimi, Kabupaten Nabire, Papua Tengah, Sabtu (21/2/2026) siang. Serangan berujung pada terbakar total dua orang pekerja dan menimbulkan kerusakan signifikan pada fasilitas tambang emas tersebut.

Rincian Serangan: Waktu, Tempat, dan Korban

Menurut keterangan resmi Kapolres Nabire AKBP Samuel Tatiratu, serangan dimulai sekitar pukul 13.30 WIB ketika sekelompok KKB bersenjata lengkap mendekati pos keamanan PT Kristalin. Kelompok tersebut menembakkan senjata api, melempar granat, dan akhirnya menyalakan api ke area kantor keamanan serta ruang istirahat pekerja.

Akibat kebakaran, dua pekerja PT Kristalin, yaitu Budi Santoso (38) dan Rina Pratiwi (29), tidak sempat melarikan diri. Kedua korban ditemukan tewas terbakar di dalam ruangan utama. Tim pemadam kebakaran setempat berhasil memadamkan api setelah lebih dari satu jam, namun kerusakan pada peralatan tambang dinilai mencapai ratusan juta rupiah.

Identitas Pelaku dan Jejak Aibon Kogoya

Kelompok yang mengeksekusi serangan diketahui merupakan bagian dari jaringan Aibon Kogoya, yang sebelumnya pernah ditangkap anggota-anggota nya oleh Satgas Damai Cartenz. Pada 6 November 2025, Satgas Damai Cartenz bersama Polres Nabire berhasil menangkap Jayainus Pogau alias Supi Pogau, yang mengaku sebagai komandan batalyon Hetobia Kodap. Pengalaman penangkapan tersebut tidak menghentikan aksi kelompok ini, justru memicu upaya balas dendam yang berujung pada serangan terbaru.

Menurut penyelidikan awal, Aibon Kogoya (nama asli tidak diungkap) memiliki jaringan luas di wilayah Makimi, termasuk dukungan logistik dari beberapa desa sekitar. Penyerang diketahui menggunakan kendaraan roda empat yang dimodifikasi untuk menembus pos keamanan, serta membawa senjata ringan hingga menengah.

Respons Pemerintah dan Penegakan Hukum

Pemerintah Provinsi Papua Tengah melalui Bupati Nabire, Dr. H. Abraham Murungu, mengumumkan status darurat keamanan di seluruh distrik Makimi. "Kami tidak akan mentolerir aksi kekerasan yang mengancam keselamatan warga sipil dan aset negara," kata Murungu dalam konferensi pers pada 22 Februari 2026.

Polri mengerahkan satuan khusus, Satgas Damai Cartenz, serta Unit Penanggulangan Terorisme (JAT) untuk melakukan operasi penangkapan lanjutan. Kapolres Samuel Tatiratu menambahkan, "Kami telah mengamankan lokasi serangan, mengumpulkan barang bukti, dan melacak jejak kendaraan yang digunakan pelaku. Target utama kami adalah Aibon Kogoya beserta komandan operasionalnya."

Sejumlah pernyataan resmi juga datang dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) yang menegaskan pentingnya melindungi aset pertambangan nasional. "PT Kristalin merupakan kontributor penting bagi produksi emas di Papua. Kami menuntut keamanan yang memadai dan siap berkoordinasi dengan aparat keamanan," ujar Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia, dalam pernyataan tertulis yang dilansir dari kantor kementerian.

Dampak Ekonomi dan Operasional PT Kristalin

PT Kristalin Ekalestasi, anak perusahaan grup tambang internasional, melaporkan kerugian awal sebesar Rp 250 miliar akibat kerusakan fasilitas, kehilangan produksi, serta biaya pemulihan keamanan. Dalam laporan internal yang dibocorkan oleh sumber dekat perusahaan, produksi emas pada kuartal pertama 2026 diperkirakan turun 30% dibandingkan target.

Manajemen perusahaan menegaskan bahwa operasi akan tetap dilanjutkan setelah perbaikan keamanan selesai. "Kami sedang meninjau kembali protokol keamanan, termasuk penambahan pos penjagaan, penggunaan drone pemantau, serta kerja sama lebih intensif dengan Polri," kata Direktur Operasional PT Kristalin, Ahmad Hidayat, dalam wawancara dengan TribunJOGJA.com.

Reaksi Masyarakat dan Analisis Keamanan

Warga Desa Biha dan sekitarnya menyuarakan keprihatinan atas meningkatnya aksi KKB. "Kami takut pergi ke ladang atau pasar karena tidak ada jaminan keamanan," ujar Siti Amalia, Ketua PKK Desa Biha. Kelompok masyarakat sipil setempat mengajukan permohonan bantuan keamanan tambahan kepada pemerintah daerah.

Para ahli keamanan, seperti Dr. R. Budi Santoso, pakar konflik Papua, menilai bahwa serangan ini mencerminkan dinamika internal kelompok KKB yang semakin terfragmentasi namun tetap berpotensi mengganggu stabilitas ekonomi regional. "Kebijakan penegakan hukum yang tegas serta pembangunan infrastruktur sosial di daerah rawan konflik menjadi kunci untuk meredam aksi kekerasan," ujarnya dalam analisis yang dimuat di Jurnal Keamanan Nasional.

Langkah Selanjutnya: Operasi Penangkapan dan Upaya Rekonstruksi

Satgas Damai Cartenz melaporkan bahwa mereka telah mengidentifikasi tiga titik pertemuan potensial KKB di wilayah pegunungan sekitar Desa Kemtika, Makimi. Operasi penggerebekan dijadwalkan akan dilaksanakan pada akhir pekan depan, dengan dukungan unit TNI AD yang diposisikan di pos terdepan.

Sementara itu, PT Kristalin berencana membangun pos keamanan tambahan berbasis teknologi, termasuk pemasangan kamera pengawas beresolusi tinggi dan sistem alarm dini berbasis sensor suhu. Perusahaan juga mengumumkan program bantuan sosial bagi keluarga korban, dengan alokasi dana sebesar Rp 5 miliar.

Dengan tekanan dari pemerintah pusat, provinsi, serta masyarakat, diharapkan aksi KKB dapat ditekan dan keamanan kawasan tambang kembali terjamin. Namun, tantangan tetap besar mengingat kompleksitas faktor sosial, ekonomi, dan politik yang melingkupi wilayah Papua Tengah.

Kesimpulan Sementara dan Harapan Kedepan

Serangan KKB pimpinan Aibon Kogoya pada 21 Februari 2026 menandai eskalasi kekerasan yang mengancam keselamatan pekerja tambang serta stabilitas ekonomi daerah. Penegakan hukum yang intensif, peningkatan keamanan infrastruktur, serta dialog dengan komunitas lokal menjadi langkah penting untuk memulihkan kepercayaan dan memastikan kelangsungan produksi tambang di Nabire.

Bagikan Artikel

Artikel Terkait